Perkuat Internasionalisasi, FITK UIN Jakarta Bahas Strategi Beasiswa Joint dan Double Degree
Perkuat Internasionalisasi, FITK UIN Jakarta Bahas Strategi Beasiswa Joint dan Double Degree

 

Perkuat Internasionalisasi, FITK UIN Jakarta Bahas Strategi Beasiswa Joint dan Double Degree

Joint dan Double Degree2

Gedung FITK, BERITA FITK Online—Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait pengembangan program beasiswa joint degree dan double degree sebagai bagian dari upaya percepatan internasionalisasi akademik, kegiatan berlangsung pada hari selasa, 21 april 2026 di ruang sidang lantai 2 gedung FITK.

Kegiatan ini menghadirkan Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan (PUSPENMA) Kementerian Agama RI, Dekan FITK Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D serta pimpinan, dosen, serta pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengembangan kerja sama luar negeri dan program beasiswa, dengan fokus utama pada penguatan skema pembiayaan, perluasan jejaring internasional, serta penyusunan program yang lebih inovatif dan berdampak.

Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa pengembangan program joint dan double degree perlu memperhatikan skema co-funding dengan mitra internasional. Skema ini dinilai strategis untuk memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap pendidikan global tanpa sepenuhnya bergantung pada pembiayaan internal.

Selain itu, peserta FGD juga menyoroti pentingnya menghadirkan program-program unggulan yang memiliki kekhasan, seperti program akselerasi berbasis kebutuhan strategis—termasuk penguatan bidang bahasa, pendidikan, serta pengembangan keilmuan berbasis pesantren. Program yang memiliki keunikan dinilai lebih kompetitif dan berpeluang besar mendapatkan dukungan pendanaan eksternal.

Narasumber utama dalam forum tersebut, Dr. Ruchman Basori, S.Ag., M.Ag., menegaskan bahwa keberhasilan program internasional sangat bergantung pada keberanian kampus dalam membangun kolaborasi yang konkret dan terukur.

“Kerja sama internasional tidak boleh berhenti pada penandatanganan MoU. Harus ada program nyata yang dijalankan, seperti joint degree atau double degree, yang benar-benar memberi dampak bagi mahasiswa dan dosen,” ujarnya.

Joint dan Double Degree

Ia juga menekankan pentingnya strategi pendanaan kolaboratif melalui co-funding dengan berbagai lembaga internasional.

“Kalau kita ingin berkolaborasi dengan mitra luar negeri, maka salah satu kuncinya adalah co-funding. Kita tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus mampu menggandeng sumber pembiayaan dari luar,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dr. Ruchman mendorong agar program yang diusulkan memiliki keunikan dan berbasis kebutuhan riil.

“Program yang kuat adalah program yang punya kekhasan dan berbasis kebutuhan. Misalnya akselerasi untuk bidang tertentu atau program yang menyasar kelompok khusus. Ini yang akan membuat proposal kita dilirik,” jelasnya.

Diskusi juga mengangkat perlunya perhatian terhadap kelompok-kelompok khusus, termasuk mahasiswa dari latar belakang marginal atau berkebutuhan khusus, agar dapat memperoleh akses yang lebih inklusif terhadap program beasiswa, baik di dalam maupun luar negeri.

Dari sisi pembiayaan, dijelaskan bahwa skema beasiswa yang dikembangkan mencakup biaya pendidikan, biaya hidup, transportasi, hingga dukungan akademik seperti publikasi ilmiah dan partisipasi dalam forum internasional. Untuk program luar negeri, pembiayaan akan disesuaikan dengan tingkat biaya hidup di masing-masing negara tujuan.

Dalam sesi tanya jawab, peserta juga menyoroti peluang pengembangan program postdoctoral, kerja sama dengan lembaga beasiswa internasional seperti Australia dan Jerman, serta pentingnya mengoptimalkan kerja sama yang telah terjalin agar tidak berhenti pada dokumen formal semata.

Dr. Ruchman juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan program dan keseriusan dalam implementasi.

“Banyak kerja sama yang sudah dibangun, tetapi belum semuanya dimaknai secara optimal. Saatnya kita serius menjalankan dan menindaklanjutinya agar benar-benar memberikan hasil,” tegasnya.

FGD ini juga menekankan bahwa pengembangan program ke depan sebaiknya difokuskan pada jenjang magister dan doktoral (S2 dan S3), mengingat kebutuhan peningkatan kualitas dosen dan tenaga akademik yang semakin mendesak.

Menutup kegiatan, pimpinan fakultas menyampaikan bahwa seluruh masukan dalam FGD akan ditindaklanjuti secara serius, dengan target menghasilkan program unggulan yang siap diimplementasikan dalam waktu dekat.

“Forum ini tidak boleh berhenti sebagai diskusi saja. Harus ada tindak lanjut konkret agar tahun depan kita sudah memiliki program yang benar-benar berjalan dan berdampak,” ungkap pimpinan rapat.

Melalui FGD ini, FITK UIN Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus mendorong internasionalisasi pendidikan, memperluas akses beasiswa, serta meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global. (AM)