Gedung FITK, BERITA FITK Online – Rabu, (5/05/2021) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah menggelar Seminar Nasional Virtual 2021 “Kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka Berbasis Integrasi Keilmuan di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru”.

Acara dihadiri oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof Dr Muhammad Ali Ramdhani STP, MT, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Hj Amany Lubis MA, Dekan FITK Dr Sururin MAg, Para Wakil Rektor, Para Pimpinan Lembaga, Para Wadek, Dosen, beserta peserta Seminar Nasional FITK 2021 yang berjumlah lebih dari 900 orang.

Dalam laporannya sebagai ketua panitia, Dr Raswan MPd, MPdI. menyampaikan bahwa Seminar Nasional yang digelar FITK kali ini adalah dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021.

“Seminar Nasional yang digelar FITK kali ini adalah dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021. Tema seminar ini merupakan kelanjutan dari kegiatan-kegiatan ilmiah yang telah diselenggarakan FITK khususnya dalam rangka mengembangkan kurikulum MBKM terkhusus lagi pada aspek hak belajar tiga semester di luar Prodi, satu semester di dalam PT sendiri, dan dua semester di luar PT.

“Mudah-mudahan seminar nasional ini mampu menghasilkan satu model-model kurikulum MBKM yang ada di PTKIN,” jelasnya.

Selanjutnya, Raswan melaporkan paper yang telah masuk ke panitia seminar nasional.

“Alhamdulillah jumlah paper yang masuk ke panitia ada berjumlah 53, dari 53 paper itu 15 akan diterbitkan ke dalam jurnal FITK yang terakreditasi Sinta 2, yang lainnya yang berjumlah 39 paper akan diterbitkan ke dalam prosiding yang ber-ISSN,” tutup Raswan.

Sementara itu, dalam sambutannya sebagai Dekan, Sururin menyampaikan acara seminar nasional adalah kegiatan tahunan yang selalu diselenggarakan FITK dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional. “Seminar Nasional adalah kegiatan tahunan yang selalu diselenggarakan FITK dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional,” ucapnya.

Kemudian Sururin menjelaskan alasan pemilihan tema seminar pada tahun ini mengenai MBKM. “Tema seminar ini sengaja diambil untuk merespons dan juga menindaklanjuti kebijakan yang sudah diterapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan kami juga mempersiapkan untuk mengimplementasikan MBKM. Tema ini sengaja difokuskan terkait bagaimana mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka terutama terkait dengan integrasi keilmuan,” sambungnya.

Lanjut Sururin, perubahan kurikulum merupakan sebuah keniscayaan sebagaimana keniscayaan dari perubahan itu sendiri. “Bapak/Ibu, perubahan kurikulum merupakan sebuah keniscayaan sebagaimana keniscayaan dari perubahan itu sendiri. Jadi perubahan kurikulum merupakan respons dari upaya untuk meningkatkan, memajukan pendidikan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, jelas Sururin.

“Kebijakan MBKM memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas dan melalui berbagai kegiatan pembelajaran di luar Prodi. Dalam hal ini diharapkan akan bisa mengimplementasikan dan bisa mewujudkan visi misi FITK yang merupakan turunan dari visi-misi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu integrasi Keilmuan, Keislaman, dan Keindonesiaan, tutup Sururin.

Selanjutnya, dalam pemaparannya sebagai pembicara kunci, Prof Dr Muhammad Ali Ramdhani STP, MT, menyampaikan kegelisahannya menyangkut tantangan besar masa depan generasi muda saat ini.

“Saat ini kita tengah menghadapi sebuah fase di saat kita harus mampu mendidik anak-anak bangsa, mahasiswa-mahasiswa kita untuk mengisi profesi pada hari ini belum dapat kita definisakan dengan jelas. Kemudian, berikutnya mereka akan menggunakan ilmu yang belum kita ketahui pada saat ini. Mereka menggunakan keterampilan yang belum bisa didefinisikan secara jelas pada hari ini dan mereka akan menerapkan teknologi yang belum kita temukan pada hari ini,” jelasnya.

Penting kita pahami kebebasan yang tetap harus ada batasnya “Secara prinsip kemerdekaan seperti halnya hak asasi akan berjalan baik apabila tidak melanggar hal-hal yang prinsip atau rukun-rukun  kemerdekaan. Secara mendasar kita bahagia bhwa melalui kurikulum merdeka kita bisa terus mengambil umber-sumber belajar dan mengajarkan. Ada rambu-rambu bagian penting dalam proses kurikulum merdeka. Kita sering menemukan sebuah fenomena Kebenaran dan kebaikan kerap kali kerap kali menjadi pertaruhan dalam pencarian sebuah ilmu. Sebagai kita mafhumi bahwa sumber kebenaran dan sumber kebaikan pada saat ini dikliaim banyak orang, bahkan ada orang yang mengaku dirinya Tuhan, mengklaim dirinya nabi. Dan apabila hanya menggunakan pendekatan-pendekatan yang sifatnya serba kebebasan, maka tidak akan jadi sumber ilmu yang baik. Maka saya pada hari ini menyampaikan bahwa kurikulum merdeka dan kampus merdeka adalah sebuah kebijakan profan, tetapi sebagai ilmu pengetahuan ia harus memiliki keterpeliharaan ilmu yang memiliki sanad  dari sumber dari segala ilmu yaitu Rasulullah SAW. Cara berfikir dan metodologis boleh out of the box, tetapi bicara kebaikan dan kebenaran maka sanad keilmuan tidak boleh putus dari segala sumber kebaikan,” tutup Muhammad Ali.

Berkutnya, acara Seminar Nasional dilanjutkan dengan sesi Plenary Session yang dipandu oleh moderator Dr Hindun MPd, dari Prodi Tadris Bahasa dan Sastra Indonesia dan Iman Matin Lc, MPd. Dari Prodi Pendidikan Bahasa Arab.