PENGALAMAN INSPIRATIF DALAM PENDIDIKAN YANG HUMANISTIK (Bagian 4) Ibuku Adalah Guruku Dan Pelatihku

Ada sisi lain, yang juga menarik dari ajaran dan didikan ibuku di waktu kecil yang menjadi modal dan bekal bagi saya dan saudara-saudara saya. Ibuku tidak hanya memberi tuntunan dalam bentuk lisan, ucapan, dan memberikan ilmu kepada saya, tetapi juga memberikan modal yang sangat berharga. Kami dilatih untuk bekerja dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.

Sewaktu kecil, saya boleh dikatakan menjadi tulang punggung dari keluarga dan pemimpin dalam mengurus rumah tangga pada saat ibuku hamil besar dan beberapa bulan pascabersalinnya. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Kakakku, yang pertama diasuh dan dibesarkan oleh kakek dan nenek, dari pihak ayah. Sedang saya sebagai anak kedua adalah laki-laki. Demikian pula tiga adik saya yang berikutnya, semuanya laki-laki.

Saya dan adik-adik saya selalu dilatih untuk bekerja dan mandiri dengan melaksanakan tugas-tugas rumah tangga. Kami dilatih bagaimana cara menjemur padi sebelum ditumbuk. Kami dilatih dan diajar bagaimana cara kami menumbuk padi di alat tumbuk yang terbaik dari kayu. Ibu membagikan kepada kami masing-masing satu ikat padi untuk ditumbuk hingga selesai dan beras siap untuk dimasak. Kami diajar bagaimana cara menyisihkan antara beras yang belum bersih, yang masih ada kulitnya dan beras yang sudah bersih kulitnya.

Tidak terbayangkan kalau pada saat ibu hamil besar, menjelang ibu melahirkan, dan beberapa bulan pascamelahirkan, saya dan adik-adik saya sibuk dengan beberapa pekerjaan rumah tangga. Kami tidak hanya bertugas menumbuk padi hingga bersih, tetapi juga yang menangani tugas di dapur, seperti memasak nasi, memasak air, dan tugas-tugas lainnya.

Untuk mendapatkan air, kami pun harus bekerja keras. Sebab di rumah kami tidak terdapat air bersih, karena airnya berwarbnna kuning, tidak layak untuk dikonsumsi. Untuk mendapatkan air itu kami harus mengambilnya di rumah tetangga, yang kira-kira jauhnya sekitar 100 meter dari rumah kami. Kami mengambil air-air itu dengan alat penampung air yang terbuat dari tanah. Kami menimba sendiri dengan kedalaman sekitar 20 meter. Lalu kami memikulnya hingga ke rumah kami. Saat itu kami hanya menggunakan celana, tidak menggunakan baju. Sebab, ketika kami memikul air, celana menjadi basah seluruhnya. Demikianlah yang kami lakukan setiap hari, pada pagi hari dan sore hari, pada saat ibu tidak sdapat melaksanakan tugas kesehariannya dalam urusan rumah tangga.

Saya dan adik saya itu yang mencuci segala pakaian kotor, yang dipakai ibu saat bersalin, dan kami pulalah yang mencuci semua pakaian adik bayi kami. Ketika itu belum ada alat pencucui pakaian seperti sekarang ini. Kami mencuci semua itu dengan cara manual dan di tempat yang jauh, yaitu kali kecil yang bersumber dari mata air yang ada di kebun saya. Jauhnya sekitar 400 hingga 500 meter dari rumah kediaman kami. Setiap hari kami melakukan pekerjaan itu dengan tekun dan sabar.

Ada banyak pekerjaan rumah tangga yang lain yang kami lakukan. Paad saat ibu mendapat halangan seperti itu semua pekerjaan rumah tangga sebagai pengganti ibu, kamilah yang melakukannya. Kami tidak pernah merasa malu dan merasa canggung dengan pekerjaan rumah tangga itu, karena memang kami tidak memiliki saudara perempuan tertian yang dapat menggantikan tugas ibu. Kami sudah terbiasa dengan pekerjaan itu. Hingga sekarang pun kami biasa melakukannya.

Kemandirian dalam bekerja itu telah berbekas dengan sangat dalam dalam ingatan kami dan sudah menjadi kebiasaan baik yang menjadi kami untuk bekerja secara mandiri tanpa mengharap bantuan orang lain selama kami bisa. Memang, kondisi yang membuat kami seperti itu dan kondisi itu pula yang membuat kami bisa. Tidak ada satu pekerjaan yang tidak bisa kita lakukan, kalau kita sudah terbiasa dengan pekerjaan itu.

Ajaran, didikan, dan latihanmu, wahai bu, begitu banyak terhadap kami. Kami tidak menjadi seperti ini kalau kalau bukan ajaran, didikan, dan latihan dari Engkau, serta doamu. Semoga jariahmu dari ilmu, didikan dan ajaranmu mendapatkan balasan yang berlipat ganda dan menjadi amal jariah bagi engkau. Semoga ada manfaatnya. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. Jakarta-Matraman, Kamis pagi, tanggal 18 Agustus 2016.