Gedung FITK, BERITA FITK Online Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar program rutin bulanan yaitu diskusi dosen secara virtual nasional. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan berseri sebanyak 10 kali yang akan digelar dalam tiap bulan. Gelaran perdana diskusi dosen seri 1 dilaksanakan pada Rabu (30/03/2021) dengan mengusung tema “Science Adaptive Assessment Tool“. Diskusi dibuka oleh Dekan FITK Dr. Sururin, M. Ag dan setidaknya diikuti oleh 125 peserta lebih yang berasal dariberbagai penjuru nusantara. Mereka adalah para dosen, praktisi pendidikan, dan mahasiswa.

“Grand opening disdos kali ini dirasa spesial, karena Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan selain membuka acara juga berkenan menjadi pembicara kunci pada gelaran perdana ”tutur Ahmad Dimyati selaku Ketua Panitia Disdos 2021. Diskusi kali ini digelar dalam satu sesi dengan menghadirkan Dr. Zulfiani, M.Pd. dan IwanPermana,M.Pd sebagai narasumber. Prof. Dede Rosyada, MA (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2015-2019) selaku Pembahas dan Burhanudin Milama, M.Pd sebagai moderator.

Dekan FITK Sururin dalam sambutannya mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan kepada panitia Diskusi Dosen Periode tahun 2021 karena telah berhasil menyelenggarakan kegiatan opening disdos seri 1. Sururin juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh dosen dan guru besar FITK yang hingga kini tetap mensuport dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan rutin bulanan dosen di tengah masa pandemic covid 19. Lebih lanjut ia berharap UIN Jakarta bias menjadi madzhab dalam hal assessment. Oleh karena itu, dosen FITK diharapkan mampu membuat karya-karya akademik yang dipatenkan.

Masih dalam kesempatan yang sama, Dekan FITK Sururin, M. Ag dalam pemaparan materinya sebagai pembicara kunci, ia menjelaskan tujuan asessmen mencakup empat hal yakni Keeping track, Checking up, Finding qut, dan summing up. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa adanya assesmen sesungguhnya dijadikan sebagai alat control untuk memperkuat pendidikan perdamaian dan peka terhadap permasalahan kebangsaan.

Masih dalam forum yang sama, Zulfiani sebagai narasumber menyajikan hasil penelitiannya yang sudah dibukukan dengan judul “Science Adaptive Assessment Tool” dan menegaskan bahwa Science Adaptive Assessment merujuk pada optimalisasi kemampuan teste untuk melihat potensi siswa di masa mendatang, jumlah sioal fleksibel, menghadirkan pertanyaan yang relevan dengan kebiasaan berpikir, pemerolehan feedback dengan cepat bagi teste an guru, dan mengutamakan prinsip assesmen berbasis keadilan. Lebih lanjut, Iwan Permana memperkuat pernyataan Zulfi bahwa Science Adaptive Assessment menstimulasi siswa untuk berpikir tingkat tinggi yakni berpikir kritis, berpikir kreatif, dan problem solving melalui prinsip asesemen berkeadilan.

Sementara itu, Dede Rosyada sebagai pembahas menegaskan bahwa dari pemaparan narasumber adahal yang perlu dikoreksi dan ditambahkan. “Buku ini tentunya perlu diperkaya dengan konsep konstruktivisme dan Behaviorizem”, ujarnya. Lebih lanjut ia mengkritisi bahwa buku tersebut perlu ditambahkan lagi satu chapter untuk membahas tentang critical thinking, creativity, dan collaboration untuk mengkaji instrument-instrumen non tes.

Selanjutnya Dede mengkritisi kondisi generasi muda Indonesia saat ini dari sudut pandang tantangan siswa di abad 21. “Kita sebagai kaum akademisi harus mampu mempersiapkan anak didik kita di abad 21 agar mereka tangguh karena tantangan mereka harus berkompetisi dengan orang di luar Indonesia melalui konsep kolaborasi,” tegasnya.