PBSI Gelar Seminar Nasional, Gong Pertama dari Pestarama #8
Gedung FITK, BERITA FITK Online- Setiap tahunnya, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta rutin menggelar Pekan Apresiasi Sastra dan Drama (Pestarama).
Ada banyak aktivitas kebudayaan di dalamnya. Mulai dari Seminar Nasional, Diskusi Lintas Komunitas, Bazar, Pameran, Panggung Ekspresi, Tribute, Pementasan Teater, dan lain sebagainya.
Sampai pada tahun ini, Pestarama sudah menginjak tahun kedelapan dengan mengusung sastrawan ternama, yakni Arifin C. Noer.
Untuk mengawali Pestarama #8, Seminar Nasional menjadi acara wajib sebagai simbol dari resminya perhelatan Pestarama ini dimulai.
Seminar Nasional dengan tajuk "Transformasi Sosial dalam Industri Kreatif Sastra Indonesia" ini digelar pada Jumat (10/3/2023) di Teater Prof. Dr. Mahmud Yunus lantai 3 FITK.
"Tokoh yang diangkat saat ini sangat populer, sangat terkenal. Usia yang sangat-sangat produktif, beberapa karya sastra yang sudah ditulis," ucap Dekan FITK UIN Jakarta, Dr. Sururin, M.A., dalam sambutannya.
Narasumber yang dihadirkan di antaranya terdapat Tetra Tianiafi, Ahmadun Yosi Herfanda, Embie C. Noer, serta Arif Firmansyah.
Tetra menyampaikan bahwa literatur tentang penceritaan daerah belum banyak ditemukan dan ditulis. Ia berharap, akan ada Andrea Hirata lain yang melakukan penceritaan tentang daerah asalnya.
"Terlalu sedikit literatur tentang Indonesia. Kita butuh itu. Kami butuh mereka-mereka yang pintar menceritakan daerahnya. Kami butuh Andrea Hirata yang lain," terang Tetra yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur Penerbitan dan Periklanan Direktorat Musik, Film, dan Animasi.
Lain dengan Ahmadun Yosi Herfanda. Penyair yang pernah menulis puisi "Sembahyang Rumputan" ini mengungkapkan kekecewaannya pada Kemenparekraf yang menurutnya hanya tertarik melihat karya sastra yang berbau ekonomi kreatif saja.
"Kemenparekraf saat ini tampaknya hanya melihat karya sastra yang bisa dikaitkan dengan ekonomi kreatif," jelas Ahmadun.
Selanjutnya, pemaparan materi disampaikan oleh adik kandung dari Arifin C. Noer, yakni Embie C. Noer.
Komposer musik fim tersebut menyampaikan bahwa kesadaran seni dan ekonomi yang dipikirkan secara bersamaan masih kurang ditanamkan.
"Sekarang sesuatu sifatnya instan. Audiovisual semuanya ada, mulai dari produk, teknologi, dan pembahasan lain. Tinggal bagaimana menyiasati sastra HP," papar Embie.
Arif Firmansyah menjadi narasumber terakhir yang menyampaikan pandangannya. Ia ditugaskan untuk menggantikan Prof. Novi Anoegrajekti, M.Hum. yang berhalangan hadir.
Dalam penuturannya, ia mengatakan bahwa sejatinya pengembangan industri kreatif sastra berpotensi menghasilkan produk industri kreatif berkelas dunia.
"Pelaku usaha memerlukan perencanaan makro, mulai dari tim kreatif, perlindungan hukum, dan pengembangan industri kreatif," ucap pria yang pernah meneliti tradisi lisan carita pantun itu.
Ada yang menarik di akhir acara. Tim Sakustik yang merupakan kegiatan mahasiswa dalam bidang musik dan tarik suara yang dinaungi oleh HMPS PBSI UIN Jakarta itu, unjuk gigi di depan peserta.
Mereka menampilkan pembacaan puisi "Karawang Bekasi" dan "Diponegoro" milik Chairil Anwar. Dengan properti dan pengemasan tampilan yang dibumbui dengan seni teater, mereka menyuguhkan penampilan puisi dengan apik dan memikat pasang mata peserta yang hadir. (Selvia Parwati Putri/ MusAm)
