BERITA FITK Online- Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta menggelar diskusi dosen (disdos) online seri ke-IV, yang dilaksanakan pada Selasa (30/06/2020) dengan menggunakan aplikasi zoom FITK.

Pada disdos online seri IV ini, menghadirkan Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Dikti Kementrian Agama RI, Dr. Suwendi, M.Ag sebagai keynote speaker.

Menurut Suwendi, kampus kampus saat ini baiknya harus sudah melakukan blended learning  yaitu mengkombinasikan proses pembelajaran dengan online dan offline.

“Pada masa pandemi covid 19 ini, mau tidak mau kita semua harus masuk kedalam dunia digital, semua pimpinan universitas harus mendorong stakeholdernya menjalin keakraban dan memaksa untuk mengerti dunia digital”paparnya.

Selain itu, Suwendi juga mengatakan bahwa kampus-kampus sudah harus meredesain pembelajaran dan kurikulum dalam memilih materi yang efektif disesuaikan dengan metode daring dan luring. Bukan hanya itu, pada pemaparanya Suwendi juga mengatakan bahwa pada masa pandemi seperti saat sekarang ini harus lebih memperkuat infrastruktur daring seperti memperkuat dosen, mahasiswa dan Learning Management System (LMS).

Pada kesempatan yang sama, Dr Fauzan, MA juga memberikan pemaparan bagaimana merdeka belajar di pendidikan tinggi, khususnya di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Pada paparanya, Fauzan mengatakan bahwa pedoman tentang merdeka belajar sebisa mungkin harus relevan dengan sisi keilmuwan, juga dilihat seberapa besar kebutuhan saat lulus nanti.

“Pada merdeka belajar, mahasiswa tidak melulu di berikan tantang teori teori, namun harus dilihat juga ketrampilan keterampilan khusus yang mereka dapatkan ketika kuliah, selain itu ruang-ruang kerja harus semakin jelas konsepnya” paparnya.

Senada dengan Fauzan, Prof Dr Suwito, MA yang pada kesempatan ini sebagai pembahas juga mengatakan bahwa desain kurikulum pada saat ini dibuat agar tercipta keberagaman bukan keseragaman “ Saya menyarankan agar kampus hanya mengambil porsi maksimal 30% dari total beban studi dari setiap jenjang, berlakukan konversi prestasi di dalam sks, misalkan seorang mahasiswa memiliki keahlian dalam IT, nanti keahlian itu bisa dikonversikan misalkan sebanyak 15 sks. Jadi desain kurikulum sesuai dengan keahlian mahasiswa” jelasnya,

Selain itu,  Suwito juga mengatakan bahwa hikmah dari Covid 19 ini adalah banyak kampus telah memberlakukan perkuliahan jarak jauh dan memaksa untuk menjadi kampus siber. Begitu juga UIN Jakarta diharapkan menjadi kampus siber yang dapat memfasilitasi proses belajar mengajar pendidikan tinggi.  “Dalam mengajar saya menggunakan Whatsapp grup, UIN Jakarta mempunyai Academic Information System (AIS), zoom meeting. Oleh karenanya, sudah sepatutnya kampus kita memperkuat infrastruktur desain pembelajaran online dengan menjadikan UIN Jakarta menjadi kampus siber”” jelasnya (fnh)