BERITA FITK Online – Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta diadulat oleh Forum Dekan Tarbiyah dan Keguruan (Fordetak) sebagai tuan rumah dalam gelaran Lokakarya Nasional dan Evaluasi Penyelenggaraan PPG 2021. Acara tersebut dilangsungkan selama tiga hari, Minggu-Selasa (29-31/8/2021) secara langsung dengan protokol kesehatan ketat bertempat di Swiss-Belhotel Serpong, Tangerang Selatan.

Acara tersebut diikuti oleh Dekan, Wakil Dekan, Kaprodi, Sekprodi dan Bendahara Pengelola PPG dari UIN/IAIN/STAIN se-Indonesia yang berjumlah 102 peserta. Dalam acara tersebut, Panitia Lokal Fordetak menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Prof. Dr. Suyitno, M.Ag., (Direktur Diktis), Dr. Muhammad Zain, M.Ag. (Direktur GTK), Dr. H. Rohmat Mulyana, M.Pd. (Direktur PAI), Prof. Dr. Mukhlas (Lamdik), Dr. Abdul Rozak, M.Si. (Tim Panitia Nasional PPG), Dr. Anis Masykhur (Tim Panitia Nasional PPG), Abdul Rohman Staf Khusus Menteri Agama dan sejumlah narasumber dari inspektorat jenderal.

Dalam laporannya sebagai Ketua Fordetak, Sururin menyampaikan bahwa FITK UIN Jakarta diberikan mandat untuk menjadi tuan rumah pada gelaran Fordetak kali ini. “Bapak/Ibu yang kami hormati, perlu kami laporkan kepada Bapak Dirjen, Ibu rektor, dan para Direktur bahwa FITK UIN Jakarta diberikan mandat untuk menjadi tuan rumah pada gelaran Fordetak kali ini dan kegiatan ini akan dilangsungkan secara blended (daring dan luring) yang dihadiri oleh 22 LPTK utusan dari PTKIN dan tujuh LPTK dari PTU. Kegiatan ini direncanakan digelar selama tiga hari, mulai dari Minggu sore sampai Selasa pagi yang akan dibuka oleh rektor dan diisi keynote speech oleh Dirjen Pendis,” jelas Sururin.

“Bapak/Ibu, kita patut bersyukur diberikan kesehatan sehingga alhamdulillah kita dapat bertemu dalam forum yang insyaallah diberkahi Allah SWT. Kita juga patut bersyukur karena hari ini kita akan melaksanakan sebuah pertemuan yang saya kira sangat penting sekali untuk keberlangsungan untuk masa depan khususnya tentang Pendidikan Profesi Guru dan lebih umum lagi untuk kegiatan forum Dekan Tarbiyah dan Keguruan seluruh Indonesia,” tutupnya.

Sementara itu, dalam sambutannya sebagai rektor, Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, M.A., menyampaikan pelaksanaan forum seperti ini adalah acara penting dan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. “Alhamdulillah, hari ini kita melaksanakan acara penting dan alhamdulillah dilaksanakan secara langsung. Mudah-mudahan kita diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Bapak/Ibu, kita punya tanggung jawab untuk memajukan pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan Islam agar tetap berjalan dengan baik, tidak kurang suatu apapun meski dalam kondisi pandemi Covid-19. Pandemi ini sudah berdampak buruk kepada masyarakat, mestinya para pendidik, guru, dosen tetap semangat dan bersama-sama melakukan program-program bermanfaat dan saling memberi semangat,” ucapnya.

“Di dunia pendidikan seyogyanya kita menjaga mimpi-mimpi kita lebih tinggi, jangan terbawa situasi, bahkan kita dituntut untuk kreatif dan inovatif selalu, sehingga kita bisa melakukan hal-hal yang terbaik seperti transformasi, inovatif, dan kreativitas. Contohnya dalah PJJ. PJJ adalah produk dari adaptasi dalam menghadapi pandemi saat ini,” tutup Amany.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan sesi panel pertama yang dimoderatori oleh Dekan FITK UIN Bandung Prof. Dr. Aan Hasanah. Dalam sesi panel kali ini ada dua narasumber yang akan menyampaikan materi tentang isu-isu terkini dan kebijakan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam. Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Suyitno, M.Ag. (Direktur Diktis) dan Abdul Rohman Staf Khusus Menteri Agama yang berlangsung sampai menjelang istirahat salat maghrib.

Dalam penyampaian materinya, Suyitno menjelaskan masalah yang terjadi di PTKI. “Secara umum identifikasi masalah dari PTKI berjumlah tiga atau empat problem yang menurut saya sangat serius. Salah satunya adalah yang berkaitan langsung dengan guru yaitu adalah akses. Pak Zain (Direktur GTK) ini mendapat warisan yang cukup berat dari saya tentang masih ada ratusan ribu guru yang belum tersertifikasi dan 50-an ribu dari mereka belum S1. Ini yang bikin saya bingung harus ngapain eaktu itu, karena jika gurunya kuliah, siswanya akan terlantar. Itu problemnya,” terang Suyitno.

“PTKI itu harus buka perguruan tinggi yang namanya UIT, Universitas Islam Terbuka, karena di UT (Kemendikbud) itu tidak ada Prodi PAI dan mudah-mudahan tidak akan pernah ada, karena itu otoritas kita. Alhamdulillah kita ketemu Gus Men yang luar biasa antusiasmenya dan responsif itu. Kita langsung diberi arahan melalui Dirjen dan Stafsus. Arahannya jangan beri nama UIT tapi CIU, Cyber Islamic University. Kemudian kami dengan Dirjen berdiskusi. Kami simpulkan ada tiga skenario untuk memenuhi CIU itu. Yang pertama pendirian lembaga baru, yang kedua adalah transformasi (melanjutkan yang sudah ada), yang ketiga me-negerikan kampus swasta. Setelah diskusi panjang, arahan Gus Men adalah transformasi. Nah, jadilah IAIN Cirebon dipilih transformasi dari IAIN langsung menjadi Cyber. Ini kita sebut sebagai pilot project,” tutup Suyitno.

Setelah jeda ishoma, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Direktur GTK Dr. Muhammad Zain, M.Ag. yang menyampaikan materi Kebijakan PPG Dalam Jabatan 2021.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan diskusi dan sesi-sesi panel berikutnya dengan narasumber yang berbeda. Untuk diketahui, acara ini direncanakan terdiri dari 10 sesi yang akan diselesaikan dalam waktu tiga hari ke depan dan di hari kedua akan dibagi menjadi dua ruangan, yang pertama ruang untuk forum dekan dan ruang kedua untuk pengelola PPG. (MusAm)