Gedung FITK, BERITA FITK Online – Pembelajaran sains mengalami tantangan pada masa pandemi COVID-19. Pasalnya, salah satu metode pembelajaran yang seyogianya dilakukan di labotarium otomatis tidak bisa dilakukan karena pembelajaran dilakukan secara jarak jauh. Untuk itu, beberapa dosen atau guru menggunakan metode home experiment sebagai bentuk inovasi yang dilakukan untuk mengatasi keterbatasan tersebut.

Untuk melihat bagaimana bentuk pelaksanaan home experiment, dan bagaimana pilihan alternatif baiknya inovasi pembelajaran dalam bidang sains pasca pandemi COVID-19, Dr. Khalilah, M.Pd sebagai Ketua Tim Diskusi Dosen 2022 menyampaikan dalam laporannya bahwa perlu mengangkat tema “Home Experiments: Inovasi Pembelajaran Sains dalam Suasana (Pasca-) Pandemi COVID-19”.  Diskusi ini menghadirkan Prof. Dr. Andi Suhandi, M.Si. guru besar UPI Bandung sebagai pembicara kunci, Munasprianto Ramli, M.A., Ph.D. Dosen Prodi Pendidikan Kimia,FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai Narasumber, dan Dwi Nanto, M.Si., Ph.D. Dosen Prodi Pendidikan Fisika, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai pembahas. Diskusi ini dipandu oleh Nanda Saridewi, M, Si.

Dalam acara Diskusi Dosen bulanan seri kelima ini, Dr. Sururin, M.Ag. sebagai Dekan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sambutannya menuturkan bahwa sebagai fakultas pendidikan, FITK perlu melakukan berbagai inovasi di bidang pendidikan agar bisa memberikan pelayanan terbaik untuk mahasiswa. Pada kesempatan ini, tema yang diangkat terkait dengan inovasi di bidang sains, bidang yang menjadi salah satu rumpun ilmu di FITK UIN Syarif Hidayatullah.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari pembicara kunci, yaitu Prof.  Dr. Andi Suhandi, M.Si. bahwa pembelajaran sains idealnya melibatkan tiga aspek, yaitu sesi instruksi (instruction session), sesi laboratorium (laboratory session) dan sesi tindak lanjut (follow up session). Tiga hal ini mesti ada untuk mencapat hasil pembelajaran (learning outcome), yaitu berupa konsep saintifik, pemahaman yang utuh, keterampilan proses sains, literasi sains, keterampilan 4C (critical thinking, creative thinking, communicating, and collaborating), keterampilan memecahkan persoalan, dan keterampilan lain serta sikap.

Selama pandemi, pembelajaran sains mengalami perubahan karena diberlakukannya pembelajaran jarak jauh. Sesi instruksi dan sesi tindak lanjut dilakukan bisa diganti dengan tayangan video, demonstrasi, atau simulasi yang dilakukan melalui bantuan teknologi. Sementara itu, sesi laboratorium yang tampaknya sulit dilakukan karena aktivitas di laboratorium dialihkan ke rumah menjadi home experiment.

Selama praktikum di laboratorium, guru aktif dan intensif mengawasi aktivitas siswa di kelas sehingga keselamatan siswa dan alat akan mudah diawasi. Sementara itu, dalam home experiment, pengawasan didelegasikan kepada orang tua. Masalah yang timbul adalah tidak semua orang tua familiar dengan alat atau eksperimen yang akan dilakukan. Dengan demikian, home experiment mesti dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal di antaranya, inovasi dalam pengembangan interaksi; inovasi dalam penyediaan alat dan bahan; inovasi dalam proses; inovasi dalam LKPD (experiment guideline); dan inovasi dalam pegawasan.

Senada dengan yang dituturkan oleh pembicara kunci, narasumber Disdos Sesi Kelima,  Munasprianto Ramli, Ph.D. menyatakan bahwa karena pandemi, pendidikan sains tidak berjalan secara optimal. Dalam pembelajaran sains, siswa akan mempelajari sains manakala melakukan aktivitas sains. Ini mirip dengan cara bekerja seorang koki. Seorang koki akan mempelajari resep yang baru saat dia langsung mempraktikannya. Oleh karena itu, dalam situasi pandemi, home experiment bisa menjadi salah satu alternatif pembelajaran dengan melibatkan guru, siswa dan orang tua. Guru memberikan panduan secara detail; orang tua bisa membantu mendokumentasikan dan memonitor eksperimen yang dilakukan oleh siswa di rumah.

Dalam pelaksanaan home experiment ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu keamanan selama percobaan dilakukan serta kemudahaan dalam mendapatkan alat dan bahan. Selain itu, eksperimen yang dilakukan diusahakan sejalan dengan kurikulum yang digunakan di sekolah.

Menanggapi paparan sebelumnya, Dwi Nanto, Ph.D. menyampaikan bahwa salah satu tantangan dalam home experiment adalah eksplanasi atau penjelasan mengenai eksperimen yang dilakukan siswa. Saat melakukan eksperimen, penjelasan dari guru tidak boleh gegabah dalam melakukan penjelasan atas fenomena yang muncul saat melakukan eksperimen. Salah satu contoh yang perlu dikritisi adalah kemunculan video eksperimen yang ada di kanal Youtube yang diberi judul “Hot vs Cold Experiment”. Dalam video tersebut terlihat bahwa penjelasan dalam eksperimen tersebut terlalu sederhana. Oleh karena itu memang baiknya, saat melakukan eksperimen, siswa dibekali buku aktivitas (activity book). Meskipun memang saat ini, buku tersebut umumnya berbahasa Inggris sehingga perlu ada buku saduran berbahasa Indonesia. Pun, salah satu situs yang bisa direkomendasikan untuk pembelajaran di rumah, yaitu PhET, labotarium virtual yang dikelola oleh Universitas Colorado. Menariknya situs ini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Sebagai sebuah inovasi, home experiment perlu diperbaharui, dievaluasi, dan dikembangkan agar kendala-kendala yang terjadi dalam pembelajaran sains pasca-pandemi COVID-19 bisa teratasi. (Kh/Hs)