Lubana Sengkol, Muncul, Tangsel, BERITA FITK Online – Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan evaluasi kinerja akhir tahun untuk pimpinan fakultas, dan pegawai FITK pada Selasa, (7/12/2021) di Lubana Sengkol, Muncul, Tangerang Selatan.

Hadir pada kegiatan tersebut Dekan FITK Dr Sururin MAg,  Wadek I Bidang Akademik Dr Kadir MPd, Wadek II Bidang Administrasi Umum Dr Abdul Muin MPd, Kabag TU Drs Edy Suandi, para Sub. Koordinator dan seluruh tenaga kependidikan FITK.

Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum FITK Dr Abdul Muin MPd dalam sambutannya menjelaskan, kegiatan ini dilakukan untuk evaluasi kinerja akhir tahun seluruh pimpinan, unit, dan pegawai FITK, serta merencanakan awal program program yang akan ditargetkan pada tahun anggaran 2022.

“Hasil monitoring dan evaluasi kinerja ini diharapkan menjadi bahan acuan untuk seluruh pegawai di lingkungan FITK guna ke depan bekerja dan berkinerja lebih baik lagi,” tutup Muin.

Sementara itu dalam pembelaannya, Dr. Sururin, M.Ag. menyampaikan terima kasih atas dedikasi dan pengabdian seluruh sivitas akademika FITK UIN Jakarta.
“Bapak/Ibu, pertama saya sampaikan terima kasih banyak atas dedikasi dan pengabdian Bapak/Ibu semua. Saya atas pimpinan ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya. Jazakumullah Ahsanal Jaza,” ucap Sururin.

Sururin pun menyampaikan harapan dan targetnya FITK pada tahun 2022. Menurutnya, FITK menargetkan delapan prodi yang semula terakreditasi A menjadi unggul.
“Kami selaku pimpinan punya harapan dan target pada tahun 2022, target pertama kami yaitu ingin delapan prodi yang terakreditasi A menjadi unggul. Selain itu, beberapa prodi terakreditasi internasional minimal empat prodi,” sambungnya.

Selanjutnya, ia pun menjelaskan target yang lainnya yaitu akan berdirinya dua program S3 dan tiga program S2.
“Kami telah membuat tim penyusun borang usulan S3 PAI dan S3 PBA, S2 PGMI juga sudah. Alhamdulillah seperti yang kita ketahui bersama, belum lama ini kita telah divisitasi oleh Diktis Kemenag untuk Prodi S3 PAI. Semoga akan segera turun SK izin operasionalnya dan tahun 2022 kita bisa menerima mahasiswa baru S3 PAI,” jelasnya.

Selain itu, Sururin juga ingin FITK mulai go internasional. Menurutnya, secara SDM FITK cukup potensial untuk go internasional. Salah satu yang akan dilakukan ada membuat profil FITK dengan menggunakan tiga bahasa; Indonesia, Inggris, dan Arab. Selanjutnya adalah penguatan SDM dosen dengan melakukan akselerasi guru besar.
“Bapak/Ibu, secara SDM, FITK cukup bisa untuk go internasional. Kita punya dosen-dosen yang cukup kompeten di bidang masing-masing. Saya pun ingin membuat profil FITK dengan menggunakan tiga bahasa yaitu Indonesia, Inggris, dan Arab. Selain itu, tahun depan kita juga harus fokus untuk akselerasi guru besar. Setidaknya ada tujuh dosen lektor kepala yang sudah layak diajukan untuk menjadi guru besar,” pungkasnya.

Diwawancarai secara terpisah, Edy Suandi selaku ketua panitia menyampaikan acara evaluasi kinerja akhir tahun ini didesain sedemikian rupa agar seluruh civitas akademika FITK menyatu dan dapat bersilaturahmi.

“Acara ini kami desain sedemikian rupa agar seluruh civitas akademika FITK menyatu dan bersilaturahmi. Karena bagaimana pun kita adalah FITK dan FITK adalah kita,” jelas Edy.

Menurut Edy, selain kegiatan ini bertujuan untuk evaluasi kinerja pegawai, juga untuk refreshing pimpinan dan pegawai FITK. Menurutnya, kegiatan ini penting dilakukan dan jika memungkinkan dilakukan secara rutin dan berkala.
“Selain kegiatan ini bertujuan untuk evaluasi kinerja pegawai, juga untuk refreshing seluruh civitas akademika FITK. Ini penting dilaksanakan karena mengingat di Tarbiyah padat dengan kegiatan, belum lama ini sibuk dengan UKin dan UP,” tambah Edy.
Ia melanjutkan, yang terpenting dari acara ini adalah kebersamaan dari semua elemen FITK. Menurutnya, kebersamaan ini penting untuk meraih target-target fakultas dan universitas.
Ia mengibaratkan dengan elemen FITK dengan alat-alat musik. Menurut Edy, alat-alat musik tidak bisa seenaknya sendiri bunyi tanpa ada aturan dan ritmenya. Jika terjadi, bukan hanya tidak enak didengar telinga, bahkan merusak keindahan musik itu sendiri. Begitu pun dengan sebuah organisasi. Organisasi yang di dalamnya terdiri dari bagian-bagian juga harus memahami tugas dan fungsinya, sehingga tidak serampangan dalam bekerja. Selain itu yang paling mendasar menurut Edy adalah tidak boleh merasa benar sendiri, merasa berjasa sendiri. Itu akan menimbulkan ego sektoral.

“Organisasi yang di dalamnya terdiri dari bagian-bagian juga harus memahami tugas dan fungsinya, sehingga tidak serampangan dalam bekerja. Selain itu yang paling mendasar adalah tidak boleh merasa benar sendiri, merasa berjasa sendiri. Itu akan menimbulkan ego sektoral,” pungkas Bapak kelahiran Ciputat ini. (MusAm)