MAKNA WALIMATUS SAFAR

Ahmad Thib Raya |
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta |

Pagi ini saya bersama isteri menghadiri acara walimatus safar untuk haji seorang kawan, Dr. Muhammad Zuhdi dan isterinya di Pamulang, Tangerang Selatan. Lalu terlintas dalam pikiran saya untuk menulis tentang makna walimatus safar.

Istilah walimatus safar sudah tidak asing lagi bagi kita, terutama bagi mereka yang sudah menunaikan ibadah haji, dan yang akan menunaikan ibadah haji, bahkan bagi kaum muslimin pada umumnya. Setiap orang yang akan naik haji, mengadakan acara walimatus safar, sebelum keberangkatan mereka. Kalau begitu, apa perlunya mengadakan walimatus safar itu? Mari kita simak uraian berikut.

Istilah walimatus safar berasal dari kata Arab, yang kemudian menjadi bahasa Indonesia. Jika Anda mencari dua kata itu dalam kamus bahasa Arab, maka Anda tidak akan pernah menemukan kedua kata itu berpasangan sebagai suatu istilah. Kalau mencarinya, satu per satu, mulai dari kata walimah, lalu kata safar, anda menemukan artinya.

Kata walimah (وليمة) artinya “acara, upacara, kenduri, hajatan.” Kata safar (سفر) artinya “bepergian, safar, perjalanan.” Jadi, walimatus safar itu berarti acara atau upacara yang diadakan oleh seseoramg karena akan melalukan suatu perjalanan suci, menunaikan ibadah haji. Acara walimatus safar tidak pernah diadakan untuk perjalanan yang lain, selain perjalanan haji. Ini berarti bahwa walimatus safar itu berkaitan dengan naik haji.

Untuk acara itu, diundanglah kenalan, sahabat, kawan, dan keluarga untuk ikut dalam acara itu, dengan rangkaian acara yang spesial. Ada taushiyah, ada ceramah terkait haji, dan ada pula acara salaman dengan yang berhajat. Acara ini menjadi acara yang penting bagi setiap orang yang akan menunaikan ibadah haji. Rasanya tidak sah atau tidak afdal perjalanan mereka, kalau acara itu tidak diadakan.

Lalu apa makna di balik acara itu? Begitu banyak makna yang terkandung dalam acara itu. Di antaranya sebagai berikut:
1. Kesempatan unutuk Meningkatkan hubungan silaturrahim di antara sesama.
2. Kesempatan untuk Saling memaafkan satu sama lain, terutama antara yang akan melakukan haji dan orang-orang yang akan ditinggalkannya. Dengan harapan, agar ketika dia berangkat haji, dia berangkat dalam keadaan suci, bersih dari dosa.
3. Kesempatan bagi yang hadir untuk memohonkan doa kepada Allah untuk yang akan naik haji, untuk keselamatannya, kesehatannya, keamanannya, dan untuk mendapatkan keridhaan Allah dan rahmat-Nya.
4. Kesempatan untuk saling memberi sedekah di antara yang hadir. Yang berhajat memberi sedekah kepada para undangan, dan para undangan memberi sedekah dengan doa.

Orang-orang yang naik haji adalah tetamu, utusan, dan delegasi Allah yang secara khusus diundang oleh Allah untuk datang beribadah di rumahnya (Baitullah) dan tanah haramnya, Arafah, Muzdalifah, dan Mina dengan berbagai kegiatan ibadah yang lain di tempat-tempat itu. Sebagai tetamu Allah, mereka adalah orang-orang yang diberi kekhususan oleh Allah.

Berkaitan dengan kekhususan mereka itu, Rasulullah menyatakan: “Orang-orang yang menunaikan haji (hujjaj) dan orang-orang yang menunaikan umrah (ummaar) adalah tetamu Allah swt. Jika mereka meminta kepada Allah, Allah mengabulkannya. Jika mereka berdoa, doanya dijabah oleh Allah. Jika mereka meminta ampun, Allah mengampuni dosa-dosa mereka.

Mereka yang telah melaksanakan ibadah haji dan umrah, diampuni semua dosanya oleh Allah swt, tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. Mereka pulang dari haji dan umrah, bagaikan bayi yang baru lahir, yang tidak ada noda dan dosa apa pun.

Ibadah-ibadah termasuk di dalam ibadah haji adalah sarana pengampunan dosa, karena melanggar hak-hak Allah. Walimatus safar yang diadakan sebelum berangkat haji, menjadi sarana yang efektif untuk meminta maaf atas dosa mereka terhadap sesama. Jika dosa terhadap sesama sudah diamaafkan, maka kebersihan dan kesucian baginya menjadi sempurna.

Ketika mereka kembali dari haji, mereka menjadi manusia yang bersih dari dosa terhadap Allah dan dosa terhadap sesama manusia. Kesucian dan kebersihan yang sempurna yang diperoleh oleh orang-orang yang naik haji dan umrah.

Inilah yang menjadi harapan dan dambaan setiap orang yang akan menunaikan ibadah haji, di samping ketenangan batin, rahmat dan ridha-Nya yang diraih mereka.

Saya ikut memohon doa untuk kawan saya ini, Dr. Muhammad Zuhdi dan isterinya, agar Allah menjaga keselamatan, keamanan, dan memberi kesehatan dan kekuatan kepadanya sehingga dapat melaksanakan rangkaian ibadah haji dan umrahnya ini dengan sempurna dan kembali ke tanah air dalam keadan selamat dengan amalnya yang diterima, dan dosa-dosanya yang diampuni Allah SWT.

Wallaahu a”lam bi al-shawab. Semoga bermanfaat, dan doa kita dikabulkan Allah. Aamiin. Taushiyah ditulis dalam perjalanan dari kediaman Matraman menuju tempat acara walimatus safar di Pamulang, Tangsel, Sabtu pagi, tanggal 5 Agustus 2017,