JAGALAH MULUTMU

Ahmad Thib Raya |
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta |

Lidah adalah salah satu organ tubuh yang sangat fital bagi manusia. Dengan lidah seseorang bisa berbicara, bisa bercakap, bisa menyampaikan isi hatinya secara lisan. Bisa anda bayangkan kalau Anda tidak memiliki lidah, kalau Anda suatu saat mengalami sariawan, Anda setengah mati mau berbicara tudak bisa.

Lidah bisa mengucapkan apa saja, yang baik maupun yang buruk, yang kasar maupun yang lembut, yang jorok maupun yang santun. Ajaran puasa yang sedang kita laksanakan pada bulan Ramadhan ini mengajarkan kita untuk menahan lidah kita dari ucapan yang buruk, dan mendidik lidah kita untuk berucap yang baik, yang sopan, dan yang santun. Sebab, puasa itu tidak hanya menahan perut agar tidak dan minum dan berhubungan dengan suami/isteri.

Jagalah lidahmu. Menjaga lidah berarti menahan lidahmu dari ucapan yang kotor, dusta, bercerita tentang orang lain, memaki orang lain, ucapan yang menimbulkan permusuhan, menjadi saksi palsu, dan lain-lain. Jika ada orang yang melukaimu dengan ucapannya, katakanlah kepadanya bahwa aku sedang berpuasa. Hal ini seperti yang digambarkan oleh Rasulullah dalam hadis riwayat Abu Dawud yang bersumber dari Abu Hurairah:

‎عن ‏ ‏أبي هريرة ‏ ( ‏أن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال الصيام ‏ ‏جنة ‏ ‏إذا كان أحدكم صائما فلا ‏ ‏يرفث ‏ ‏ولا يجهل فإن امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل إني صائم إني صائم ‏ ) .

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Puasa itu adalah perisai. Apabila ada seseorang di antara kamu beroyasa, maka janganlah mengucapkan ucapan yang kotor dan jangan berdusta. Jika ada orang yang ingin memukulmu atau berantam denganmu dengan ucapan, atau bertengkar denganmu, katakanlah kepadanya bahwa aku sedang berpuasa. HR. Abu Dawud.

Di hadis yang lain dikatakan: “Barangsiapa yang diam, dia selamat. Gibah itu dapat merusak puasa, sebagaimana cuka dapat merusak madu.”

Demikianlah Rasulullah menyampaikan nasihat kepada kita agar kita senantiasa menjaga lidah kita, ucapan kita, kata-kata dan kalimat yang kita ucapkan. Jangan berkata yang kotor, yang tidak senonoh yang tidak ada gunanya. Kalau perlu, lebih baik diam daripada berbicara yang tidak benar. Kita seringkali mendengar ungkapan: “Diam itu emas.”

Ahli hikmat berkata: “Sesungguhnya manusia diberikan satu lidah dan dua telinga, agar yang didengar itu lebih banyak daripada yang diucapkan. Setiap orang pasti ingin berlindung di bawah lidahnya. Imam al-Hasan al-Basriy, salah seorang ahli sufi tekenal mengatakan: “Barangsiapa yang banyak bicara, akan banyak jatuh. Siapa yang banyak jatuh, akan banyak dosanya, dan siapa yang banyak dosanya, maka nerakalah yang pantas baginya.”

Kalau begitu apa yang harus kita lakukan dengan lidah kita. Ucapkanlah ucapan yang baik. Katakanlah kalimat yang sopan, santun, dan baik. Basahilah lidahmu dengan banyak berzikir, beristigfar, bertakbir, bertasbih, bertahlil, bacalah Al-Qur’an dan kalimat-kalimat yang baik lainnya. Jika tidak, diamlah seribu bahasa. Diammu adalah emasmu.

Semoga puasa kita mampu menahan lidah kita untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak baik, dan mampu membawa kita, dan membiasakan kita untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang baik. Aamiin. Kota Lhoksmame, Aceh, Rabu pagi, tanggal 7 Juni 2017.