PEMIKIRAN BALÂGHAH AL-JAHIZH

Muhbib Abdul Wahab |
Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah |
Peminat Kajian Tokoh Bahasa Arab |

Al-Jahizh (159- 255 H/776-868 M)  merupakan tokoh penting dalam sejarah penelitian dan pengkajian sastra Arab, karena ia termasuk perintis dan pengembang ilmu balâghah yang karyanya banyak menarik perhatian para ulama. Nama lengkapnya adalah ‘Amr ibn Bahr ibn Mahbub al-Kinani al-Laitsi al-Bashri; panggilannya Abu Utsman. Ia dijuluki dan terkenal dengan sebutan alJâhizh karena kedua matanya melotot. Sebutan lainnya adalah al-hadaqi. Baik aljahizh maupun al-hadaqi menurut bahasa artinya bermata melotot. Tahun kelahirannya masih diperdepatkan; ada yang berpendapat bahwa ia lahir di Bashrah, Iraq pada 155 H; ada yang menyebut tahun 155 H; dan ada pula yang menyebut 160 H/776 M. Disepakati bahwa ia meninggal pada tahun 255 H (868 M.). Ayahnya adalah keturunan Arab; sementara, menurut suatu pendapat, ayahnya berdarah Afrika.

Meskipun tumbuh dan dibesarkan sebagai seorang yatim yang miskin, ia sangat menaruh perhatian besar terhadap ilmu-ilmu bahasa Arab. Ia belajar tidak hanya di berbagai masjid yang ada di kampung halamannya, melainkan juga berguru kepada para ulama di masanya dengan mendatangi mereka dari rumah ke rumah. Bahkan ia tergolong rajin pergi ke pasar sastra “al-Mibrad” di Bashrah untuk mendengarkan orasi-orasi dan syair-syair dari para sastrawan, dan giat juga “berkelana” ke berbagai tempat pedalaman Iraq untuk  “meneliti dan memverifikasi” penggunaan Arab. Tidak puas dengan menimba ilmu bahasa dan sastra di kampungnya, ia lalu merantau ke Baghdad, ibu kota Irak, untuk berguru bahasa kepada al-Ashmu’i (122-213 H), berguru nahwu kepada al-Akhfasy (w. 215 H), dan belajar ilmu kalâm (teologi Islam) dari al-Nazhzham (w. 221 H/835 M). Karena itu, ia termasuk seorang pengikut Mu’tazilah.

Di samping itu, ketika berada di Baghdad, ia juga sempat berdiskusi dan membaca karya-karya terjemahan dari bahasa Yunani melalui Salmawaih dan Hunain ibn Ishaq (808-873 M), penerjemah karya-karya filosof Yunani pada masa al-Ma’mun (786-833 M). Warisan pemikiran Persia pun ditelaahnya melalui Ibn al-Muqaffa‘ (724-759 M) dan Abu ‘Ubaidah Ma‘mar ibn al-Mutsanna. Di atas semua itu, ia memiliki antusiasme dan etos akademik yang tinggi dalam membaca, mengkaji, melakukan penelitian sosial-kebahasaan melalui pengamatan langsung, pergaulan dan penyelidikan terhadap perilaku sosial masyarakatnya.

Kuriositas al-Jahizh yang demikian besar itu membuatnya semakin antusias dalam mendalami bahasa dan sastra Arab dengan mengembara ke tempat lain. Sedemikian besarnya kuriositas itu, sehingga ia sering menyewa toko buku sebagai tempat tinggal untuk melahap semua buku yang ada di dalamnya. Tidak diketahui berapa lama ia menetap di Baghdad. Setelah berguru dari banyak ulama di Baghdad, ia kemudian melanjutkan pengembaraan intelektualnya menuju Damaskus,  Suriah dan Antokia, Turki tenggara. Di kedua kota tersebut ia juga banyak mendalami bahasa dan sastra Arab serta filsafat Yunani, dan berinteraksi dengan kebudayaan lokal yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani dan Romawi (Hellenistik). Karena itu, ia dikenal sebagai linguis, pemikir bahasa dan sastra Arab yang rasional, kritikus sastra, ahli logika, perintis ilmu nazham, dan filosof  yang berwawasan luas, bahkan oleh Fauzi ‘Atawi, dianggap sebagai “gudang pengetahuan” atau ensiklopedi hidup di masanya (dâirat ma’ârif ‘ashrihi).

Al-Jahizh termasuk tokoh penting yang berusia panjang, 96 tahun. Selama hidupnya, ia mengalami beberapa masa kekhalifahan Bani ‘Abbâsiyyah; ia lahir pada masa khalifah al-Mahdi (775-785 M), khalifah ketiga, tepatnya pada akhir abad kedua hingga pertengahan abad ketiga hijriyah. Abad ini oleh sejarawan dikenal sebagai “abad agung” (al-qarn al-‘azhîm), karena pada masa itu terjadi apa yang disebut dengan masa kodifikasi (‘ashr al-tadwîn) berbagai ilmu-ilmu tradisional Islam seperti: hadîts, ushûl al-fiqh, fiqh, tafsîr, ‘ilm al-kalâm, tashawwuf,  dan sebagainya. Sejak pertengahan abad kedua hijriyah itu dasar-dasar epistemologi ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu Islam pada umumnya mulai diletakkan, dirumuskan, dan dikembangkan. Ia juga mengalami puncak keemasan peradaban Islam, yaitu masa al-Ma’mun. Hingga masa khalifah al-Mutawakkil (821-861 M), ia masih produktif berkarya; sementara itu, pada masa pemerintahan al-Musta‘in Billah (833-842 M) dan al-Muntashir (861-862 M), ia mulai sering sakit, lalu lumpuh. Ia meninggal dalam kondisi yang agak tragis karena tertimpa oleh buku-buku yang jatuh dari raknya dan mengenai kepalanya. Meninggal dunia di perpustakaan pribadinya merupakan sebuah simbol intelektualisme yang tak pernah padam pada diri al-Jahizh hingga akhir hayatnya.

Al-Jahizh termasuk penulis prolifik dan sangat produktif. Ia mewarikan lebih dari 250 (ada yang menyebut 300) judul buku dan risalah, baik tebal maupun tipis. Hanya saja, tidak semua karya akademiknya sampai ke tangan kita, karena berbagai hal seperti rusak, dijarah, dan terdampak oleh bencana alam maupun sosial (perang). Di antara karyanya yang telah di-tahqîq (diedit) dan diterbitkan adalah:

      1. al-Bayân wa at-Tabyîn. Buku yang terdiri dari 3 jilid, pertama kali dicetak pada 1968 itu, ditulis untuk dipersembahkan kepada seorang menteri, al-Qadhi Ahmad, dengan tujuan memberikan pengajaran dasar-dasar menulis bagi para pemuda dan penulis pemula. Dalam buku ini diuraikan juga aspek balâghah, rahasia-rahasia bahasa (asrâr al-lughah), kedudukan ahli balâghah, syair, dan para orator. Ulasan dalam buku ini diperkuat dengan ayat-ayat al-Qur’an, hadits Nabi Saw, dan pendapat para ahli balâghah, baik dalam bentuk puisi maupun prosa (an-natsr).
      2. al-Bukhalâ, pertama kali dicetak pada 1969, menguraikan kritik sosial terhadap kondisi orang-orang bakhil yang hidup di Bashrah dan Khurrasan. Dalam buku ini juga dibahas mengenai argumen-argumen logis mengenai perdebatan mereka seputar: kekikiran, kedermawanan, dan kesukaan menerima tamu. Buku ini pernah dibedah dan diteliti oleh Maman Lesmana, dosen UI, yang kemudian dijadikan disertasi dan meraih gelar doktor di bidang bahasa dan sastra Arab di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
      3. al-Hayawân, terdiri dari dua jilid tebal (versi lain terdiri tujuh bagian), ditulis pada tahun 233 H., ketika ia berusia 75 tahun, dan diterbitkan pada 1968 dan 1982. Buku ini ditulis untuk dipersembahkan kepada salah seorang menteri al-Ma’mun, Ibn al-Zayyat. Karya yang bersifat ensiklopedis ini memuat pembahasan mengenai hewan, sejarah bangsa Arab, geografi, syair-syair langka, kedokteran, adaptasi dengan lingkungan, kecen-derungan filsafat dan kalâm (teologi Islam), agama dan aliran, aliran-aliran sastra dan bahasa, hingga cerita-cerita komedi. Buku ini memang dimaksudkan untuk memberi informasi sekaligus menghibur pembacanya. Di balik keseriusan intelektualnya, al-Jahizh tampaknya juga seorang komedian dan pelawak di masanya.

    Karya-karyanya yang lain mengenai berbagai bidang ilmu, antara lain, adalah: (1) al-‘Âmil wa al-Ma’mûl, (2) at-Tarbî` wa at-Tadwîr (1970), (3) al-Mahâsin wa al-Azdâd (1969), (4) al-Tâj fi Akhlâq al-Mulûk (1970), (5)  Kitâb al-Imâmah, (6) Kitâb Khalq al-Qur’ân, (7) Kitâb al-Radd ‘ala al-Yahûd, (8) Kitâb al-Radd ‘ala al-Nashârâ, (9) Kitâb al-Mawâli wa al-‘Arab, (10) Kitâb al-Qahthâniyyah wa al-‘Andâniyyah. Salah satu karya besarnya yang hilang adalah Nazhm al-Qur’ân,  sebuah karya penting mengenai keindahan dan keserasian ayat-ayat al-Qur’ân.

    Kontribusi pemikirannya yang paling menonjol adalah mengenai ‘ilm al-bayân (rhetoric), sebuah cabang ilmu balâghah yang mengkaji dan menganalisis teknik penyampaian suatu makna (pesan) dengan berbagai bentuk ungkapan, gaya bahasa, kreativitas yang indah dan kejelasan makna. Karena itu, di antara ruang lingkup pembahasan ilmu ini adalah tasybîh, tamtsîl, isti’ârah, haqîqah dan majâz. Kodifikasi ilmu ini memang mulai dirintis oleh Ma‘mar ibn al-Mutsanna (110-209 H) dalam karyanya, Majâz al-Qur’ân. Peran al-Jahizh dalam hal ini adalah meneruskan dan mengembangkan kajian al-bayân dengan memperjelas kerangka dasarnya melalui pembahasan mengenai al-fashâhah wa al-balâghah berikut kriterianya dan cara mengambil kesimpulan melalui dasar-dasar al-bayân, terutama untuk kepentingan adu argumentasi dan perdebatan (munâzharah) mengenai persoalan teologis yang saat itu cukup menarik dipersoalakan.

    Melalui karyanya, al-Bayân wa at-Tabyîn, ia menegaskan bahwa pada diri setiap manusia terdapat potensi alami dan kompetensi untuk mengekspresikan makna melalui berbagai ungkapan (al-bayân), dan pada saat yang sama, manusia juga berusaha untuk menjelaskan dan memahamkan pemikirannya kepada orang dengan sejelas-jelasnya (at-tabyîn). Kompetensi berbahasa, termasuk bahasa Arab, penting dikembangkan melalui latihan-latihan berbahasa secara teratur dan terus-menerus, seperti berorasi, berdebat, bersyair, menulis, dan lain sebagainya.

    Selain itu, al-Jahizh juga memformulasikan kedudukan, fungsi, syarat-syarat dan teknik retorika berikut memperkenalkan para orator dan contoh-contoh orasi (khuthbah) terkenal. Ia menilai kemampuan retorika (termasuk berdebat dan mengambil kesimpulan suatu persoalan) sangat penting, karena dapat mempengaruhi dan mempersuasi orang lain. Dalam karya monumentalnya tersebut, ia juga mereproduksi rasâ’il (surat-surat), washâyâ (pesan-pesan) dan kata-kata mutiara. Ia mulai menganalisis  persoalan syair (puisi) dan natsr (prosa) berikut kriteria-kriteria syair yang baik, dan menjelaskan kesulitan memadukan antara balâghah dalam bentuk syair dan balâghah dalam bentuk prosa. Dalam hal ini, ia menyajikan beberapa model balâghah yang dijumpai pada masanya, yaitu balâghah Mu‘tazilah, balâghah para penulis, para ahli ibadah, orang-orang zuhud, dan para ahli kisah. Tampaknya, kajian balaghah di masanya sangat dipengaruhi nuansa perdebatan akademik di kalangan para mutakallim (teolog) tentang firman Allah, termasuk kemukjizatannya. Dalam konteks ini, balâghah memberi kontribusi penting dalam menunjukkan I’jâz balâghî (kemukjizatan al-Qur’an dari segi keindahan dan kedalaman maknanya), sehingga dapat memberi solusi linguistik dan stilistik terhadap keindahan dan kemukjizatan al-Qur’an.

    Kontribusi pemikiran al-Jahizh lainnya terlihat pada usahanya mengintegrasikan logika dan retorika dengan menyelaraskan antara pemikiran, kata-kata, gaya bahasa dan makna. Karena itu, ia memandang bahwa suatu pemikiran yang bermakna terkadang disampaikan melalui puisi, prosa, orasi, dan terkadang diekspresikan melalui cerita dan komedi jenaka. Metode yang digunakan al-Jahizh dalam mengelaborasi pemikiran-pemikirannya bermuara pada satu hal, yaitu: penghormatan terhadap akal-rasional. Dalam hal ini, ia bersikap obyektif dalam membahas berbagai persoalan, dimulai dengan “sikap ragu” menuju kesimpulan yang meyakinkan, dikemas dengan gaya bahasa sastra yang tinggi dan diselingi humor  berbobot.

    Dalam bidang ‘ilm al-ma‘ânî (semantik), al-Jahizh juga dipandang sebagai sastrawan yang mula-mula berpendapat bahwa sastra (adab) merupakan shinâ‘ah atau karya/profesi atau ilmu yang keindahannya itu terletak pada untaian lafazh, bukan makna itu sendiri. Menurutnya, makna ungkapan itu dapat dipahami karena nazhamnya: akurasi, keserasian pemilihan kata, kemudahan dalam ekspresi, dan ketepatan redaksinya. Sastra ibarat tenunan pakaian; bahan, warna dan keserasian sangat menentukan keindahannya. Jadi, keindahan semantik itu menghendaki ketiadaan kata-kata yang sulit dilafazhkan, asing (jarang digunakan), dan tidak familiar.

    Lebih lanjut, al-Jahizh, menjelaskan bahwa ada lima perangkat al-bayân, yaitu: (a) lafazh, (b) isyârah, (c) al-‘aqd atau al-hisâb, (d) al-khath (kaligrafi Arab), dan (e) al-hâl atau al-nishbah. Lafazh (kata, kosa kata, ungkapan) merupakan perangkat pertama dan utama yang dapat menentukan makna, karena Lafazh dalam suatu bahasa merupakan wadah atau alat ekspresi yang diwariskan secara turun-temurun. Keindahan bahasa juga dipengaruhi oleh isyarat, terutama ketika diekspresikan secara lisan, baik dengan menggunakan kepala, tangan, mata, atau yang lain. al-‘Aqd atau al-hisâb adalah petanda dalam bentuk bilangan atau angka yang juga dapat memperjelas makna, seperti penulisan ayat al-Qur’an yang diakhiri dengan nomor urut surat dan ayat. Demikian pula, kaligrafi membuat untaian kata-kata menjadi berpenampilan indah, dan keindahannya itu membuat pembaca dapat menikmati tulisan sekaligus maknanya. Adapun al-hâl atau al-nishbah pada dasarnya merupakan kelanjutan dari isyârat, yakni kondisi gestur orator, penyair atau penulis ketika mengekspresikan gagasannya melalui kata-kata. Penampilan dan roman muka, seperti riang, marah, serius, dan sebagainya, turut memberi makna tertentu dari orasi, retorika dan pesan-pesan yang hendak disampaikan.

    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemikiran rasional al-Jahizh, baik di bidang bahasa dan sastra, balâghah maupun agama dan sosial budaya. Pertama, pengaruh dua gurunya, yaitu al-Akhfasy di bidang nahwu dan al-Nazzâm di bidang teologi rasional Mu’tazilah. Masing-masing berperan memberikan pola berpikir kritis-logis pada dirinya. Kedua, lingkungan sosial-intelektual kota Bashrah, yang masa itu sudah mengalami pencerahan dan sedikit mengalami Hellenisasi, akibat adanya gerakan penerjemahan dari karya-karya filosof Yunani dan karya-karya akademik lainnya dari bahasa Persia dan India ke dalam bahasa Arab. Ketiga, semangat intelektualitasnya yang tinggi dalam mencari dan mengembangan ilmu pengetahuan, terutama bahasa dan sastra Arab, wabil khusus balâghah. Keempat, kondisi sosial-politik yang sangat kondusif, yaitu dukungan para khalifah ‘Abbasiyah, khususnya al-Ma’mun dengan Bait al-Hikmah-nya, yang menaruh perhatian besar terhadap penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu bahasa dan sastra Arab. Tidak sedikit para sastrawan itu “mencari hidup” dengan menghibur para khalifah dan keluarganya dengan mendendangkan syair dan hikayah yang penuh kejenakaan.

    Terlepas dari semua itu, para sastrawan Arab memposisikan al-Jahizh dalam bidang ilmu balâghah setara dengan Imam al-Syafi‘i  (150-204 H) dalam bidang ushûl al-fiqh. Jika al-Syafi‘i dinilai sebagai pencetus dan perumus pertama  ushûl al-fiqh dengan al-Risâlah-nya, maka al-Jahizh dinilai sebagai “pembuka pintu” ‘ilm al-bayân dengan karya monumentalnya, al-Bayân wa al-Tabyîn. Karya ini pula yang kemudian menginspirasi dan memotivasi para ulama bahasa Arab di masa-masa sesudahnya untuk mengembangkan ilmu balâghah menjadi lebih kokoh landasan epistemologinya dan lebih sistematis, seperti ‘Abd al-Qahir al-Jurjani dengan Asrâr al-Balâghah dan Dalâ’il al-I’jâz dan as-Sakkaki dengan Miftâh al-‘Ulûm. Pemikir balâghah yang filosof dan linguis ini telah meneladankan kepada kita semua untuk selalu mengintegrasikan empat etos dalam dirinya: etos membaca, etos meneliti, etos berdiskusi, dan etos menulis dan berkreasi.

    Daftar Pustaka

    ‘Abd al-Lathîf, Mahmud, “al-Jahizh wa al-Lisâniyyât”, dalam Jurnal al-Mu’allim al-‘Arabi, Damaskus, Edisi I dan II, Tahun ke-54, 2001.

    al-‘Akûb, ‘Isa ‘Alî, al-Tafkîr al-Naqdî ‘inda al-‘Arab, Damaskus: Dâr al-Fikr, Cet. I,  2000.

    Amin, Ahmad, Dhuha al-Islâm, Jilid I, Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, Cet. VIII, 1977.

     ‘Atâwî, Fauzî,  al-Jâhizh: Dâirat Ma’ârif Ashrihi, Beirut: Dâr al-Fikr al-‘Arabî, 1998.

    Bârût, Jamâl Muhammad,  al-Jâhizh: Muassis al-Bayân al-‘Arabî. Damaskus: al-Ahâli, Cet. I, 2001.

    ad-Dâyah, Muhammad Ramadhân, al-Maktabah al-‘Arabiyyah wa Manhaj al-Bahts, Damaskus: Dâr al-Fikr, Cet. I, 1999.

    Farsyûkh, Muhammad Amîn, Mawsû’ah ‘Abâqirat al-Islâm fi al-‘Ilm wa al-Fikr wa al-Adab wa al-Qiyâdah, Beirut: Dâr al-Fikr al-‘Arabî, Cet. I, 1992.

    al-Hajiri, Taha, al-Jâhizh Hayâtuhu wa Atsaruhu, Kairo: Dâr al-Ma‘ârif, 1962.

    ‘Isma‘il, ‘Izzuddin, al-Mashâdir al-Adabiyyah wa al-Lugawiyyah fi al-Turâts al-‘Arabî, Kairo: Maktabah Garîb, tt.

    al-Jahizh, al-Bayân wa at-Tabyîn, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1958.

    al-Maidani, ‘Abdurrahman Hanbakah, al-Balâghah al-‘Arabiyyah: Ususuhâ, wa ‘Ulûmuhâ, wa Funûnuhâ, Juz II, Damaskus: Dâr al-Qalam, Cet. I, 1996.

    Mujahid, ‘Abd al-Karim, ad-Dalâlah al-Lughawiyyah ‘Inda al-‘Arab, ‘Amman: Dâr al-Dhiyâ’, 1985.

    ‘Uthbah, ‘Abdurrahman, Ma‘a al-Maktabah al-‘Arabiyyah: Dirâsat fi Ummahât al-Mashâdir wa al-Marâji‘ al-Muttashilah bi al-Turâts, Beirut: Dâr al-Auzâ‘î, Cet. III, 1986.

    ‘Uwaizah, Kamil Muhammad Muhammad, al-Jâhizh: al-Adîb al-Failasûf, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1993.

    Zaghlul, Hamzah Darwisy, Nasy’at al-Funûn al-Balâghiyyah, Kairo: Dâr al-Thibâ‘ah al-Muhammadiyah, Cet. I, 1987.