Tangsel, BERITA ONLINE FITK-Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta kembali menggelar program rutin bulanan yaitu diskusi dosen Seri ke 8 secara virtual Nasional, Kamis, (26/11/2020). Diskusi dibuka oleh Dekan FITK Dr. Sururin, M. Ag dan setidaknya diikuti oleh 314 peserta lebih. Mereka adalah para dosen, mahasiswa dan praktisi pendidikan di seluruh nusantara.

Diskusi digelar dalam 2 sesi serta menghadirkan Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. (Wakil ketua Komisi VIII DPR RI) sebagai pembicara kunci. Sesi pertama mengusung teman “Membangun Identitas Diri melalui Produk Teknologi Terintegrasi Keislaman”  dengan menghadirkan narasumber Erina Hartati, M.Si, dan pembahas Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, MA. serta dimoderatori oleh Burhanudin Milami, M. Pd. Sementara itu, sesi kedua mengusung tema “Potret Literasi Sains di Madrasah” dengan menghadirkan narasumber  Munaspriyanto Ramli, Ph.D. dan pembahas Sumalah Agung, Ph. D,  dengan dimoderatori oleh Rizky Nur Sholihat, M.Pd.

Dekan FITK Sururin dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh dosen dan guru besar FITK yang hingga kini tetap mensuport dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan rutin bulanan  dosen di tengah masa pandemi covid 19. Selain itu, ia juga memaparkan dalam sambutannya menjelaskan bahwa UIN mampu membangun identitas diri melalui teknologi yang terintegrasi dengan keislaman sebagai karakteristik kampus keagamaam.

Selain itu, ia juga berharap UIN mampu memajukan madrasah terkait pendidikan dan sains madrasah melalui gerakan mencetak guru-guru madrasah yang memiliki kualifikasi yang mumpuni.

Sementara itu, sejalan dengan Sururin, Ace dalam pemaparannya menjelaskan bahwa UIN sebagai kampus keagamaan harus ditempatkan sejajar dengan kampus lain. Selain itu, perguruan tinggi Agama Islam mendapatkan posisi yang baik di tingkat nasional maupun global”.

Masih pada kesempatan yang sama, Erna  memaparkan bahwa ia penerapan teknologi sistem kendali untuk mengefesiensikan pemakaian listrik melalui perintah suara yang memperdengarkan bacaan doa sesuai dengan fungsi ruangan, berupa switching power lampu dan hasbi yang memmbuktikan bahwa teknologi terintegrasi dalam keislaman.

Prof. Dr. Rusmin Tumanggor menanggapi pemeparan narasumber bahwa identitas diri meliputi keislaman, keilmuan, teknologi, keindonesiaan, dan masyarakat internasional. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa hal yang harus disiapkan untuk mengintegrasikan teknologi dan keislaman adalah menyiapkan staf diberbagai lembaga yang memahami dan mengemas dan dapat membuat keilmuan sains diimplementasikan dalam pendidikan dalam bingkai keislaman. Dan para pendidik hendaknya membuat metode pembelajaran dan kuasai keislaman secara utuh.

Masih dalam forum yang sama, Munas  memaparkan bahwa Literasi sains adalah salah satu focus penelitian dalam area bidang pendidikan Sains dalam 50 tahun terakhir. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa kemampuan literasi siswa madrasah masih rendah. Literasi siswa perempuan sedikit lebih baik dari pada laki-laki dan pendidikan orang tua dan lokasi sekolah juga mempengaruhi kemampuan literasi sains.

Sementara itu Sulama Agung memaparkan bahwa pentingnya penanaman literasi sains sejak dini karena rata-rata kemampuan literasi sanis siswa tingkat sekolah menengah pertama sangat rendah.