MENYAYANGI SEMUANYA TANPA DISKRIMINASI

Allah swt telah menunjukkan kepada hamba-hambanya dua sifat yang agung yang terkait dengan sifat kasih dan sayang-Nya, yaitu al-Rahman dan al-Rahim. Kata “al-Rahman,” yang diartikan dalam Bahasa Indonesia dengan “Maha Pengasih” dan “al-Rahiim,” berarti “Yang Maha Penyayang.”

Ulama tafsir membedakan pengertian dan konteks penggunaan kedua kata itu. Kata “al-Rahman” adalah konteks kasih sayang Allah terhadap semua makhluk-Nya di dunia ini tanpa batas, kepada seluruh makhluk-Nya. Makhluk Allah di atas bumi ini terdiri atas makhluk manusia, jin, hewan, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati. Kasih sayang Allah dengan sifat “al-Rahman”-Nya itu mencakup seluruh makhluk-Nya itu.

Kasih Allah terhadap makhluk manusia tidak terbatas, tanpa diskriminasi. Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang beriman, taat, patuh, dan saleh (“ibaadullaah), sebagaimana Dia menyayangi hamba-hamba-Nya yang kafir, ingkar, dan maksiat (“abiidullah). Allah menyayangi manusia tanpa Allah melihat sejauhmana ketaataan mereka kepada-Nya.

Manusia yang beriman disayangi oleh Allah, yang kurang taat disayangi Allah, yang kafir disayangi oleh Allah, dan bahkan manusia yang menyekutukan-Nya pun disayangi oleh Allah. Tanpa curahan sayang Allah, satu pun manusia tidak akan bisa hidup. Allah tidak pernah diskriminasi dalam memberikan kasih-Nya kepada makhluk-Nya.

Sifat “al-Rahiim” adalah sifat sayang Allah yang khusus diberikan oleh Allah kepada manusia yang beriman dan taat kepada-Nya di akhirat kelak. Karena sayang-Nya Allah, orang-orang yang beriman dan beramal saleh dimasukkan ke dalam surga. Sayangnya Allah di akhirat nanti merupakan penghargaan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh atas segala amal baik yang telah mereka lakukan di dunia ini.

Kita sebagai makhluk Allah yang telah mendapatkan rahmat-Nya seharusnya meneladani sifat-sifat Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu, tidak terbatas pada orang-orang tertentu, tetapi pada semua manusia dan makhluk Allah yang lain. Tentulah kasih dan sayang yang kita berikan kepada sesama dan kepada makhluk-makhluk Allah yang lain itu sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita.

Sayang kita tidak hanya terbatas kepada orang-orang yang dekat dengan kita, tetapi orang-orang yang jauh dari kita harus disayangi. Sayang kita tidak hanya kepada isteri dan anak-anak kita, tetapi juga kedua orang tua kita. Sayang kita tidak hanya kepada kedua orang tua kita, tetapi juga kepada saudara-saudara kita. Sayang kita tidak hanya kepada saudara-saudara kita, tetapi juga kepada sepupu kita, keponakan kita, kepada mahasiswa kita, dan bahkan kepada orang yang tidak kita kenal sekali pun.

Marilah kita lihat pesan Rasulullah saw, dalam sebuah sahih yang diriwayatkan oleh al-Yirmidzi dari Abdullah Ibn ‘Amr. Hadisnya berbunyi:

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ. اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ. الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ. فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللهُ.

“Manusia-manusia pengasih senantiasa disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Kasihanilah dan sayangilah oleh kalian semua (siapa dan apa) yang ada di bumi agar semua yang ada di langit selalu menyayangi kalian. Rahim (kasih sayang) adalah tali yang bersumber dari Allah Yang Maha Pengasih. Siapa yang selalu menyambung tali itu, maka Allah selalu menyambung kasih sayang itu dan siapa yang memutuskan tali itu, maka Allah juga memutusakn kasih sayang itu. (HR. al-Tirmidzi).

Perintah Rasulullah untuk menyayangi di dalam hadisnya di atas mencakup seluruh makhluk Allah swt. Hal ini terlihat dari kata من في الأرض (man) yang digunakan di dalam hadis itu. من di dalam hadis di atas mencakup makhluk hidup (manusia, jin, hewan, dan tumbuh-tumbuhan) dan makhluk jamadi (benda mati). من في السماء di dalam hadis di atas mencakup Allah dan para malaikat-Nya.

Ini menunjukkan bahwa menyayangi yang dilakukan manusia dalam kehidupannya itu harus lintas batas, tidak ada diskriminasi di antara manusia. Sayangilah agar engkau disayangi, menyayangi dan disayangi. Alangkah indahnya kehidupan ini, jika semua manusia saling menyayangi. Yang satu menyayangi yang lain, yang lain menyayangi yang lain, dan dengan begitu lahirlah sifat saling menyayangi.

Semoga kita semua dapat mewujudkan dan mempertahankan sikap saling menyayangi di anatar kita. Ini adalah tali untuk memperkokoh silaturrahim di antara kita. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. Jakarta-Matraman, Sabtu pagi, tanggal 6 Agustus 2016.