TANGSEL, BERITA FITK ONLINE-Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta kembali menggelar program rutin bulanan yaitu diskusi dosen Seri ke 10 secara virtual Nasional, sekaligus penutupan kegiatan diskusi dosen periode tahun 2020 pada Rabu, (30/12/2020). Diskusi dibuka oleh Dekan FITK Dr. Sururin, M.Ag dan setidaknya diikuti oleh 100 peserta lebih. Mereka adalah para dosen, mahasiswa dan praktisi pendidikan di seluruh nusantara.

Diskusi digelar dalam 2 sesi serta menghadirkan dua pembicara kunci yaitu Dr. H. Thobib Al-Asyhar, S.Ag. M.Si (Sekertaris Menteri Agama RI) sebagai pembicara kunci yang pertama. Dan Dr. H. Syafi’i, M. Ag (Kasubdit Ketenagaan Diktis Kemenag RI) sebagai pembicara kunci kedua. Sesi pertama mengusung tema “Aktualisasi Model Problem Based Learning Menuju Cita-Cita Pendidikan Islam”  dengan menghadirkan narasumber Dr. H. Sapiudin Shidi, M. Ag dan pembahas Prof. Dr. Husni Rahim. serta dimoderatori oleh Dr. Erba Rozalina Yulianti, M. Ag. Sementara itu, sesi kedua mengusung tema “Model Pengukuran Efektifitas Pendidikan” dengan menghadirkan narasumber  Dr. Otong Suyanto, M. Si. dan pembahas Dr. Abdul Muin, M. Pd. dengan dimoderatori oleh Zahril Anasy, M. Hum.

Dekan FITK Sururin dalam sambutannya mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia Diskusi Dosen Periode tahun 2020 karena telah berhasil menyelenggarakan kegiatan ini sebanyak 10 seri meskipun dimasa pandemi covid 19. Sururin juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh dosen dan guru besar FITK yang hingga kini tetap mensuport dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan rutin bulanan  dosen di tengah masa pandemi covid 19. Selain itu, ia juga berharap dalam sambutannya bahwa setelah kegiatan ini aka nada rekomendasi-rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan kemajuan pendidikan di lingkungan Kementrian Agama.

Masih dalam sambutannya, Dekan FITK mengucapkan selamat dan bangga kepada UIN Jakarta yang baru saja mendapatkan 3 penghargaan pada`3 kategori APDIKTIS 2020.

Sementara itu, Thobib Al Asyhar  dalam pemaparannya menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan segala keunikannya. Dalam kondisi fitrah tentunya manusia memiliki karakter yang berbeda sehingga dalam proses pelaksanaan pendidikan tidak aka nada prestasi yang sama antar sesame siswa. Maka, peran pendidikan akan sangat menentukan prestasi tersebut”.

Sejalan dengan hal tersebut, Syafi’I dalam pemaparannya menjelaskan bahwa “Jadilah maha guru.  Maha guru di zaman milenial adalah guru yang mampu menginspirasi siswanya. Maka saat ini guru tidak boleh menganggap bahwa guru adalah sumber belajar utama”

Masih pada kesempatan yang sama, Sapiudin  memaparkan bahwa Syarat utama menjadi guru adalah akhlakul karimah dan kreativitas. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa dasar konseptual yang mendasari pembelajaran berbasis masalah bersifat membangun pengetahuan dan keterlibatandalam intelektual emosional sehingga anak didik aktif dan kreatif.

Prof. Dr. H. Husni Rahim menanggapi pemaparan narasumber bahwa PBL mengubah pola belajar  dari teacher centered menjadi students centered, siswa pasif menjadi siswa aktif dan memiliki gara belajar beragam. Pembelajaran mendengar, mencatat, menghapal menjadi berpikir, berkomunikasi,mencari dan mengolah. Sehingga siswa dan mahasiswa menjadi aktif dan kreatif.

Masih dalam forum yang sama, Otong menjelaskan pembelajaran yang efektif bukan hanya sekadarmembuat siswa mengetahui yang benar dan yang salah tetapi bagaimana siswa menjadi lebih interes. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa metode nonparametric menentukan tinkat efesiensi dari suatu unit analisis.

Sementara itu Abdul Muin menaggapi pemaparan pemateri bahwa Model DEA merupakan model yang sangat baik untuk mengevaluasi kinerja pendidikan. Lebih lanjut ia memaparkan bahwa model DEA dapat menganalisis sector kinerja pendidikan mana yang efisien dan yang tidak efesien. Juga dapat mengoptimalkan pembayaran sebagai inputdan teknis sistem sebagai output kinerja yang menjadi target institusi pendidikan.