Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta kembali menggelar program rutin bulanan yaitu diskusi dosen Seri ke 7 secara virtual Nasional, Rabu (30/9/2020). Diskusi dibuka oleh Dekan FITK Dr. Sururin, M. Ag dan setidaknya diikuti oleh 128 peserta lebih. Mereka adalah para dosen, mahasiswa dan praktisi pendidikan.

Diskusi digelar dalam 2 sesi serta menghadirkan Dr. Muhammad Zein, S.Ag, M. Ag  (Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah , Ditjen pendidikan Islam sebagai pembicara kunci.  Sesi pertama mengusung teman Revitalisasi Pendidikan Madrasah dan Pesantren dalam Menghadapi  Era Revolusi Industri 4.0 dengan menghadirkan narasumber Rusdy Zakaria, M. Ed, M. PhilI dan pembahas Prof. Dr. Abudin Nata, MA serta dimoderatori oleh Dr. Elvi Susanti, M. Pd. sementara itu, sesi kedua mengusung tema Pengajaran Sastra dan Drama Indonesia di Madrasah/Pesantren dengan menghadirkan narasumber Rosida Erowati, M. Hum dan pembahas Dr. Bahrissalim, M. Ag, dengan dimoderatori oleh Dr. Dedek Kustiawati, M. Pd.

Dekan FITK Sururin dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh dosen dan guru besar FITK yang hingga kini tetap mensuport dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan rutin bulanan  dosen. Ia juga mengucapkan terima kasih atas kesediann Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah , Ditjen pendidikan Islam sebagai pembicara kunci. Selain itu, ia juga berharap agar para dosen dan mahasiswa FITK dapat mengeksplor kekuatan pesantren untuk pengimplementasian kampus merdeka – merdeka belajar.

“Mahasiswa FITK terutama prodi Agama untuk mendalami ilmu agama di pesantren Ma’had Ali. Begitu pula sebaliknya santri Ma’had Ali bisa belajar di FITK untuk meningkatkan kompetensi madrasah dan pesantren dalam rangka berkontribusi dan memberi manfaat bagi bangsa di masa depan”.

Sementara itu, sejalan dengan Sururin, Muhammad Zein dalam pemaparannya menjelaskan bahwa para santri dan mahasiswa dalam rangka menghadapi dunia global diharapkan mereka memiliki kemampuan membaca budayadan kemampuan merencanakan kehidupan dan kemakmuran. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa santri dan mahasiswa harus memiliki keterampilan di era global yakni critical thinking dan digital thingking.

Sementara itu, rusdy Zakaria dalam pemaparannya menjelaskan bahwa titik krusial pengembangan madrasah dan pesantren sesungguhnya bertumpu pada dua tinjauan yakni masalah utamanya adalah rendahnya mutu pendidikan (Mutu guru yang rendah, kualitas manajerial yang lemah, terbatasnya dana pengembangan, dan rendahnya penguasaan teknologi). Sementara pada tinjauan kedua berkenaan dengan  kebijakan pengembangan yang masih kurang jelas. Ia beraggapan bahwa Kementerian Agama RI belum punya Roadmap atau desain besar pengembangan pesantren dan madrasah.

Pada kesempatan yang sama, Abudin menjelaskan bahwa madrasah sebagai pilihan utama masyarakat seharusnya menjadi lembaga pendidikan yang mampu menghilangkan paham radikalisme dan ekstrimisme, serta hal lain yang menimbulkan ketakutan masyarakat dan menambah beban NKRI. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa hal yang dapat dilakukan oleh madrasah adalah dengan mengembangkan paham moderasi Islam yang terintegrasi dengan berbagai komponen pendidikan, yaitu Islam yang tawasuth, tawazun, tawathun, ta’awun, takarum, tarahum, I’tidal dan rahmatan lil alamien.

Masih dalam forum yang sama, Rosida Erowati memaparkan bahwa pengajaran Sastra Indonesia di Madrasah/pesantren ditunjukkan untuk memberikan pengalaman estetik dan kognitif kebahasaan untuk mengembangkan kapasitas para santri. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa pengajaran sastra Indonesia juga ditunjukkan untuk mengembangkan daya ungkap kebahasaan para santri agar dapat menjalankan misi dakwah dan tarbiyahnya dengan maksimal kepada masyarakat luas.

Sementara itu Bahris Salim memaparkan  bahwa “Manfaat pembelajaran drama bagi siswa adalah membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan  budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menjunjung pembentukan watak. Namun dalam mengimplementasikan dan merealisasikannya pembelajaran drama di madrasah dan di pesantren adalah berbenturan dengan alokasi waktu yang terbatas, keterbatasan media, dan kompetensi siswa. Oleh karena itu perlu dicarikan solusi melalui desain dan model pembelajaran”, ujarnya.

.