KARENA TAK BERSYUKUR, ANDA DIPANDANG KAFIR

Ahmad Thib Raya |
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta |

Begitu banyak nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita setiap saat. Begitu banyak kenikmatan, ketenangan, dan kebahagiaan yang dianugerahkan Allah pada manusia. Semua itu harus kita syukuri. Mungkin ada orang yang tidak merasakan nikmat yang banyak itu. Orang yang sepeti ini dipandang kafir, karena tidak mensyukuri nikmat Allah itu.

Bisa Anda bayangkan, usai Anda bekerja, Anda merasa lelah, letih, dan capek. Lalu Anda tidur nyenyak. Ketika bangun tidur Anda merasa fresh, segar, dan bugar kembali. Kelelahan, kecapean, terasa hilang sama sekali. Pikiran Anda tenang, hati Anda tenang, dan badan Anda terasa enak kembali.

Yang paling merasakan nikmat sehat itu adalah orang-orang super sibuk. Dari satu tempat ke tempat yang lain, dia melaksanakan pekerjaan yang tidak sedikit dan tidak kecil. Sepanjang hari dia melakukan tugas dan pekerjaan itu tanpa henti. Maka setiap hari juga dia merasakan letih, dan capek. Lalu dia beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan sedikit pun. Pada malam hari pun dia menikmati tidurnya dengan tenang pula.

Bahkan, ada orang yang merasakan nikmat kesehatan dan kesegaran itu pada saat istirahat, antara satu pekerjaan dan pekerjaan lain. Ada orang yang bisa memanfaatkan waktu terbang dengan pesawat untuk tidur sepanjang perjalanan mereka. Dari Makassar menuju Jakarta, dia bisa memanfaatkan waktu terbang itu untuk istirahat, mulai dari duduk di pesawat hingga menjelang mendarat.

Sebaliknya, ada orang yang tidak dapat memanfaatkan waktu itu untuk istirahat dan pada malam tidak dapat tidur dengan baik. Dia gelisah, dia merasa tidak tenang, dan bahkan dia tidak bisa tidur. Karena itu, keesokan harinya dia tidak merasa fresh, tidak merasa segar, dan tidak merasa sehat sehingga pagi harinya dia tidak dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik, padahal begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya dalam setiap hari.

Karena itulah, Islam memerintahkan umatnya untuk mensyukuri setiap nikmat yang dianugerahkan kepadanya sekecil apapun nikmat itu yang diperolehnya. Tidak sulit mensyukuri nikmat itu. Anda cukup mengucapkan Alhamdulillah setiap kali Anda mendapatkan nikmat itu. Inilah tanda syukur yang paling ringan. Sehabis makan, Anda mengucapkan Alhamdulillah, karena Anda mendapatkan makanan untuk dimakan, dan Anda dapat menikmati makanan itu dengan selera makan yang baik. Ada orang yang ingin makan, tapi makanan tidak ada. Ada makanan, tapi ada orang yang tidak dapat menikmati makanan itu.

Setiap bangun tidur kita diminta untuk mengucapkan Alhamdulillah sebagai wujud rasa syukur yang paling rendah yang harus dilakukan. Mengapa demikian? Malam telah disiapkan oleh Allah untuk tidur, dan Anda dapat menikmati malam itu dengan tidur nyenyak. Ada orang yang melewati malamnya tanpa menikmati tidur nyenyak.

Oleh sebab itu, syukurilah nikmat Allah itu agar Allah menambahkan nikmat-nikmat yang lain yang lebih besar daripada itu. Allah telah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya, “Jika kamu bersyukur, pasti Kutambahkan untukmu nikmat yang lebih besar dan lebih baik daripada itu.”

Wallaahu a’lam bi al-shawaab. Semoga kita menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur atas segala nikmat-Nya sehingga senantiasa mendapatkan nikmatnya yang lebih baik. Aamiin. Jakarta-on the way to Kampus UIN Jakarta, Senen pagi, tanggal 25 September2017.