PENGALAMAN INSPIRATIF DALAM PENDIDIKAN YANG HUMANISTIK (Bagian 1) Kakekku Adalah Guru Ngajiku

Sejak kawin, hingga saya duduk di kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah, ayah dan ibuku tinggal bersama dengan kakek dan nenekku di rumah kakekku di Desa Kanca. Desa ini juga tempat kelahiranku. Desa ini sangat terpencil, kira-kira terletak 60 km dari kota Bima. Desa ini dikelilingi gunung-gunung yang cukup tinggi dengan hutan yang lebat. Di sebelah utara desa itu, tidak ada lagi desa, kecuali gunung-gunung yang memiliki hutan yang sangat lebat.

Kakekku, menurut ceritanya, naik haji pada saat beliau masih muda (bujangan) dan tinggal beberapa tahun lamanya di Makkah. Di sana beliau pernah belajar dengan beberapa syekh, terutama syekh yang berasal dari Bima. Saat perjalanan pulang, dengan naik kapal ketika itu, pernah singgah di Asahan, Sumatera dan tinggal di sana beberapa bulan lamanya untuk menunggu kapal yang mengantarkan beliau hingga di Bima. Karena beliau pernah beguru dengan beberapa guru di Makkah, tidak mengherankan kalau beliau memiliki pengetahuan agama yang cukup dan mampu membaca kitab, terutama buku-buku tentang doa dan berzikir.

Setelah berada di Kanca, beliau menjadi seorang alim di desa itu. Kakekku menjadi tokoh agama dan tokoh masyarakat di desa itu. Beliau menjadi imam masjid dan menjadi Guru Ngaji. Beliau menjadi imam ratib (tetap) di majid itu. Suaranya lumayan bagus. Tajiwdnya sangat baik. Makhraj hurufnya ketika membaca ayat sangat tepat. Beliaulah yang selalu memimpin setiap ada hajatan di desa itu dan di desa sekitarnya.

Di samping sebagai imam masjid, beliau juga menjagi Guru Ngaji bagi para pemuda dan pemudi di desa itu. Pengajian Qur’an itu dilakukan pada malam hari dan waktu Subuh. Para murid ngaji itu mengingap di rumah itu. Para murid perempuan menginap di kamar dalam dan murid-murid laki-laki menginap di kamar luar.

Bagi saya, beliau adalah orang yang sangat dekat dengan saya sejak saya kecil (bayi) hingga beliau meninggal dunia (1974). Beliau juga adalah orang yang sangat berjasa dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an. Saya mendapat pengajaran membaca Al-Qur’an dari beliau usai shalat Magrib dan usai salat Subuh. Dua waktu itu sangat efektif untuk mendapatkan pengajaran dari beliau.

Yang saya ingat, beliau tidak pernah mengajarkan saya belajar huruf-huruf hijaiyah dengan buku tertentu. Beliau langsung mengajarkan huruf-huruf itu melalu bacaan بسم الله الرحمن الرحيم (Bismillaah-i al-Rahmaan-i al-Rahiim-i). Inilah ayat pertama yang diajarkan kepada saya. Dari ayat ini pula beliau mengajarkan saya bagaimana membaca huruf-huruf itu dengan baik dan benar. Mengajarkan bagaimana makhraj setiap huruf yang ada di Bismillah itu.

Kalau bacaan Bismillah saya belum bagus, makhraj setiap huruf belum bagus, maka saya tidak dibolehkan pindah ayat atau bacaan. Bismillah saja harus diulang beberapa kali hingga bacaan itu bagus, baik, dan benar. Setelah itu, baru boleg pindah.

Setelah mantap bacaan Bismillah, baru menginjak atau pindah ke ayat-ayat lainAl-Fatihah. Bisa dibayangkan, kalau setiap ayat harus diulang beberapa kali hingga bacaan saya benar baik dan benar. Setelah bacaan saya benar dan baik, baru pindah ke ayat-ayat yang lain. Alhamdulillah, akhirnya saya dapat membaca seluruh ayat di dalam Al-Fatihah itu dengan baik.

Lalu saya diajarkan membaca atau berpindah ke surah Al-Baqarah. Saya dituntun dan diajarkan oleh beliau bacaan dan makhraj yang bagus untuk setiap huruf di dalam ayat-ayat berikutnya.

Yang paling mengesankan saya dari pengajaran mengaji dari beliau adalah bahwa setiap kali akan membaca Al-Qur’an, ayat mana pun yang saya akan baca, saya diwajibkan untuk membaca terlebih dahulu surah Al-Fatihah secara lengkap mulai dari Bismillah hingga ayat terkahir. Tanpa itu, tidak boleh membaca Al-Qur’an. Itulah salah satu metode mengajarkan mengaji yang dilakukan oleh kakek saya.

Dari pengajaran dan cara mengajar beliau itulah yang membuat saya dapat membaca surah Al-fatihah itu dengan baik dan benar. Selama saya mendapatkan pengajaran dan pendidikan dari kakek saya, pendidikan dan pengajaran beliau sangat humanistik. Saya tidak pernah mendapat tekanan dan kekerasan dari beliau, termasuk kata-kata yang kotor dan keras, apalagi pukulan-pukulan. Beliau mengajak saya untuk belajar mengaji dengan ajakan yang menyenangkan.

Inilah sebahagian dari pendidikan yang humatistik yang saya alami dari pendidikan dan pengajaran mengaji oleh kakek saya. Pastila, pendidikan dan pengajaran beliau menjadi amal jariahnya. Karena pengajarannya itu, saya menjadi seperti ini. Semoga ada manfaatnya. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawaab.