Ibis Styles, Yogyakarta, BERITA FITK Online – Dalam rangka peningkatan mutu pelayanan administrasi terhadap dosen dan mahasiswa, 27 Tenaga Kependidikan (Tendik) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta mengikuti Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme Tenaga Kependidikan.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Pusat Pelatihan Pemerintahan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, bertempat di Ibis Styles Hotels, Yogyakarta, Kamis-Sabtu, (4-6/8/2022).

Sub Koordinator Umum TU FITK, Ahmad Fuqaha, M.H., dalam sambutannya menjelaskan, kegiatan Bimtek ini dilakukan untuk peningkatan kompetensi dan profesionalisme tenaga kependidikan.

“Teman-teman, kegiatan bimbingan teknis ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi dan profesionalisme tendik FITK dalam upaya peningkatan pelayanan administrasi yang prima kepada dosen dan mahasiswa,” ujar Afuq sapaan akrabnya.

“Saya berharap, kegiatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh teman-teman yang hadir, sehingga ada manfaat yang dibawa pulang saat kembali bekerja di FITK yang kita cintai,” sambungnya.

Afuq melanjutkan, kegiatan Bimtek tersebut didesain sedemikian rupa agar seluruh tendik FITK menyatu dan dapat bersilaturahmi.

“Acara ini kami desain sedemikian rupa. Selain peningkatan layanan kepada dosen dan mahasiswa dalam bentuk digitalisasi administrasi, kegiatan ini juga diharapkan agar seluruh tendik FITK menyatu dan bersilaturahmi. Karena bagaimana pun kita adalah FITK dan FITK adalah kita,” jelas Afuq.

Sementara itu, pemateri pertama Laksmindra Septiawati, S.E., M.BA. (Amikom Yogyakarta) menyampaikan tentang reformasi digitalisasi. Menurutnya, digitalisasi administrasi adalah suatu keharusan di era sekarang.

“Bapak/Ibu, hari ini digitalisasi administrasi adalah keharusan, apalagi posisi kantor Bapak/Ibu di UIN Jakarta yang berada di dekat ibu kota sebagai pusat informasi,” terang Laksmi sapaan akrabnya.

“Apalagi saat pendemi melanda dunia termasuk di Indonesia, semua urusan dialihkan dari manual ke digital, meskipun dengan platform yang sangat sederhana, seperti email, whatsapp, google classroom, dan lainnya,” jelasnya.

“Digitalisasi tidak selalu tentang data dan teknologi, tetapi juga tentang cara bekerja, kultur, dan menciptakan sistem yang agile. Jadi, kalau toolnya sudah disedikan, tapi ekosistem belum diterapkan itu sama artinya dengan digitalnya hanya di tampilan, sedangkan cara kerjanya masih manual,” pungkasnya. (MusAm)