WADEK III FITK: KEGIATAN MAHASISWA PANGKAL MUTU PENDIDIKAN

Gedung FITK – Dosen-mahasiswa menjadi komponen terpenting dalam kehidupan kampus. Posisinya, memiliki peran strategis dalam rangka menjaga keutuhan kualitas pendidikan. Dosen bertanggung jawab terhadap pengawalan kualitas pembelajaran, sementara mahasiswa juga berperan memberikan umpan balik (feed back) semua proses edukasi, tradisi akademik, dan suasana akademik yg berlangsung di pendidikan tinggi.

Demikian disampaikan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama (Wadek III) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta Dr Fauzan MA usai memberikan sambutan pada kegiatan Management of Education Fair (ME FAIR) 2017 Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan FITK, Senin (31/10/2017) di Ruang Teater Prof Dr Zakiah Darajat Lt. I FITK.

“Tak ayal jika Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN PT) sangat mengapresiasi kedua komponen tersebut,” ujar Fauzan.

Keberadaan kedua komponen tersebut, lanjutnya, harus tetap terjaga, terutama menyangkut input, proses (pembelajaran, prestasi, keterlibatan dalam riset/PKM ilmiah), sehingga output menjadi lebih kompetitif dalam bursa dunia kerja.

Kreativitas dan Kedisiplinan Mahasiswa

Menurut Fauzan, dilihat dari style dan karakteristik organisasi kemahasiswaan, dapat dibedakan menjadi tiga tipologi, yaitu intra kampus, ekstra kampus, dan primordial/kedaerahan.

Dijelaskannya, intra kampus berarti semua komponen aktifitas organisasi di dalam kampus (Senat Mahasiswa, Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas/Fakultas/Program Studi, Unit Kegiatan Mahasiswa –red.) tidak lagi berfikir berapa anggaran yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan. Karena biasanya, setiap perguruan tinggi sudah memberikan plot anggaran yang jelas (sesuai porsi) untuk masing-masing unit kegiatan kemahasiswaan.

“Tentu saja, yang dituntut intra kampus hanya sebuah kreatifitas dan kematangan berfikir mengembangkan aktifitas akademik/non akademik yang berdampak positif. Kondisi demikian sangat berbeda dengan organisasi primordial dan ekstra kampus (HMI, PMII, IMM –red.) organisasi luar kampus yang tidak memiliki afiliasi sedikitpun dengan pengelolaan perguruan tinggi,” imbuhnya.

Selain kreatifitas mendesain sebuah program yang ciamik, dosen Kependidikan Islam FITK itu menjelaskan, ekstra kampus juga dituntut kreatif dalam penyiapan anggaran kegiatan. Kondisi ini semakin miris ketika intra kampus yang menjadi palang pintu kehidupan kampus dituntut kreatifitasnya, sementara ketersediaan anggaran dari waktu ke waktu terus mengalami pemotongan.

“Belum lagi persoalan kebiasaan pencairan anggaran yang tidak ontime, yang tidak sesuai dengan kelaziman bulan, April untuk awal pencairan dan Nopember himbauan mengahiri semua kegiatan. Mungkin hanya delapan bulan efektif semua kegiatan dilaksanakan,” tandasnya sambil menambahkan, “Lalu apa yang bisa diperbuat untuk mengantisipasi kondisi demikian?”

Menurutnya, sistem pengelolaan pendanaan mestinya terintegrasi dengan semua kegiatan (akademik/non akademik), termasuk dosen dan mahasiswa. Jika Uang Kuliah Tunggal (UKT) menjadi satu-satunya sumber biaya pendidikan, mestinya sudah harus bisa meng-cover semua kebutuhan kegiatan kemahasiswaan; baik yang terkait dengan aktifitas intra kampus, maupun kebutuhan pribadi mahasiswa dalam bidang penguatan kompetensi tambahan, karena semua lulusan PS dituntut memiliki kemampuan lain yang tersanding dalam Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).

Untuk menjaga kualitas kegiatan mahasiswa dengan kondisi dana yang kurang memadai, Fauzan menawarkan solusi dengan melakukan tiga langkah strategis. Pertama, membuat acuan grand design yang mengarah pada pengembangan mutu akademik.

“Ajak seluruh komponen intra kampus berfikir untuk tidak hanya menghabiskan anggaran kegiatan, tetapi tawaran program akademik/non akademik yang bisa memberikan impact bagi masyarakat kampus, misalnya percepatan proses studi,” imbuhnya.

Kedua, lanjut pria kelahiran Indramayu 1976 itu, buat komitmen dan tradisi kerja organisasi yang dapat mendisiplinkan mahasiswa pada soal pelaporan kegiatan (SPJ).

“Biasanya jika tidak dibuat komitmen sejak awal, tradisi molor dalam pelaporan biasanya menjadi ciri khas organisasi mahasiswa. Nilai edukasi yang bisa dilihat dari proses ini, secara tidak langsung para aktivis memiliki pola disiplin, jujur, teliti, dan kerja keras dalam bertindak,” terang Fauzan.

Ketiga, Fauzan menegaskan, keterbukaan dalam distribusi anggaran yang dapat membiayai semua kegiatan.

“Mereka tidak butuh informasi sumbernya dari mana, BOPTN, BLU, atau sponsorship, yang terpenting ketika kegiatan mau dilaksanakan dana tersedia,” tandasnya.

Oleh karena itu, Fauzan menyarankan selain memberikan pengawalan ekstra lebih pada soal penganggaran ini, sistem administrasi keuangan pun mestinya terus berijtihad dalam memberikan service excelence, sehingga tidak lagi ada kesan ribet dalam persoalan verifikasi, pencairan, dan pelaporan.

Aktivisme dan Idealisme Mahasiswa dalam Berorganisasi

Dalam penuturannya, Fauzan menegaskan lebih lanjut, sebagai pelaku sejarah aktifitas kemahasiswaan (intra, ekstra, primordial kampus), sejatinya semua mahasiswa mesti menyadari pentingnya peran organisasi kemahasiswaan.

“Banyak torehan pengalaman, penguatan nilai karakter, terlebih soal jaringan (networking) yang memang hanya diperoleh melalui bangunan organisasi. Peran-peran organisasi bisa berdampak positif bagi keberlangsungan studi mahasiswa, bahkan melalui wadah ini mestinya derajat kemampuan para aktivis harusnya lebih tinggi ketimbang mahasiswa pada umumnya,” ujarnya.

Sebaliknya, sambung Fauzan, ketika organisasi tidak diperankan secara baik, maka akan berefek pada menurunnya kualitas  mahasiswa. Ada cara pandang keliru dari sebagian aktivis mahasiswa yang menganggap organisasi itu segalanya, tempat melakukan eksplorasi dan elaborasi, ajang kreatifitas dengan mengenyampingkan studi akademik di bangku kuliah.

“Efek nyata dari kekeliruan tersebut tentu proses penyelesaian studi yang cukup lama (mahasiswa abadi), bahkan kemungkinan besar Drop Out (DO). Cara pandang yang benar, aktivitas organisasi hanyalah sebuah metodologi (ikhtiar) bagaimana proses perkuliahan bisa teratasi. Belajar (learning) dengan target penyelesaian akhir sangat baik mestinya menjadi tujuan semua mahasiswa,” pungkasnya.

Diketahui dari Bagian Keuangan FITK bahwa penyerapan anggaran kegiatan Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (Omik) di FITK mencapai 100%, sehingga FITK menjadi fakultas yang paling banyak kuantitas realisasi kegiatan kemahasiswaannya di UIN Jakarta pada 2017 ini.