ABDULLAH IBN AL-MU’TAZZ: SANG KREATOR ILMU BADÎ’

Muhbib Abdul Wahab |
Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah |
Peminat Kajian Tokoh Bahasa Arab |

Ilmu Balâghah termasuk salah satu cabang ilmu-ilmu bahasa Arab yang mendapat perhatian serius dari para ulama. Dasar pemikiran yang melandasi munculnya balâghah adalah bagaimana mengomunikasikan pesan (makna, amanat, pemikiran, ide, gagasan, dan sebagainya) kepada penerima pesan dengan bahasa yang indah, tepat sasaran, efektif, dan kontekstual. Oleh karena dimensi utama bahasa apapun, termasuk bahasa Arab, adalah lafazh dan makna, atau ma’na dan mabna –menurut Tammam Hassan— maka balâghah tidak semata-mata memperhatikan kefasihan (fashâhah) bahasa, tetapi ketepatan dan keindahan lafazh dan makna, sesuai dengan muqthadha al-hâl (tuntutan situasi dan kondisi). Dengan kata lain, balâghah menghadirkan kesesuaian dan keindahan  maqâl (redaksi bahasa) dan maqâm (konteks sosial).

Sedemikian intens dan menarikan kajian balâghah, terutama karena terinspirasi ayat-ayat al-Qur’an yang sangat kaya dengan dimensi balâghah, para ulama kemudian merumuskan teori-teori tentang balâghah lalu mengkodifikasikannya menjadi tiga cabang ilmu, yaitu: ‘ilm al-bayân, ‘ilm al-ma’ânî, dan ‘ilm al-badî’. Masing-masing ilmu tersebut memiliki tujuan dan karakteristik tersendiri. Pasa saatnya yang tepat, masing-masing ilmu akan diulas. Untuk sementara ini, bahasan difokuskan pada tokoh kreator ‘ilm al-badî’, yaitu Abdullah ibn al-Mu’tazz, seorang khalifah yang ilmuwan dan sastrawan.

Nama lengkap Ibn al-Mu’tazz (249-296 H) adalah Abu al-‘Abbas ‘Abdullah ibn al-Mu‘tazz Billah ibn al-Mutawakkil ‘Ala Allah ibn Mu‘tashim Billah ibn Harun al-Rasyid. Ia lahir di lingkungan istana pemerintahan ‘Abbâsiyyah di Bagdad pada 22 Sya‘ban 147 H, bertepatan dengan  31 Oktober 861 M. Keluarganya menyukai sastra Arab dan musik. Beberapa tokoh bahasa dan sastra Arab yang hidup di masa itu sering kali didatangkan ke istana untuk mendidik putra-putri khalifah. Di antara yang pernah mengajar Ibn al-Mu‘tazz adalah al-Mubarrid, ahli nahwu dan penulis al-Kâmil fi al-Lughah wa al-Adab, Tsa‘lab, al-Hasan al-‘Anzî, Ibn Hubairah al-Asadi, dan terutama Ibn Sa‘id al-Dimasqi. Guru yang disebut terakhir inilah –yang hidup hingga sesudah terbunuhnya Ibn al-Mu‘tazz—yang kelak menghimpun karya sastranya. Selain itu, ia juga belajar ilmu-ilmu rasional, seperti: filsafat logika, dan ilmu-ilmu agama. Hanya saja, ia lebih meminati bahasa dan sastra Arab, sehingga tertarik untuk mengkaji dan mengembangkan balâghah, yang menurut Badawi Thabanah, pada awalnya disebut ‘ilm al-badî’, meskipun berisi bahasan tentang tasybîh, isti’ârah, kinâyah, dan ta’rîdh yang belakangan menjadi pokok bahasan ‘ilm al-bayân.

Ibn al-Mu‘tazz hidup dalam suasana krisis dan kemelut politik yang sangat memperihatinkan. Ia sebetulnya berusaha menghindar dari kemelut politik ketika terjadi perebutan kekuasaan. Ia mengalami masa pemerintahan al-Mu‘tadhid Billah (w. 289 H), khalifah ke-16, dan mempunyai hubungan emosional yang sangat dekat dengannya. Bahkan ia sering mendendangkan  syair-syair pujian terhadap keberanian dan kepahlawannya, karena khalifah dianggap dapat mengembalikan  kewibawaan khalifah ‘Abbasiyyah. Namun sepeninggal al-Mu‘tadhid, kondisi sosial politik tidak stabil dan tidak aman. Selain itu, al-Muktafi Billah ibn al-Mu‘tadhid (w. 295 H), khalifah ke-17 yang menggantikan ayahnya, tidak mampu menciptakan stabilitas sosial dan politik. Ketika al-Muktafi sakit keras, persoalan suksesi menjadi pelik, karena ia tidak menunjuk khalifah yang baru.

Putra mahkota, Ja‘far ibn al-Muktafi yang saat itu masih kecil dibai‘at oleh sekelompok orang untuk menjadi khalifah. Melihat kondisi yang demikian, banyak ulama’ dan cendekiawan bermusyawarah di istana untuk mendorong Ibn al-Mu‘tazz agar tampil menggantikannya, karena ia dinilai berakhlak mulia, berpikiran cerdas dan maju, serta mempunyai tanggung jawab besar terhadap kesatuan umat Islam. Namun, pertikaian dan perbedaan kepentingan tidak dapat dielakkan antara pihak yang mendukung dirinya dan pihak yang mendukung Ja‘far. Ibn al-Mu‘tazz yang baru menjadi khalifah hanya dalam waktu sehari semalam meninggal karena dibunuh oleh lawan politiknya pada Kamis, 2 Rabi‘ al-Akhir 296 H bertepatan dengan 29 Desember 908 M.

Ia meninggalkan kumpulan sya‘ir-sya‘irnya yang dihimpun oleh gurunya, Ibn Sa‘îd. Dîwân (antologi) sya‘irnya itu telah dicetak dalam dua bagian di Kairo. Selain itu, ia juga menulis sejumlah karya, di antaranya: (1) al-Adâb yang membahas mengenai filsafat dan pendapat-pendapat yang benar; (2) Fushûl al-Tamâtsîl fî Tabâsyîr al-Surûr  yang mendeskripsikan minuman keras; (3) al-Jawârih wa al-Shaid, (4) Asy‘âr al-Mulûk; (5) Thabaqât al-Syu‘arâ’; (6) Kitâb al-Zahr wa al-Riyâdh; dan (7) Kitâb al-Badî‘.

Salah satu karya monumentalnya adalah Kitâb al-Badî‘. Buku ini disusun pada 274 H. Judul buku ini dianggap yang pertama kali muncul dalam sejarah balâghah dan sastra Arab. Karena itu, ia dinilai sebagai pencetus dan kreator ‘ilm al-badî‘ (art of schemes), terpisah dari ilmu lainnya, utamanya: ‘ilm al-bayân dan ‘ilm al-ma‘ânî.  Buku ini menyerupai al-Bayân wa al-Tabyîn karya al-Jahizh. Karya Ibn al-Mu‘tazz juga nyaris hanya populer di kalangan sastrawan Arab kalau saja tidak dipopulerkan oleh  seorang orientalis Rusia, Ignatius Yulianovitch Kratchkovsky, anggota akademi ilmu di Leningrad. Orientalis ini berjasa dalam  tahqîq (pengeditan) dan pencetakan Kitâb al-Badî‘ serta pemberian kata pengantar untuknya. Buku ini kembali diedit oleh Muhammad ‘Abd al-Mun‘im al-Khafâjî, dan diterbitkan oleh Dâr al-Jîl di Beirut pada tahun 1990. Belakangan, buku ditahqiq ulang dan diberi syarah (penjelasan) oleh Irfan Mathraji, dan diterbitkan pada 2012.

Tujuan utama penyusunan buku tersebut adalah untuk memperkenalkan  kepada para pujangga bahwa fenomena badî‘ al-kalâm itu  telah ada sejak masa jâhiliyyah, bukan merupakan saduran apalagi plagiasi dari karya Aristoteles, al-Khathâbah, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan menurut Thaha Husain dalam pengantar bukunya, sekurang-kurangnya Ibn al-Mu’tazz terpengaruh (mendapat inspirasi) dari karya Aristoteles tersebut. Hanya saja, buku ini belum diformulasikan dalam bentuk kaidah yang baku. Sya‘ir-sya‘ir jâhiliyyah, al-Qur’ân, dan Hadîts Nabi Saw., pernyataan para sahabat, dan fushahâ’ al-‘Arab (orang-orang Arab yang fasih) banyak memuat muhassinât badî‘iyyah. Dalam buku ini, ia tidak mengikuti metode Abu Tammâm yang dinilainya terlalu berlebihan dalam  membuat isti‘ârah  (metafor), muthâbaqah (antitesis), dan tajnîsât  (assonance) dalam puisinya. Ia cenderung mengikuti metode moderat (i‘tidâl) yang digunakan oleh para penyair sebelumnya dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, namun indah dan menarik.

Buku tersebut memuat  18 jenis kalimat yang dikelompokkan menjadi dua kategori. Kategori pertama terdiri dari 5 macam yang disebutnya dengan “al-Badî‘”. Kelima macam tersebut adalah: (1) al-isti‘ârah,  yang didefinisikan oleh Ibn al-Mu‘tazz sebagai “peminjaman” kata untuk menunjukkan sesuatu yang belum dikenal dari sesuatu yang sudah dikenal; (2) al-tajnîs  atau al-jinâs (paranomasia); (3) al-muthâbaqah  atau al-Thibâq (antitesis); (4) radd al-a’jâz ‘alâ mâ taqaddamahâ  atau ‘ala al-shadr (mengulang kata yang sama pada bait kedua sesuai dengan kata sebelumnya). Dalam hal ini, ia membagi kategori ini ke dalam  tiga bagian, yaitu:  (a)  kata pada akhir bait kedua sesuai (sama) dengan kata pada akhir bait pertama, seperti: تلقّى إذا ما الأمر كان عرمرما # في جيش رأى لا يفل عرمرم; (b) kata pada akhir bait kedua sama dengan kata pada awal bait pertama, seperti: سريع إلى ابن العم يلطم وجهه # وليس إلى داعي الندى بسريع; (c) kata pada akhir bait kedua sama dengan kata yang ada di dalam bait pertama atau kedua, seperti: عميد بني سالم أقصدتْه # سهام الموت وهي له سهام; dan (5) al-madzhab al-kalâmî (aliran, metode berbicara) –penamaan ini diadopsi dari al-Jahizh– merupakan sebuah asumsi bahwa manusia dapat berbicara dan memastikan kebenaran pendapatnya serta kesalahan pendapat orang yang mendebatnya dengan menghadirkan argumentasi yang logis dan sistematis, sehingga dapat melemahkan lawan bicaranya. Salah satu contoh metode berbicara seperti itu adalah firman Allah swt.: لو كان فيهما آلهة إلا الله لفسدتا… (سورة الأنبياء: 22) Artinya: “Sekiranya di langit dan bumi  itu terdapat banyak tuhan selain Allah, niscaya kedua akan rusak binasa… (QS. al-Anbiyâ’ [21]: 22).

Kategori kedua disebut mahâsin al-kalâm (perkataan yang bagus, indah). Ada pula yang menyebutnya al-jamâliyyât al-adabiyyah. Dalam hal ini, ia menggunakan 13 macam perkataan yang dinilai badî‘ (indah). Ketiga belas macam itu adalah: (1) al-iltifât (pengalihan), yakni pengalihan pembicaraan dari mukhâthabah (pernyataan langsung) menjadi ikhbâr (pemberitaan, pernyataan tidak langsung) atau sebaliknya; (2) al-i‘tirâdh, yaitu penyisipan kalimat dalam sebuah pembicaraan; (al-rujû‘, yaitu menjadikan perkataan sebelumnya sebagai referensi atau membuat perkataan baru dengan merujuk kepada perkataan lama sebagai koreksi atau revisi; (4) Husn al-khurûj min ma‘nâ ilâ ma‘nâ (pengalihan yang baik dari suatu makna kepada makna yang lain); istilah ini oleh Abu Tamam disebut al-istithrâd (excursus); (5) ta’kîd al-madh bimâ yusybih al-Dzamm (penegasan pujian dengan sesuatu yang menyerupai cacian; (6) tajâhul al-‘ârif  (ketidaktahuan orang yang tahu) atau disebut juga al-taykîk (membuat keraguan); (7) hazl yurâdu bihi al-jidd (main-main, candaan dimaksudkan serius); (8) Husn al-tadhmîn (pengutipan suatu ungkapan dalam perkataan); (9) al-ta‘rîdh wa al-kinâyah (innuendo and metonymy, kiasan); (10) al-ifrâth fi al-shifah (melebihkan dalam pemberian sifat); (11) Husn al-tasybîh (membuat perumpamaan yang baik); (12) luzûm mâ lâ yalzam (kemestian suatu yang tidak mesti); dan (13) Husn al-ibtidâ‘ât  (pembukaan perkataan yang baik).

Selain sebagai kreator dalam perumusan dan pengembangan ‘ilm al-badî‘, Ibn al-Mu‘tazz juga dinilai sebagai penyair terkenal di masanya. Karakteristik syairnya, antara lain, adalah: (a) kata yang dipilih lembut; (b) ungkapannya mudah dipahami; (c) gaya bahasanya indah; (d) ketetapan dan kesesuaian dalam penggunaan metafor dan perumpamaannya; (e) deskripasinya tentang situasi akurat; (f) penggunaan imajinasinya indah; dan (g) tema-tema yang dipilih cenderung tidak romantis. Menurutnya, puisi dibuat untuk  memuaskan pembuatnya dan merupakan gambaran dari perasaan pembuatnya. Karena itu, syair harus bebas dari kepalsuan pujian dan celaan ratapan yang tidak faktual. Ia cenderung mendeskripsikan alam, perburuan, pertemanan, dan korespondesi (murâsalah) dengan bahasa yang lugas, mudah dipahami, dan kontekstual. Sayangnya, Ibn al-Mu’tazz  ulama dan sastrawan yang mendedikasikan dirinya untuk pengembangan ilmu-ilmu bahasa Arab meninggal dunia sebagai “korban intrik politik”. Dia belum sempat berkuasa, karena baru dilantik dan baru menjabat sebagai khalifah sehari semalam. Sungguh malang nasib  ulama bahasa Arab yang satu ini!!

Daftar Rujukan

‘Akkâwî, In‘âm Fawwâl, al-Mu‘jam al-Mufashshal fi ‘Ulûm al-Balâghah: al-Badî‘, wa al-Bayân wa al-Ma‘ânî, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. II, 1996.

Dhaif, Syauqî, al-Balâghah: Tathawwur wa Târîkh, Kairo: Dâr al-Ma‘ârif, Cet. VI, 1983.

al-Hâsyimî, Ahmad, Jawâhir al-Balâgah fi al-Ma‘ânî wa al-Bayân wa al-Badî‘, Surabaya: Maktabah Ihyâ’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1960.

Ibn al-Mu’tazz, Abdullah, Kitâb al-Badî’, Tahqiq dan Syarah Irfan Mathraji, Beirut: Muassasah al-Kutub as-Tsaqâfiyyah, 2012.

Ismail, Syadzili Abdul Ghani, “Kitâb al-Badî’ li Ibn al-Mu’tazz: Nazharât fi Qirâ’ât Mu’âshirah”, diakses dari http://www.alukah.net/literature_language/0/113193, Senin, 8 Mei 2017

Kratchkovsky, Ignatius Yulianovitch, ‘Ilm al-Badî‘ wa al-Balâghah ‘inda al-‘Arab, Terj. ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad al-Hujairî, Beirut: Dâr al-Kalimah, 1983.

al-Maidânî, ‘Abd al-Rahmân Habannakah, al-Balâghah al-‘Arabiyyah: Ushûluhâ wa ‘Ulûmuhâ wa Funûnuhâ, Damaskus: Dâr al-Qalam, Cet. I, 1996.

al-Marâghî, Ahmad Mushthafâ, ‘Ulûm al-Balâghah: al-Bayân wa al-Ma‘ânî wa al-Badî‘,  Beirut:  Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. IV, 2002.

Matrajî, ‘Irfân, al-Jâmi‘ li Funûn al-Lugah al-‘Arabiyyah wa al-‘Arûdh, Beirut: Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqâfiyyah, Cet. I, 1987.

Musa, Ahmad Ibrâhim, al-Shibg al-Badî’î fi al-Lughah al-‘Arabiyyah, Kairo: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, 1969.

Wahbah, Majdî, dan Kâmil al-Muhandis, Mu‘jam al-Mushthalahât al-‘Arabiyyah fi al-Lughah wa al-Adab, Beirut: Maktabah Lubnân, 1984.

al-Zayyât, Ahmad Hasan, Târîkh al-Adab al-‘Arabî, Beirut: Dâr al-Ma‘rifah, Cet. VII, 2001.