PEMIKIRAN LINGUISTIK IBRAHIM AS-SAMARRAI´ (1923-2001)

Muhbib Abdul Wahab |
Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah |
Peminat Kajian Tokoh Bahasa Arab |

Kajian linguistik termasuk kajian yang relatif tidak banyak diminati, dibandingkan dengan kajian ilmu-ilmu sosial dan humaniora lainnya. Namun demikian, setiap zamannya, selalu ada tokoh linguistik yang patut mendapat perhatian penting karena pemikirannya yang membuka cakrawala dan wawasan keilmuan kita. Salah satu linguis Arab modern adalah Ibrahim as-Samarrai, linguis yang lahir dan dibesarkan di “bumi nahwu”, Irak. Pemikiran menarik dicermati dan dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman dewasa. Bagi peminat kajian linguistik Arab, as-Samarrai dikenal sebagai linguis yang produktif dan prolifik yang telah banyak menginspirasi generasi penerusnya. Selain

Profil Intelektual

Nama lengkapnya adalah Ibrahim ibn Ahmad ar-Rasyid as-Samarrai. Ia lahir di kota al-‘Amarah, antara Baghdad dan Bashrah, di Irak Selatan, pada tahun1923 M. Masa kanak-kanak dilaluinya dengan penuh penderitaan, karena ibunya meninggal dunia pada saat ia masih kecil. Tidak lama kemudian, pada tahun 1934, ketika baru berusia 9 tahun, ayahnya juga meninggal di Bashrah.

As-Samarrai mula-mula belajar di kampung halamannya. Pendidikan dasar dan menengahnya diselesaikan pada lembaga pendidikan Dâr al-Mu‘allimin di distrik A‘zhamiyyah, utara Baghdad. Pada tahun1942-1946 ia menempuh pendidikan tingkat ‘Aliyah (Lisance, setingkat S1) pada Fakultas Tarbiyah di lembaga pendidikan yang sama. Setelah itu, ia mengajar pada lembaga pendidikan al-Malik Faishal pada tahun 1946-1948. Di akhir pengabdiannya (1948) pada lembaga pendidikan ini ia beruntung karena memporoleh kesempatan melanjutkan studi pada Program Pascasarjana di Universitas Sorbone Paris, Perancis. Di universitas paling bergengsi di Perancis itu, ia menekuni studi bahasa-bahasa Semit, karena pengembangan disiplin ilmu ini di Irak saat itu sangat kurang, kalau tidak dikatakan langka.

Di Perancis, ia tidak hanya menimba ilmu di universitas tersebut, melainkan juga menghabiskan sebagian besar waktunya untuk meneliti dan mendalami disiplin ilmu tersebut di Lembaga Islam, Perpustakaan Bahasa-bahasa Timur (Maktabat al-Lughât al-Syarqiyyah), Institut Katolik, Institut Louvre, dan Perpustakaan Nasional. Pada tahun 1956 ia berhasil meraih gelar Doktor di bidang Fiqh al-Lughah (Fiqh Bahasa) dan al-Nahwu al-Muqâran (Gramatika Bandingan) dengan mempertahankan dua disertasi (mayor dan minor), yang masing-masing berjudul: “al-Jumû‘ fî al-Qur’ân al-Karîm” dan Tahqîq Kitâb al-Matsal al-Sâir li Ibn al-Atsîr.

Setelah itu, ia langsung kembali ke tanah airnya, dan mengabdikan diri pada Fakultas Adab (Sastra) Universitas Baghdad sebagai dosen. Tidak lama setelah mengajar di universitas tersebut, ia kemudian menjadi dosen tamu di sebuah universitas di Tunisia selama satu tahun. Ia lalu kembali mengajar di Universitas Baghdad; kemudian antara tahun 1965-1975, secara bergantian, ia mengajar di beberapa universitas di Beirut, ‘Amman, Bangazi, al-Jazair, Rabath, Kuwait dan Sudan. Setelah itu, ia kembali ke ibu kota Irak dan mengajar lagi di Fakultas Adab Universitas Baghdad hingga pensiun pada tahun 1980. Setelah pensiun, ia masih melanjutkan karir akademik-ilmiahnya dengan menjadi dosen tamu di Universitas Jordania antara tahun 1982-1987, lalu Universitas Shan‘a’ Yaman antara tahun 1987-1996.

Di antara gurunya yang sangat mempengaruhi kepribadian dan kepakarannya dalam bahasa Arab adalah: (1) Thâha al-Râwî (1890-1946), pakar bahasa dan sastra Arab di Baghdad, penulis buku Târîkh ‘Ulûm al-Lughah al-‘Arabiyyah dan Nazharât fi al-Lughah wa al-Adab; (2) Mushthafa Jawwâd (1905-1969), penulis buku al-Mabâhits al-Lugawiyyah fî al-‘Irâq dan Dirâsât fî Falsafat al-Nahwi wa al-Sharf wa al-Lughah wa al-Rasm;  (3) ‘Abd al-‘Azîz al-Dûrî (1919-sekarang), ahli sejarah Islam, mantan dekan Fakultas Adab Universitas Baghdad, penulis Nasy’at ‘ilm al-Târîkh ‘Inda al-‘Arab dan al-Nuzhum al-Islâmiyyah; dan (4) Jean Canteno (1899-1958), orientalis Perancis, professor Fiqh al-Lughah dan bahasa-bahasa Semit pada Fakultas Adab di sebuah universitas al-Jazair, dan penulis al-Anbâth wa al-‘Arab dan Lahjah Janûbî al-Jazîrah al-‘Arabiyyah.

Adapun di antara koleganya yang menjadi mitra diskusi dan tukar pikiran adalah: (1) Subhi al-Bassam (1922-sekarang), linguis, penyair yang bekerja pada Kementerian Pendidikan Irak, dan penulis al-Lubâb fâ Alfâzh al-Kuttâb dan Khashâish al-Lughah al-‘Âmiyyah; (2) ‘Ali Jawad al-Thahir (1919-1996), sastra-wan dan kritikus sastra, peraih doktor dari Universitas Sorbone (1954), dan penulis buku Muqaddimah fî al-Naqd al-Adabî dan Mu‘jam al-Mathbûât al-‘Arabiyyah al-Su‘ûdiyyah); (3) Hasan Zhazha (1919-1999), pakar bahasa Semit kelahiran Kairo, peraih gelar doktor di Universitas Sorbone, dan penulis al-Sâmiyyûn wa Lughatuhum, Manhaj Sîbawaih fi al-Nahwi al-‘Ibarî Baina Yah­d al-Andalus, dan al-Lisân wa al-Insân: Madkhal ilâ Ma‘rifat al-Lugah; (4) ‘Ali al-Zabidi (1924-sekarang), sastrawan kelahiran Bagdad, peraih gelar Doktor di bidang sastra Arab dari Universitas Sorbone (1955), dan penulis Min al-Adab al-‘Abbâsî, al-Masrahiyyah al-‘Arabiyyah fî al-‘Irâq dan al-Syi‘r wa al-Funûn; (5) Shalah Khalish (1925-1986) sastrawan kelahiran Bashrah, peraih Doktor dari Universitas Sorbone, dan penulis Daur al-Adîb fi al-Ma‘rakah dhidda al-Isti‘mâr wa al-Raj‘iyyah; dan (6) Mahdî al-Makhzumî (1917-1986), pakar bahasa Arab kelahiran Najaf dan penulis Madrasah al-Kûfah, al-Khalîl ibn Ahmad al-Farâhîdî, Fi al-Nahwi al-‘Arabî, al-Dars al-Nahwi bi Baghdâd, dan pentahqiq (bersama al-Sâmarrai) Kitâb al-‘Ain karya al-Khalîl ibn Ahmad.

Sedangkan di antara muridnya adalah: (1) Hasyim al-Thahhan (1931-1981), sastrawan kelahiran Mosul yang meraih gelar Doktor di Universitas Baghdad dan penulis Ta’tsîr al-‘Arabiyyah bi al-Lughah al-Yamaniyyah dan al-Adab al-‘Arabî Baina  Lahajât al-Qabâil wa al-Lughah al-Muwahhadah; (2) Muhammad Dharî al-Hammadî (1943-sekarang), peneliti kelahiran Baghdad, Doktor dari Universitas Baghdad (1978), dan penulis al-Hadîts al-Nabawî wa A£aruhu fi al-Dirâsât al-Lugawiyyah al-Nahwiyyah dan Harakât al-Tashhîh al-Lughawî fi al-‘Ashr al-Hadîts; (3) Hatim al-Dhamin (1938-sekarang), Doktor dari Fakultas Âdâb  Universitas Baghdad, Ketua Jurusan Bahasa Arab di almamaternya, dan penulis sejumlah buku, antara lain: Fiqh al-Lugah, Buhûts wa Dirâsât fi al-Lughah wa Tahqîq al-Nushûsh, Musykil I‘râb al-Qur’ân li Makkî al-Qaisî, dan al-Zâhir fî Ma‘ânî Kalimât an-Nâsh.

As-Sâmarrâî wafat di Baghdad pada tahun 2001 dalam usia 78 tahun dengan meninggalkan karya sebanyak 49 buku, 22 hasil tahqîq dan puluhan makalah yang kesemuanya meliputi berbagai bidang kebahasaaraban, seperti: fiqh al-lughah, ‘ilm al-mu‘jam (leksikologi), perbandingan bahasa-bahasa Semit, nahwu, sharf, sastra,  kritik sastra, sejarah bahasa, balâghah, Islam dan bahasa Arab. Karena itu, ia dinilai sebagai pakar yang otoritatif dalam bidang linguistik, gramatika Arab, sastra dan kritik sastra Arab, leksikologi, dan muhaqqiq yang produktif.

Pemikiran Linguistik

Sebagai linguis ia meyakini bahwa bahasa Arab akan terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Ia juga berpendapat bahwa bahasa Arab termasuk bahasa yang hidup, elastis dan mampu mengikuti perkembangan zaman (al-‘Arabiyyah lughat hayyah marinah wa mulabbiyah li mutathallabât al-‘ashr). Dalam hal ini, ia memperlihatkan bukti kemampuan bahasa Arab tetap eksis dan berinteraksi dengan perkembangan zaman dengan menunjuk banyaknya penambahan kosakata baru di bidang sains dan teknologi yang diciptakan oleh bangsa-bangsa Arab dewasa ini, seperti: الحاسوب، الاستنساخ، الجوال، التأمين، المصرف (masing-masing berarti: komputer, clonning, telpon seluler/HP, asuransi, dan bank) yang semua itu berakar kata dari bahasa Arab sendiri, tidak diperlu diadopsi dengan proses arabisasi (ta’rîb).

Jika para ahli bahasa masa lalu memandang bahwa masa-masa penetapan dalil atau bukti kebahasaaraban telah berakhir pada masa awal Bani ‘Umaiyyah, maka menurut as-Sâmarrâî, bahasa Arab tetap valid saat digunakan para penyair, penulis, ahli balâghah, dan sastrawan sesudah masa tersebut. Karena itu, ia berpendapat bahwa masa ‘Abbâsiyah masih absah dijadikan dalil dan referensi (ihâlah) dalam berbahasa Arab. Pendapatnya ini diperkuat dengan hasil penelitiannya, al-Takmilah li al-Ma‘âjim al-‘Arabiyyah min al-Alfâzh al-‘Abbâsiyyah. Dalam hal ini, ia menyerukan pembaharuan matan (teks) bahasa Arab dengan pengayaan kosakata dan istilah baru mengenai sains, teknologi dan peradaban modern, selama pengayaan itu tidak menyimpang dari kaedah-kaedah bahasa Arab yang sudah baku.

Ia juga menaruh perhatian yang sangat besar dalam perkamusan Arab. Selain mentahqîq –bersama koleganya, Mahdî al-Makhzûmî– Kitâb al-‘Ain karya al-Khalîl, ia juga menyusun beberapa kamus, seperti: Mu‘jam al-Farâid, al-Dakh³l fi al-‘Arabiyyah, wa al-Fârisiyyah wa al-Turkiyyah: Mu‘jam wa Dirâsah, al-Mu‘jam al-Wajîz fî Mushthalahât al-I‘lâm, dan Mu‘jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu‘âshirah. Penguasaannya yang mendalam tentang perbendaharaan bahasa Arab sangat didukung oleh kemahirannya dalam berbahasa Persia, Ibrani, Suryani, Turki, dan Perancis, selain ditopang oleh penggunaan metode komparatif yang cukup kuat dalam studi bahasa-bahasa rumpun Semit (usrah al-Lughât as-Sâmiyyah).

Pendapatnya yang cenderung menempatkan bahasa Arab sebagai bahasa yang progresif –bukan regresif—membuatnya berpendapat bahwa nahwu Arab juga dapat mengalami perkembangan dan perubahan, bukan statis, sebagaimana halnya bahasa yang hidup (al-lughah al-hayyah) pada umumnya. Ia juga mengritik penggunaan i‘râb taqdîri, ta‘lîl dan ta’wîl yang dilakukan oleh ulama nahwu masa lampau sebagai tidak realistis dan sulit dimengerti. Dalam konteks ini ia meninjau kembali dan menganalisis materi nahwu dengan menggunakan dua metode sekaligus, yaitu metode deskriptif dan metode historis-komparatif.

Penolakannya terhadap taqdîr, ta‘lîl dan ta’wîl didasari alasan bahwa pemunculan ketiganya cenderung dibuat-buat, bukan berdasarkan fenomena dan realitas bahasa Arab yang sesungguhnya. Dengan kedua metode itu pula, ia menolak pendapat ulama terdahulu yang menyatakan bahwa nahwu disusun karena adanya lahn (kesalahan pelafalan kata-kata dalam bahasa Arab). Sebaliknya, berdasarkan penelusuran historisnya, ia menegaskan bahwa nahwu itu muncul karena adanya kajian terhadap Alquran. Pendapatnya ini kemudian dikembangkan oleh Ramadhan Abd at-Tawwab bahwa al-Qur’an itu merupakan poros yang menjadi sumber inspirasi dan referensi kajian kebahasaaraban (al-Qur’ân mihwar ad-Dirâsât al-‘Arabiyyah)

Pengkajian terhadap al-Qur’an oleh kaum Muslim, selain telah memberi inspirasi lahirnya ilmu nahwu, juga mendorong muncul ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti tafsir, Hadits, fiqh, kalâm, dan sebagainya. Argumentasi yang dikemukan adalah bahwa sekiranya lahn menjadi penyebab disusunnya nahwu, maka seharusnya nahwu menjadi solusi tuntas bagi persoalan yang ada (lahn), padahal dalam kenyataannya tidak demikian. Ia juga menunjukkan fakta sejarah, bahwa pada masa jahiliyyah juga sudah terjadi lahn di kalangan bangsa Arab sendiri, dengan merujuk adanya kesalahan, antara lain, pada beberapa bait sya‘ir Umru’ al-Qais dan al-Nâbighah al-Dzubyânî. Pendapatnya ini diulas cukup panjang dalam kata pengantar karyanya yang berjudul: Min Asâlîb al-Qur’ân dan al-Fi‘l: Zamânuhu wa Abniyatuhu.

Sementara itu, as-Sâmirrâî juga termasuk sastrawan yang produktif. Selain redaksi karyanya dipandang sarat dengan nilai-nilai sastra, ia juga banyak mengekspresikan kegalauan dan pengalaman hidupnya dalam bentuk bait-bait sya‘ir. Tema-tema sya‘irnya berkisar mengenai kepedihan akibat ditinggalkan koleganya, penderitaan di negeri asing, perang yang menimpa bangsanya, intifâdhah yang dilakukan rakyat Palestina, perang di Bosnia-Herzegovina, dan konferensi perdamaian. Tema-tema tersebut dapat dijumpai dalam karyanya: Hadîts al-Sinîn, Fî Majlis Abî Thayyib al-Mutanabbî, Lafîf wa Asytât, dan Min Hadîts Abî al-Nadâ.

Kepakarannya dalam bahasa Arab juga dibuktikan dengan banyak karya suntingan (tahqîq) yang dilakukannya, baik individual maupun bersama dengan orang lain. Sebagai muhaqiq, ia juga termasuk sangat produktif, karena setidaknya ia telah mengedit 22 karya ulama masa lampau. Selain mengedit Kitâb al-‘Ain, ia juga telah mengedit beberapa karya penting dalam beberapa bidang, seperti: al-Amkinah wa al-Jibâl wa al-Miyâh karya al-Zamakhsyarî, al-Zahrah karya Abû Bakr ibn Muhammad ibn Daud al-Ishbahâmî (255-297 H.), Falak al-Qâmûs karya ‘Abd al-Qâdir al-Husainî, dan Fi at-Ta‘rîb wa al-Mu‘arrab karya al-Jawâlîqî.

Meski di negaranya sendiri kurang mendapat “tempat terhormat” karena pendapat-pendapat yang cenderung reformis dan tidak sepaham dengan rezim Saddam ¦ussein, popularitas dan otoritasnya sebagai pakar diakui di dunia internasional. Setelah menyelesaikan program Doktornya di Universitas Sorbone, ia lebih banyak mengabdi sebagai dosen tamu di luar negeri. Jika negaranya tidak menempatkannya sebagai salah satu anggota Lembaga Ilmu Pengetahuan Irak, ia justru menjadi anggota di sejumlah Lembaga Bahasa Arab di Kairo, Jordania, Damaskus, dan Lembaga Ilmu Pengtahuan India.  Di mata koleganya, ia teramat  tekun, disiplin dan cinta terhadap ilmu pengetahuan.  Ia menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di antara buku-buku, baik sebagai pembaca, peneliti, penulis, pentahqîq, maupun penerjemah dan pengajar. Akhlaknya pun dipuji oleh banyak orang, karena ia sangat terbuka, lapang dada, tidak emosional, baik hati, lemah lembut dan suka membagi-bagikan buku atau karyanya kepada para mahasiswa, kolega, dan lembaga pendidikan. Ia juga tidak pernah menuntut haknya ketika beberapa karya dibajak di Beirut. Dengan demikian, as-Samarrai adalah profil ulama’ dan lingusi Arab reformis, kreatif, disiplin sekaligus tulus dan baik hati dalam menyebarluaskan ilmu dan karyanya. Semoga kita bisa meneladaninya dalam berkhidmad di dunia keilmuan dan kebahasaaraban.

DAFTAR PUSTAKA

al-‘Alwânah, Ahmad, Ibrâhîm al-Sâmirrâî: ‘Allâmat al-‘Arabiyyah al-Kabîr wa al-Bâhits al-Hujjah, Damaskus: Dâr al-Qalam, 2001.

as-Sâmarrâî, Ibrâhîm, al-‘Arabiyyah Târîkh wa Tathawwur, Beirut: Maktabah al-Ma‘ârif, Cet. I, 1993.

—-, al-Dakhîl fi al-‘Arabiyyah, wa al-Fârisiyyah wa al-Turkiyyah: Mu‘jam wa Dirâsah, Beirut: Maktabah Lubnân, 1997.

—-,  Dirâsât fi al-Lughatain al-Suryâniyyah wa al-‘Arabiyyah, Beirut: Dâr al-Jîl, 1985.

—–, al-Fi‘l Zamânuhu wa Abniyatuhu, Beirut: Muassasah al-Risâlah, Cet. III, 1983.

—-, Fiqh al-Lughah al-Muqâran, Beirut: Dâr al-‘Ilm li al-Malâyîn, 1987.

—-, Fi al-Shinâ ‘ah al-Mu‘jamiyyah, ‘Ammân: Dâr al-Fikr, 1998.

—-, F³  al-Lahajât al-‘Arabiyyah al-Qadîmah, Beirut: Dâr al-Hadâtsah, 1994.

—-, Ma‘a al-Mashâdir fi al-Lugah wa al-Adab, ‘Ammân: Dâr al-Fikr, 1983.

—-, Ma‘a Nahj al-Balâghah: Dirâsah wa Mu‘jam, ‘Ammân: Dâr al-Fikr, 1987.

—-, al-Madâris al-Nahwiyyah: Usthurah wa Wâqi‘,‘Ammân: Dâr al-Fikr, 1987.

—–,  Min Asâlîb al-Qur’ân, Beirut: Muassasah al-Risâlah, Cet. I, 1983.

—–, Min Sa’ah al-‘Arabiyyah, Beirut: Dâr al-Jîl, Cet. I, 1994.

—-, Min Badî‘ Lughat al-Tanzîl, Beirut: Dâr al-Furqân, 1984.

—-, Mu‘jam al-Farâid, Beirut: Maktabah Lubnân, 1984.

—-, Mu’jam wa Dirâsah fi al-‘Arabiyyah al-Mu‘âshirah, Beirut: Maktabah Lubnân, 2000.

—-, al-Tathawwur al-Lughawî al-Târîkhî, Beirut: Dâr  al-Andalus, Cet. I, 1981.