Meneladani Gus Dur

Oleh: Muslikh Amrullah

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga nahdiyin, bulan Desember dikenang sebagai bulan Gus Dur. Hal tersebut karena tokoh besar pejuang demokrasi dan pluralisme tersebut wafat di bulan Desember, tepatnya pada 30 Desember 2009. Banyak predikat disematkan pada sosok Gus Dur, mulai dari ulama, Presiden RI ke-4, bapak bangsa, pejuang demokrasi dan HAM, tokoh pluralisme, pahlawan kemanusiaan, politikus, budayawan hingga pengayom bagi semua golongan. Terlebih perhatiannya yang demikian besar terhadap kelompok minoritas di negeri ini.

Gus Dur telah meninggalkan banyak warisan penting bagi negeri ini untuk dijadikan teladan berharga bagi bangsa dalam menghadapi setiap tantangan kebhinekaan. Ajaran Gus Dur akan selalu relevan untuk dijadikan contoh bagi segenap warga bangsa. Ia secara konsisten memperjuangkan pluralisme, bagaimana anak negeri ini mesti menjaga dan merawat bangsanya dengan anugerah kebhinekaan, mulai dari agama, suku, ras, bahasa, budaya, dan sebagainya.

Gus Dur kecil tumbuh dalam kultur pesantren. Sebuah tempat dengan nuansa penuh kesederhanaan, toleransi, serta praktik beragama yang sangat menghargai budaya nusantara. Perilaku beragama yang lebih menekankan pada substansi nilai-nilai agama daripada simbol-simbol formalitas agama. Gus Dur tumbuh besar dengan pengembaraan keilmuan yang begitu luas.

Cucu pendiri NU (Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari) ini telah mewariskan kepada kita tentang cara berislam sesuai dengan bingkai keindonesiaan. Agama yang menghadirkan perilaku saling mengasihi sesama umat manusia, tanpa harus membedakan suku, agama, ras, etnis, bahasa, budaya, dan sebagainya. Gus Dur juga dikenal dengan komitmennya yang demikian besar dalam melindungi serta mengayomi kelompok minoritas. Golongan yang terkadang rentan mendapatkan perlakuan tidak adil dan diskriminatif karena keberadaannya merupakan bagian kecil dalam sebuah komunitas. Dalam prinsip Gus Dur, kaum minoritas tetap harus mendapatkan perlakuan yang sama dan adil dalam setiap aspek kehidupan.

Sebagai pejuang demokrasi, sikap Gus Dur selalu konsisten dalam memperjuangkan kesetaraan bagi setiap warga negara, baik dalam aspek politik maupun hukum. Gus Dur membuka lebar ruang dialog dengan siapapun. Gus Dur tidak pernah memikirkan risiko dari setiap perjuangan yang ia lakukan. Selama apa yang diyakininya benar maka Gus Dur akan terus memperjuangkannya tanpa kenal takut.

Sebagai tokoh pejuang pluralisme, Gus Dur dengan gigih memperjuangkan terciptanya persatuan di antara elemen bangsa di tengah-tengah fakta kemajemukan yang ada. Gus Dur sadar bahwa keberagaman ada keniscayaan yang harus diterima oleh segenap warga bangsa. Gus Dur rajin mendatangi pemeluk agama lain maupun tempat ibadahnya demi menjalin persatuan walau sikapnya tersebut seringkali mendapat penentangan dari sebagian kelompok masyarakat, termasuk tokoh agama. Gus Dur telah mengajarkan kepada kita bahwa bergaul erat dengan kelompok agama lain tidak akan mengurangi tingkat keimanan seseorang terhadap ajaran agamanya. Justru hal tersebut merupakan bagian dari mengamalkan ajaran agama, yakni menjalin persatuan dalam upaya mewujudkan perdamaian.

Selain berderet predikat yang disematkan Gus Dur di atas, ia juga dikenal sebagai sosok humoris. Dalam berbagai kesempatan beliau selalu menyelipkan humor-humor segar, khas Kiai NU. Ungkapan “Gitu aja kok repot” begitu terpatri di hati rakyat dan pengagumnya hingga saat ini. Tentu saja ungkapan tersebut muncul bukan karena menyepelekan setiap persoalan yang sedang dihadapi, melainkan sebuah sikap untuk menyikapi persoalan dengan lebih sederhana. Ungkapan itu juga menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada sesuatu yang harus dipertaruhkan secara mati-matian hanya karena urusan duniawi, seperti jabatan dan sebagainya. Yang mahal harganya bagi bangsa ini adalah persatuan. Siapapun tidak boleh mengorbankan persatuan hanya demi meraih materi, pengaruh maupun jabatan. Hal itu pernah Gus Dur lakukan saat dirinya dilengserkan dari kursi Presiden RI ke-4 23 Juli 2001 silam.

Ajaran Gus Dur tentang penghargaan yang demikian besar terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang selalu dicontohkan sendiri dalam kehidupannya penting dijadikan teladan bagi kita semua. Praktik menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara dengan menjunjung tinggi kesetaraan, sebuah sikap untuk saling mengasihi, menghormati, menghargai, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Gus Dur menunjukkan kepada kita bahwa karakter asli masyarakat nusantara adalah sikap yang ramah terhadap kemanusiaan. Sikap yang mesti kita jaga dan rawat sebagai modal penting dan berharga bagi generasi muda dalam membangun dan memajukan bangsa ini.

Wallahu a’lam

Silaturahmi tanpa Pamrih

Silaturahmi tanpa Pamrih

Oleh: Muslikh Amrullah

Islam adalah agama yang penuh kedamaian, keharmonisan, kerukunan, dan persaudaraan. Hal tersebut bukti karena Agama Islam mengajarkan ukhuwah Islamiyah kepada pemeluknya. Ajaran ini adalah salah satu aspek yang utama dalam kehidupan beragama.

Agama Islam menganjurkan umatnya untuk mempererat silaturahmi dan menjaga hubungan baik kepada umat manusia, sesuai visi kerasulan Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk mensyiarkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Sebagai makhluk sosial, kita memerlukan orang lain dalam menjalani kehidupan. Sulit rasanya jika persoalan dan beban kehidupan ditanggung sendiri. Oleh karenanya, bersilaturahmi, berinteraksi, berkomunikasi, dan menjalin hubungan baik dengan sesama menjadi sebuah keharusan.

Mungkin setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menjalin silaturahmi dan menjaga hubungan baik kepada sesama, baik dengan keluarga, sahabat atau kerabatnya. Misalnya: dengan cara berkunjung langsung untuk menemui atau hanya lewat telepon dan whatsapp saja. Tentu cara-cara itu boleh dilakukan.

Kemudian muncul persoalan, jika silaturahmi dilakukan hanya saat butuh dan ketika ada keperluan belaka. Tidak sedikit dari kita menyambung silaturahmi atau menghubungi orang lain di saat ada perlunya saja. Jika tidak mempunyai keperluan atau kepentingan, berkabar lewat pesan singkat saja tidak, apalagi bertatap muka.

Beberapa contoh misalnya, saat pemilihan anggota legislatif atau pemilihan umum lainnya. Pada masa kampanye banyak sekali orang-orang yang mendadak menjadi ramah dan tidak sungkan mengunjungi masyarakat kecil. Mereka seolah sudah kenal dekat dengan masyarakat dan siap menjadi solusi persoalan yang dialami masyarakat. Padahal, yang bersangkutan baru sekali datang dan bukan dari daerah di mana masyarakat tinggal.

Contoh lain misalkan, sering kali pengurus organisasi khususnya organisasi kemahasiswaan menghubungi senior untuk bertemu dengan dalih silaturahmi saat akan mengadakan acara atau kegiatan saja. Sebelumnya, pengurus organisasi jarang atau tidak pernah sama sekali menghubungi seniornya sekedar untuk menanyakan kabar atau menginformasikan program, apalagi sampai berkunjung ke rumahnya dalam rangka silaturahmi.

Mungkin banyak contoh dan kasus lain yang menceritakan seseorang melakukan silaturahmi dan menjaga hubungan baik kepada sesama karena ada keperluan dan kepentingan yang melatarbelakanginya, baik keperluan pribadi maupun keperluan lainnya.

Mestinya, silaturahmi dan menjaga hubungan baik terhadap sesama dilakukan dengan tulus dan tanpa mengharapkan sesuatu. Bahwa dengan banyak bersilaturahmi dan menjaga hubungan baik kepada sesama akan berdampak positif untuk kita, tentu itu merupakan bonus yang patut disyukuri.

Oleh sebab itu, harusnya jiwa gemar silaturahmi dan senang berhubungan baik dengan orang lain terpatri kuat dalam diri kita, di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Tidak harus saat sedang mempunyai keperluan saja.

Dalam dua kasus di atas misalkan, jika calon anggota legislatif atau peserta pemilu melakukan silaturahmi atau pendekatan sosial terhadap masyarakat jauh-jauh hari sebelum masa kampanye, mungkin respons masyarakat akan jauh lebih positif dan menerima dibandingkan dengan mereka yang datang hanya pada saat kampanye.

Selain itu, mungkin saja dengan pendekatan natural yang dilakukan jauh-jauh hari, calon anggota legislatif tersebut tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak agar dipilih masyarakat, karena dia sudah cukup memiliki modal sosial yang sudah lama ditanam kepada masyarakat tersebut.

Sama halnya dengan silaturahmi dan menjaga hubungan baik pengurus organisasi terhadap seniornya. Jika silaturahmi itu dilakukan secara alamiah tanpa ada embel-embel apapun dan sudah menjadi budaya dalam organisasi tersebut, yakin rasanya tanpa harus menyodorkan proposal bantuan dalam setiap kegiatan, senior akan ikut berpikir dan berpartisipasi dalam mensukseskan acara organisasi. Baik yang berkaitan dengan bantuan dana maupun yang lainnya.

Jadi, bersilaturahmi dan menjaga hubungan baik dengan sesama harus dilakukan dengan total dan penuh ikhlas. Kapanpun, di manapun, dan kepada siapapun. Bersilaturahmi dan menjaga hubungan baik tidak harus bersyarat, juga tidak harus ada pamrih yang menyertainya.

SUWITO: Penekun Administrasi, Pengawal Akreditasi, dan Penggagas Internasionalisasi UIN

SUWITO:
Penekun Administrasi, Pengawal Akreditasi,
dan Penggagas Internasionalisasi UIN

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

Nama lengkapnya Suwito bin Suto Dikromo Rakiyo, lahir di Sukolilo Pati Jawa Tengah pada 7 Maret 1956. Pendidikan dasar dan menengahnya diselesaikan di kampung halamannya, Sukolilo dan Kudus. Setamat PGAN 6 Tahun di Kudus (1975), ia melanjutkan studinya di Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lulus sebagai sarjana muda pada 27 Juni 1979. Selanjutnya, Wito, panggilan akrabnya, melanjutkan studi pada program sarjana lengkap (Drs) di jurusan yang sama, dan lulus pada 17 Maret 1983. Lima tahun kemudian, Wito melanjutkan studi Program Magister di Fakultas Pascasarjana IAIN Jakarta dan lulus pada 1990. Pada tahun yang sama, Wito melanjutnya studinya pada Program Doktor dan lulus pada 28 Nopember 1995 dengan disertasi yang kemudian diterbitkan menjadi buku “Konsep Pendidikan Akhlaq Menurut Ibn Miskawaih”.
Karir akademik Wito sebagai dosen tergolong lancar dan melesat. Ditetapkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 1 Desember 1987 dan 14 tahun kemudian, tepatnya 1 September 2001 meraih pangkat akademik sebagai Guru Besar. Sebuah prestasi akademik yang patut ditiru oleh para dosen pada umumnya. Tidak hanya itu, setamat program Doktor, Wito juga langsung “diminta” Prof. Dr. Harun Nasution, direktur Program Pascasarjana (PPs) saat itu, sebagai asistennya.
Dari buku otobiografinya, para pemberi komentar dan kesan terhadap kontribusi Wito di bidang birokrasi, administrasi, dan akademik kampus itu pada umumnya sangat apresiatif, positif, dan konstruktif. Wito itu “orang yang tidak pernah diam” (M. Yunan Yusuf), disiplin dan tekun (Atho Mudzhar), rajin mengelaborasi pasal-pasal regulasi Perguruan Tinggi dan menyulap isian borang akreditasi dengan sangat kreatif (Dede Rosyada), low Profile, sangat dekat dengan siapa saja (A. Thib Raya). Dia adalah man of ideas, man of action, ahli dan jeli dalam seni untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan (the art of possibles) (M. Din Syamsuddin), memainkan peran instrumental dalam membangun UIN dengan ide dan aksi yang out of the box (Azyumardi Azra). Menurut Amin Abdullah, Wito adalah arsitek di balik alih status IAIN menjadi UIN, tidak hanya UIN Jakarta, tetapi juga UIN-UIN yang lain dengan manajemen visioner dan sentuhan kreatifnya. Karena pengalaman mengarsiteki alih status UIN, Wito kerap diminta sebagai konsultan ahli oleh sebagian besar calon UIN di Indonesia.
Salah satu papan nama yang awalnya mungkin “ditertawakan” sebagian orang: “Membaca Dunia, Dibaca Dunia” kini bukan hanya menjadi ikon Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk menulis karya yang mendunia dan layak dibaca dunia. Ikon tersebut sejatinya merupakan salah satu bentuk implementasi dari sebuah ide besar untuk menjadikan UIN sebagai universitas Riset bertaraf internasional. Sejumlah regulasi terkait “internasionalisasi UIN” dibuat oleh Wito dan diberlakukan di kampus SPs.
Selama menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik maupun Wakil Rektor Bidang Pengembangan Kelembagaan di era kepemimpinan Azyumardi Azra, Wito tampaknya tidak pernah lelah berpikir, berkreasi, dan menginspirasi sivitas akademika dengan ide-ide segar dan out of the box, keluar dari kelaziman. Di antara ide itu adalah penyampaian khutbah Jum’at di Masjid al-Jami’ah dengan menggunakan Bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Wito seakan mengajak sivitas akademika untuk menjadikan masjid tidak sekadar tempat shalat berjamaah, tetapi juga sebagai laboratorium praktik berbahasa Arab, Inggris, dan Indonesia, baik bagi dosen maupun mahasiswa, melalui khutbah Jumat.
Ide internasionalisasi UIN tersebut kemudian diimplementasikan melalui penerbitan ijazah UIN dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris. Ijazah dengan tiga Bahasa ini sempat diterbitkan di masa kepemimpinan Rektor Azyumardi Azra. Akan tetapi, karena ada yang protes atau tidak setuju, dan pertimbangan lain, ijazah UIN kemudian diterbitkan dengan bahasa Indonesia saja. Ide internasionalisasi juga diwujudkan dalam bentuk promosi SPs dalam tiga bahasa di sejumlah TV Bandara Soekarno Hatta.
Selama menjadi Wakil Rektor Akademik dan Wadir Sekolah Pascasarjana, banyak sekali gagasan, ide-ide kreatif Wito dimunculkan dan dieksekusi. Yang paling monumental adalah bahwa Wito menjadi konseptor, pelaku sejarah, dan saksi hidup konversi IAIN menjadi UIN Jakarta. Sesuai dengan kata-kata yang sering diucapkan sendiri, Wito itu orangnya “nggombloh”: berani tampil beda, tapi rasional dan futuristik. Hal-hal kecil yang jarang diperhatikan orang lain tetapi bagi Wito penting, pasti “digomblohi”. Sebut saja misalnya pengkodean Mata Kuliah, penyusunan borang Prodi model buku dan bercatatan kaki, hingga pemasangan rambu-rambu lalu lintas di jalanan Ibu Kota dan sekitarnya yang memunculkan nama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ide kreatif yang terakhir ini nyaris “tak terpikirkan” oleh pimpinan lain, bahkan perguruan tinggi lain di Ibu Kota.
Yang cukup monumental adalah bagaimana dengan “tangan dingin dan kreatif”, Sekolah Pascasarjana “disulap” menjadi kampus hijau (green campus) yang sejuk, nyaman, bersih, rapi, inspiratif, dan pintar. Tampaknya tidak berlebihan, jika Wito dinobatkan pelopor gagasan besar untuk menjadikan “smart campus” (kampus pintar), dengan SPs sebagai proyek percontohannya, termasuk gagasan mendisplay sejumlah karya dosen dan mahasiswa. Di kampus SPs, Wito banyak menyalurkan ide-ide kreatifnya yang nyaris takterpikirkan oleh yang lain, seperti menyulap pertamanan yang asri, sejuk, dan membetahkan para mahasiswa, sehingga tidak jarang sebagian mahasiswa masih “betah” di kampus sambil berinternet ria hingga pukul 22:00.
Penataan ruangan SPs, penerbitan Berita UIN, bulletin, papan informasi yang sengaja dijadikan sebagai “sumber informasi dan inspirasi” ternyata banyak memberi kesan tersendiri bagi para lulusannya. Ada satu kalimat inspiratif dan motivatif yang selalu terekam dalam long term memory mahasiswa SPs, yaitu: “Membaca Dunia, Dibaca Dunia”. Kalimat singkat tapi bernas itu adalah ide Wito yang sejatinya bermakna sangat dalam dan luas. Warga kampus ini diharapkan tidak hanya membaca karya-karya berbahasa Indonesia, melainkan juga karya-karya berbahasa asing, dari berbagai jurnal dan referensi terpercaya; lalu karya-karya mahasiswa itu diharapkan layak dibaca masyarakat akademik dunia, diterbitkan di jurnal nasional terakreditasi dan/atau jurnal internasional. Karena itu, salah satu kebijakan SPs di masa Wito dan diteruskan hingga saat ini adalah kewajiban lulusan S2 dan S3 untuk mempublikasikan hasil penelitian tesis dan disertasinya pada jurnal nasional terakreditasi dan/atau jurnal internasional.
Berbagai regulasi –yang awalnya terkesan menyulitkan dan menghambat penyelesaian studi yang digagas Wito dan biasanya diamini Prof Azra— yang diberlakukan di SPs dalam 8 tahun terakhir tidak lepas dari ide-ide kreatif dan futuristik Wito, mulai dari pemberlakuan standar kelulusan dengan pencapaian skor tertentu dari TOAFL dan TOEFL, WIP (Work in Progress), ujian komprehensif model baru, pemasangan CCTV, TV informasi, posko layanan kesehatan dan penyediaan ruang khusus bagi ibu-ibu yang menyusui anaknya, jogging track di depan kampus SPs, aneka papan informasi warna-warni, dan seterusnya merupakan buah karya yang tidak dapat dipisahkan dari sentuhan kreatif Wito, tanpa bermaksud mengurangi atau menafikan kontribusi yang lain.
Secara akademik, sebagai asesor BAN PT, Wito tampaknya menjadi semacam “dukun borang” yang sangat memahami “jeroannya”, sehingga Wito sangat sering menjadi konsultan akreditasi di berbagai perguruan tinggi, terutama di lingkungan UIN dan IAIN di seluruh Indonesia. Berkat sentuhan kreatif dan ketekunan Wito, Program Magister dan Program Doktor SPs mendapat nilai akreditasi A, termasuk nilai A untuk akreditasi institusi UIN dari BAN-PT.
Pengalaman inspiratif dari Pak Wito sungguh sangat kaya. Wito tampaknya bukan tipe “pemikir utopis”, melainkan “pemikir strategis, praktis, aplikatif, dan futuristik”. Ide-ide di bidang administrasi akademik maupun yang lain terkesan sederhana, tetapi konkret dan bermanfaat. Berulang kali ketika dihadirkan sebagai narasumber dalam pendampingan penyusunan dan simulasi borang Prodi di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Wito selalu tampil dengan ide-ide kreatif. Misalnya, pengisian borang itu perlu menggunakan sitasi dalam bentuk catatan kaki, dilengkapi foto-foto kegiatan, dilengkapi daftar pustaka, dicetak dengan format buku dan cover berwarna yang menarik, dan sebagainya*). Sebagai penekun administrasi dan pengawal akreditasi, Wito merupakan “man of concept” (konseptor) sekaligus “man of positive and creative action”.
Akan tetapi, setelah BAN-PT menerapkan kebijakan SAPTO, Wito tidak lagi menganjurkan pembuatan catatan kaki dalam penyusunan dokumen akreditasi melainkan sumber data harus dilengkapi dengan akses secara on-line atau link dan dipastikan sebagai dokumen formal dan sahih”, sehingga pada 18 April 2018 Wito bersama kawan-kawan Pustipanda UIN Jakarta memperoleh Surat Pencatatan Ciptaan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang berlaku selama 50 tahun.
Selain sabar, ulet, dan merupakan teknokrat sejati, kiprah dan kontribusi Wito dalam memajukan UIN menjadi World Class University atau Universitas Riset Bertaraf Internasional sangat signifikan dan banyak ditiru kampus IAIN atau UIN lain. Ide kreatif dan ketekunan prima dalam mengawal akreditasi institusi dan Prodi, termasuk jurnal di lingkungan UIN, Wito tergolong sosok penekun administrasi sekaligus “dukun” akreditasi yang kaya gagasan, inpirasi, motivasi, dan kreasi. Legasi kreatif dan inovatifnya yang tersebar dalam sejumlah regulasi, pedoman, SOP, fitur, pernak-pernik, dan tradisi akademik baru, khususnya peningkatan nilai akreditasi Prodi dan Institusi UIN, layak dijadikan sebagai teladan yang menginspirasi dan memotivasi sivitas akademika UIN untuk berpikir maju: kreatif, inovatif, konstruktif, futuristik, out of the box, dan produktif. Bagi Wito, tiada hari tanpa inovasi menuju internasionalisasi UIN.

Daftar Rujukan

Abdullah, M. Amin, “Prof. Suwito: Gigih, Ulet, Tekun, dan Berhasil Meniti Karir”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Abdul Wahab, Muhbib, “Kaya Inspirasi, Motivasi, dan Kreasi”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Azra, Azyumardi, “Mas Wito: Sekeping Ingatan: Mission Impossible menjadi Beyond Imagination”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Mudzhar, M. Atho’, “Prof. Dr. Suwito yang Disiplin dan Tekun”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Rosyada, Dede, “Prof. Dr. Suwito yang Saya Kenal”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Suwito, Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Suwito, Wawanaca Pribadi, Ciputat, 8 Januari 2020.
Syamsuddin, M. Din, “Man of the Ideas, Man of Action”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Yusuf, M. Yunan, “Si Lasak yang Tak Pernah Diam”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.

Saya Bahagia Jika Saya Kaya

Saya senang menulis tentang hal ini, sebenarnya ada 11 pembahasan dalam buku baru saya yang akan terbit maret besok berjudul “Unconditional Happiness”, saya pernah juga berpikir bahwa bahagia itu kalau punya uang banyak.

“Kerja yang rajin, biar banyak duit nanti hidupnya bahagia” kata-kata ini pernah saya dengar dari sudara di kampung yang bicara dengan anak laki-lakinya, sepintas tidak ada yang salah dengan kalimat ini, karena suka tidak suka kita semua memang ingin kaya.

Hanya saja jika kebahagiaan ditunda dengan kekayaan maka disanalah dimulai jiwa-jiwa keriput itu muncul.

Usia tidak ada yang bisa kompromi, justru semakin bertambah usia maka tubuh semakin keriput.

Jika tunggu kaya maka manusia normal seperti saya dan mungkin kita semua akan bahagia diusia senja, jika benar-benar kaya, atau jangan-jangan sampai tua dna matipun tidak sama sekali kaya.

Kasihan tentu saja.

Tapi kenyataanya memang banyak manusia yang hidupnya penuh kasihan, namun uniknya dirinya sama sekali tidak menyadari sama sekali.

Saya menyadari suatu hari ketika di kampung, diajak ayah ke sawah, setelah ikut panen padi waktu itu kita duduk di pematang sawah, lalu ayah dan ewa serta pekerja ikut duduk dan makan siang dengan lahap, rasanya makan siang sangat nikmat, padahal hanya dengan sayur asam, sambal dna ikan asin tahu tempe.

Disela-sela makan ada suara dahak besar  tandanya kenyang dari sebelah duduk saya, ternyata pakde makan sangat banyak dan kenyang, tampak wajahnya sangat bahagia, Benar-benar bekerja bahagia.

Disis lain, saya pernah diundang oleh seorang Bupati di daerah yang tidak bisa saya ceritakan, makanan yang mewah dan woww, dari udang sampai kepiting , apalagi ikan segar langsung dari pantai, sangat menggoda lidah namun yang justru kita tunggu adalah daging sapi khusus impor dengan harga selangit.

Makan tidak terlalu banyak, tapi sebelum mulai beliau ambil beberapa pil dan diminumnya, lalu berkata “lanjutkan saja mas naqoy, anda kan masih muda, kalau saya ga boleh makan kolesterol lagi” katanya.

Tampak wajanya lesu dan rapuh

uang yang banyak ternyata tidak bisa membeli kebahgiaan darinya, dia berkata sebelum pulang” seandainya saya suruh memilih, maka saya pilih sehat daripada kaya” katanya, sementara saya justru berkata “kalau saya pilih sehat dan kaya”.

Jika kalimatnya pas dengan anda, jangan puas dulu sebelum memiliki bukunya , order sebelum yang lain punya hub 081905666479 (WA, Naqoy Center).

Nanang Qosim SPdI (Naqoy), Penulis buku Unconditialhappiness dan Ketua IKALUIN FITK.

Menghadapi Masalah dengan Ilmu Ikhlas

Pendakian Ketujuh “Kesadaran Akan Jiwa yang Ikhlas (Awareness of Surrender)”

Hal yang terugi bagi mereka yang sedang memiliki masalah adalah gagalnya mendapatkan ilmu ikhlas (Awareness of Surrender), karena ketika seseorang mendapatkan ilmu ikhlas disanalah titik balik dan titik lompat dirinya akan melejit bahkan melebihi apa yang dirinya bayangkan.

Jika masalah datang dan seseorang tersebut belum menemukan “Awareness of Surrender,” maka dirinya justru akan mengalami keadaan psikologis yang berdampak kepada fisik yang disebutkan dalam buku The7Awareness adalah STS-Syndrom Toxic Success.

Dalam buku The7Awareness dijelaskan ada 11 ciri mereka yang gagal menemukan ilmu ikhlas, namun dalam hal ini minimal ada 4 yang saya bahas, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, up & down. Mereka yang gagal menemukan ilmu ikhlas akan mengalami keadaan jiwa, terkadang semangat dan terkadang lelah, pagi bisa semangat dan siang bisa lelah. Jiwanya mengalami kebingungan dan kecemasan karena kalah dalam menghadapi tekanan dalam kehidupanya.

Kedua, pholypasia, ini adalah keadaan dimana seseorang sering lupa dan melamun, dirinya sering kehilangan fokus dalam bekerja dan juga beraktivitas lainnya, untuk melawan kegagalannya menemukan ilmu ikhlas, seringkali dirinya mengahbiskan waktu dengan hal-hal yang sia-sia.

Ketiga, meaningless, merasa kehampaaan yang sangat sehingga sering merasa dirinya tidak ada artinya, bahkan merasa dirinya kurang dicintai dan disayang oleh keluarga bahkan sampai merasa diabaikan oleh teman-temanya. Orang-orang yang berada di sekelilingnya sangat peduli dan mencintainya namun dirinya merasa bahwa dialah orang yang paling menderita dalam kehidupan ini.

Keempat, Stress Surrender, ketika seseorang gagal menemukan ilmu ikhlas, maka yang akan muncul adalah stress, bahkan sebuah kekalahan hidup yang membuat dirinya mengalami stress yang membuatnya menyerah. Banyak orang yang mengalami stress di zaman modern karena tekanan zaman yang benar-benar menyakitkan, jika kita tidak memiliki hal ini maka akan menjadi korban dari hebatnya zaman modern yang serba canggih namun justru meninggalkan sisi kemanusiaan dalam diri setiap kita.

Kita tinggal di zaman modern yang justru membuat banyak manusia gagal menemukan hakikat jati dirinya, kecanggihan abad modern membuat manusia lebih dekat dengan kemodernan namun gagal berdialog dengan dirinya. Disinilah manusia mulai menjauhi citra dirinya, sehingga mudah mengalami keterasingan dan kegelisahan menghadapi kemodernan zaman.

Ketika masalah datang dan berbagai cara telah dicoba, maka kunci terbesar dan terhebat dari manusia adalah ketika dirinya menemukan ilmu ikhlas –sebuah keadaan batin yang menentramkan dirinya yang membuat dirinya merasa rendah dan kecil di hadapan Tuhanya. Mereka yang mempraktikkan ilmu ikhlas dalam kehidupannya akan menemukan jalan-jalan “indah di sana sini” seperti layaknya nyanyian anak-anak “di sini senang di sana senang, di mana-mana hatiku senang.” Batinnya yang ada hanya kegembiraan, sehingga hidup ini memang “amazing”, ada banyak hal-hal indah yang sering muncul pada saat kita siap menjadi yang terbaik bukan hanya sebatas baik saja.

Mereka yang memiliki ilmu ikhlas, dalam The7Awareness disebut “Awareness of Surrender” tentu saja akan mudah menemukan jalan cinta, walau masalah tetap ada namun dirinya percaya bahwa pada saat kita ikhlas dan benar-benar menyerah, maka alam semesta akan menyerah dan mengikuti kita dengan memberikan peristiwa yang sering kita sebut kebetulan padahal tidak ada namanya kebetulan. Berikut adalah afirmasi di persoalan yang sedang kita hadapi.

“Terima kasih Ya Allah, Ya Tuhan masalah saya selesai.”

“Terima kasih Ya Allah, Ya Tuhan saya ikhlas menghadapi masalah.”

“Terima kasih Ya Allah, saya kuat menghadapi masalah.”

“Terima kasih Ya Allah, Ya Tuhan. Saya bisa melewati masalah ini.”

“Terima kasih Ya Allah, saya semakin bersyukur.”

“Terima kasih Ya Allah. Hidup saya penuh tantangan dan saya bisa melewatinya.”

“Terima kasih Ya Allah atas segala-galanya.”

Nanang Qosim SAg (Naqoy), Ketua ALTAR -IKALUIN FITK & Founder Rumah Kesadaran.

Solusi Masalah dengan Awareness Ke-Enam “Kesadaran akan Visi Ilahi-Awareness of Vision”

Salah satu yang hancur dan bahkan bisa hilang ketika seseorang memiliki masalah adalah visi, impian, dan cita-cita. Ketika seseorang kehilangan visi, maka akan kehilangan antusiame, semangat, dan gairah dalam hidup.

Visi bagaikan cahaya yang jika hilang akan meredupkan sebuah ruangan jiwa. Pada saat jiwa gelap gulita, maka kita akan berjalan kehilangan arah bagaikan seorang pilot yang kehilangan peta, sehingga akan salah turun.

Masalah dan masalah adalah hal yang tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan manusia, sejak manusia dilahirkan dengan segudang masalah sampai akhir hayatnya, hampir dipastikan bahwa tidak ada manusia di atas muka bumi yang tidak ada masalah.

Manusia memiliki keahlian mersepon sebuah permasalahan. Dalam, hal ini ada tiga tipe dalam hal visi.

Pertama, membuang semua visi dan cita-cita dalam kehidupanya. Masalah memaksa dirinya untuk membunuh visi kehidupan. Baginya jika ingin tidak ada masalah, maka berhentilah membuat visi. Semakin visi dibuat, maka masalah semakin berat kepadanya. Baginya hidup harus mengalir bagaikan air saja, tidak usah dilawan atau direncanakan karena semakin merencanakan justru semakin banyak yang tidak menjadi nyata. Tipe pertama adalah tipe dari kelompok yang pesimis dan mudah menyerah bahkan sebelum perang itu dimulai.

Kedua, tetap memiliki visi, namun tidak ada tindakan nyata. Dalam hatinya yang ada adalah keraguan dan kecemasan, sisanya adalah harapan. Jika dibuat prosentasi, tentu saja lebih banyak kecemasan dan kegelisahan dibandingkan harapan dan keyakinan. Terkadang semangat dan terkadang lelah putus asa. Visi seringkali terlintas dalam pikirannya, namun dirinya tidak memiliki kemampuan untuk menjadikan visi itu menjadi nyata. Baginya visi adalah hanya masa lalu yang penuh kenangan, namun sekarang telah terbuang.

Sementara ketiga, mereka yang dengan adanya masalah justru semakin kuat dan kompak dalam membangun visi. Visi yang tadinya tanpa jiwa jutsru menjadi lebih hidup ketika menemukan masalah. Layaknya pembuatan kue, yang semakin terasa nikmat ketika dibentuk pola berkali-kali.

Jika pertama adalah pesimis, sementara kedua “up & down” dan yang ketiga adalah optimis dan penuh tindakan nyata menuju visi. Saya ingin membagikan cerita tentang kisah seorang pendaki Gunung Himalaya yang sangat menginpirasi.

Dikisahkan dalam buku The7Awareness, di sepanjang menuju Hilamaya banyak sekali tengkorak dimana-mana, sampai suatu hari terdengar ada seorang pendaki yang berhasil menaiki Hilamaya pertama kalinya. Mendengar berita tersebut langsung banyak media penasaran. Mereka menunggu di pos pertama pendakian sampai akhirnya yang ditunggu datang. Para wartawan bertanya, “Apa rahasia Anda bisa mendaki Himalaya, sementara di sini banyak tengkorak mati menuju puncak Himalaya. Lalu pendaki ini menjawab, “Pada saat kaki saya masih di Himalaya, namun hati saya sudah di puncak Himalaya.” katanya

Mari kita bahas rahasia suskes pendaki Himalaya ini. Gunung Himalaya adalah masalah atau tantangan, serupa dengan seseorang yang memiliki masalah. Seorang alumni pelatihan The7Awareness, ibu ini memiliki hutang empat Milyar oleh perbuatan mitra bisnisnya yang mendzoliminya. Ketika dirinya mengeluh dan mengatakan, “Sampai saya mati, hutang ini tidak mungkin saya lunasi Pak Naqoy,” katanya.

Saya bertanya, “Apa ibu memiliki impian terbesar dalam hidup?”
“Saya ingin Indonesia jadi kiblat fashion Muslim dunia pak” katanya.
“Tapi saya ragu sekarang bicara dunia, karena bicara tentang diri saya saja sudah menyerah” tambahnya. “Ternyata dunia terlalu kejam yah pak, saya tidak menyangka teman baik satu perusahaam bisa melakukan ini kepada saya” katanya.
“Saya tiap hari lari dari para penagih hutang yang membuat keluarga saya ikut mengalami stress beberapa waktu yang lama” katanya

“Baik bu, saya sudah mendengar semua, apakah masih ada yang ingin ibu sampaikan,” saya menjawab. “Tidak ada pak,” katanya. “Saya siap menunggu nasihat terbaik dari Pak Naqoy,” sambil menunjukan wajah yang sungguh-sungguh.

“Baik Bu, saya akan memberikan nasihat terbaik saya. Ibu buka hati dan pikiran yang seluas-luasnya, sehingga bisa menjadikan pertemuan kita hari ini adalah berkah.”

“Yang pertama dan utama adalah hati ibu ini sudah penuh dengan selain Allah” kata saya, tapi sepertinya ibu tidak setuju dengan ucapan saya lalu mengatakan,
“Kok bisa begitu Pak. Saya kan tiap hari berdoa bahkan sambil menangis kehadapan Allah. Masalah saya ini sangat berat sampai saya sendiri merasa tidak sanggup memikulnya” katanya.

“Mengapa saya mengatakan itu kepada ibu? Karena selama ini yang ada dalam otak dan hati ibu adalah hutang empat milyar, bahkan dalam ibadah kepada Allah juga selalu mikirin hanya hutang empat milyar,” kata saya. Saya melanjutkan
“Permahkah ibu masukan lagi visi terbesar ibu di dunia ini” saya mengatakan. Ibu terdiam dan bingung apa yang saya maksudkan visi besar itu. Lalu dirinya bertanya, “Apa sebenarnya visi terbesar itu Pak?” katanya.

“Dalam Alquran, ketika Allah bertanya kepada Ibrahim, hendak kemana engkau pergi wahai Ibrahim, lalu Ibrahim menjawab “Aku pergi menghadap Tuhanku”
“Jadi visi manusia terbesar adalah bagaimana mendekatkan diri kepada Allah, sehingga Allah benar-benar ada bukan hanya dalam ucapan namun dalam hati kita terdalam. Saya setuju dengan ibu, bahwa hutang empat Milyar itu besar, ketika Allah dalam hati, maka kita yakin bahwa semuanya mungkin saja bisa berubah di hadapan Allah, karena Allah Maha Besar,” saya menjelaskan dengan jelas sekali.

“Iya pak, saya baru sadar selama ini hutanglah yang terbesar, sementara Allah hanya dalam ucapan saja selama ini, bahkan dalam sholat dan setelah sholat tetap keraguan ini selalu ada. Terima kasih Pak. Hari ini saya sangat bahagia sekali,” katanya.
“Nah, inti dari yang saya ucapkan adalah yang barusan tadi ibu sampaikan, yaitu bahagia, sekarang bisa tidak ibu menjaga perasaan bahagia dalam hati ibu selama satu bulan minimal, atau paling minim 21 hari, sehingga sikap positif benar-benar menjadi nyata dalam kehidupan ibu.”

“Dalam doa juga serupa, yang sebelumnya sedih karena tidak yakin atau masih ragu apakah Allah akan membalas doa kita namun sekarang setiap habis doa tunjukan kebahagiaan layaknya ibu selesai rapat dengan menejer bank dan dia akan memberikan pinjeman kepada ibu, maka keluar dari rapat dengan manajer tersebut wajah pasti berseri,” saya menjelaskan. “Saya mengerti sekarang pak, masalah ini justru harus membuat saya memiliki visi besar bukan justru masalah yang saya besarkan, alhamdulillah pak” katanya.

Akhirnya kita semua menemukan pencerahan seperti dalam buku 21 Days Tobe Trans Human, bahwa semua cita-cita bisa terwujud jika kita memiliki kesungguhan merawat visi kita. Dalam kutipan buku tersebut, saya tulis bahwa “Enrich your vision every day.” Perbesarlah visimu setiap hari, bukan setiap tahun, karena ketika visi tidak diperbesar masalah yang akan datang lebih besar kepada hidup kita.

NAQOY, Ketua ALTAR -IKALUIN FITK & Founder Rumah Kesadaran.