Gedung FITK, BERITA FITK Online – Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar program rutin bulanan yaitu diskusi dosen secara virtual nasional seri 2. Gelaran diskusi dosen seri 2 dilaksanakan pada Kamis, (29/04/2021) dengan mengusung tema “Terorisme: Akar Masalah dan Solusinya dalam Perspektif Pendidikan”. Diskusi dibuka oleh Dekan FITK Dr. Sururin, M.Ag dan setidaknya diikuti oleh 88 peserta yang berasal dari berbagai penjuru nusantara.  Mereka adalah para dosen, praktisi pendidikan, dan mahasiswa.

Dekan FITK memberikan sambutan pada diskusi dosen seri 2 ini, Sururin meemberikan pengantar bahwa “Dunia pendidikan sangat strategis untuk dapat berperan dalam upaya pencegahan mulai dari yang formal maupun hidden curriculum. Bagaimana agar putra-putri bangsa tercegah dari kegiatan radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu FITK harus bisa memberikan sumbangsih dalam memberikan solusi untuk mengupayakan agar radikalisme tidak terjadi,” ujarnya.

Diskusi dosen seri 2 ini, menghadirkan keynote speaker yaitu Sekretaris Tim Aksi Moderasi Beragama Ditjen Pendidikan Islam, Dr. H. Anis Masykhur, S.Ag., M.A. Keynote Speaker memberikan pemantik diskusi dengan tema “Pendidikan; Sebagai Solusi Masalah Ekstrimisme Keberagaman”. Anis juga memberikan asumsi umum yaitu
Semakin tinggi ilmu agama maka semakin moderat, sebaliknya, semakin rendah ilmu keagamaannya semakin besar memiliki potensi untuk tidak moderat. Selanjutnya Anis menambahkan bahwa “Asumsi umum tersebut menjadikan sebuah tantangan bagi mahasiswa dan dosen di Fakultas Tarbiyah. Terlebih Fakultas Tarbiyah memiliki input kurang lebih 73% mahasiswa berasal dari SMA dan SMK. Oleh karena itu meskipun dengan keterbatasan ilmu agama di kalangan mahasiswa Tarbiyah, harus memiliki desain yang bisa menjamin maindset perilaku dan aksi yang dipastikan moderat ”

Diskusi dosen kali ini digelar dalam satu sesi dengan menghadirkan narasumber dari lintas fakultas yaitu bapak Robi Sugara, M.Sc., beliau adalah dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau juga sebagai Founder & Director Executive of Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC). dan juga Consultant in the fields of national security, terrorism/PCVE & national defence. Robi mengatakan bahwa “Terorisme dalam data, fakta yang ditemukan bahwa terorisme sekarang sangat agresif, tidak disangkal bahwa mereka beragama Islam.” Tandasnya. Robi juga memberikan solusi terhadap masalah terorisme yang ada bahwa “Pendidikan toleransi sejak dini, integrasi mata kuliah agama dengan pancasila. Ketika belajar pancasila dia juga harus bisa menjadi warga negara yang baik, sehingga potensinya untuk menjadi seseorang yang religius bisa menjadi nasionalis, ketika menjadi nasionalis bisa juga menjadi religius.”

Lebih lanjut pada sesi tanya jawab, Prof. Dr. H. Rusmin Tumanggor, MA. ia mengkritisi bahwa “Perlu adanya indikator serta tolok ukur apa saja mengenai apa itu radikalisme.”Sementara itu, Dr. Muhbib Abdul Wahab, M.A. sebagai pembahas menegaskan bahwa “Akar masalahnya adalah fenomena terorisme ini mirip seperti fenomena gunng es, yang kelihatan adalah fenomena ledakan-ledakan, aksi teror dan penangkapan. Akan tetapi di balik itu akar masalahnya sangat kompleks yaitu itu ada ideologi radikal, ingin mendirikan negara Islam dan destruktif”. Selanjutnya dari fenomena-fenomena tersebut, Muhbib memberikan solusi dalam dunia pendidikan bahwa ”Pendidikan harus bisa menjadi hal yang membebaskan, mencerahkan dan membentuk kepribadian antiterorisme.”Muhbib juga menambahkan solusi yang lain bahwa “Agama seharusnya diajarkan dan dipahami secara holistik, luas dan luwes sebagai inspirasi kedamaian,” tegasnya.

Selanjutnya Tanenji, M.A selaku moderator, memberikan penutup ciamik dengan memberikan wejangan “Tanggung jawab pendidik adalah dapat mencerdaskan anak bangsa yang beragama Islam menjadi muslim sejati yang mencintai NKRI, NKRI HARGA MATI”.

 

 

 

 

(MusAm)