Prodi PGMI Gelar Studium General Literasi Edupreneur untuk Guru Madrasah Ibtidaiyah
Gedung PPG, Bojongsari, BERITA FITK Online - Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Studium General bertema “Literasi Edupreneur untuk Guru Madrasah Ibtidaiyah”. Kegiatan yang dihadiri 339 peserta tersebut dilangsungkan pada Rabu, (9/11/2022) bertempat di Aula gedung PPG lantai 2, Bojongsari, Kota Depok.
Dalam kegiatan tersebut Prodi PGMI menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Suhardi, M.Ag. (Kepala Seksi PAKIS Kemenag Tangsel) dan Dr. (Cand) Sendra Medio Oktobela Saragih, S.Psi., M.BA. (Direktur Pengembangan Bisnis PT Murti Cahaya Wirasaba).
“Program studi PGMI alhamdulillah bisa melaksanakan studium general. Rencana awal bekerja sama USU, namun gagal karena ada suatu kendala. Akhirnya datang ide dari dosen pengampu untuk mengadakan acara ini. Terima kasih bu Tri Harjawati M.Si yang sudah menginisiasi kegiatan ini,” ucap Dr. Asep Ediana Latip, M.Pd., Kaprodi PGMI dalam sambutannya.
Asep menambahkan, mata kuliah Edupreneurship diharapkan dapat memberikan bekal bisnis bagi mhasiswa.
“Mata kuliah Edupreneurship diharapkan dapat memberikan bekal bisnis bagi mahasiswa sehingga kedepannya diharapkan saat mahasiswa memulai usaha akan menghasilkan profit karena sudah dibekali dengan teori dan juga praktik,” terangnya.
“Untuk diketahui, Kegiatan ini dilaksanakan dalam tiga sesi, yang pertama seminar, pelatihan dan bazar sebagai praktiknya. Kegiatan tersebut adalah upaya kami untuk menumbuhkan dan memperkuat jiwa kewirausahaan mahasiswa kami,” pungkas Asep.
Sementara itu, dalam sambutanya sebagai dekan, Dr. Sururin, M.Ag. menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan studium general tersebut. Ia menjelaskan, kegiatan kewirausahaan tersebut penting dilaksanakan karena menjadi tagihan IKU fakultas.
“Kami sebagai pimpinan mengucapkan terima kasih kepada Prodi PGMI dan ibu Tri Harjawati yang telah berhasil menyelenggarakan SG ini. Acar ini menjadi indeks acara kegiatan yang ditanyakan dan ditagih oleh IKU fakultas, minimal 4 kali dan beruntung ada MK Edupreneurship yang diampu bu Tri,” terang Sururin.
“Kami berharap dengan kegiatan ini dapat memberikan pemahaman teori dan praktik yang baik kepada mahasiswa sehingga mereka dapat mempelajari keduanya. Menurut saya ini penting karena mahasiswa diajarkan kolaborasi dan relasi dalam bidang usaha,” lanjutnya.
“Belajar edupreneur kejujuran menjadi salah satu aspek penting dalam berbisnis. Tanamkan prinsip yang dimiliki Rasulullah dalam jual beli, agar dapat keberkahan. Tanmakan dalam diri (mahasiswa) dapat menjadi preneurship yang hebat. Memberikan sesuatu yang terbaik. Insyaallah menjadi berkah,” pungkas ibu kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur itu.
Dalam penyampaian materinya, Suhardi menjelaskan mengenai Konsep Edu-Preneur. Menurutnya, Edupreneur adalah implementasi nilai-nilai entrepreneur di madrasah untuk meraih keunggulan.
“Edupreneur adalah implementasi nilai-nilai entrepreneur di madrasah untuk meraih keunggulan. Adapun Nilai-nilai entrepreneur yaitu Kemandirian, Keberanian, Kreativitas, Inovasi, Tanggung jawab, dan Nilai Tambah,” jelas Suhardi.
Selanjutnya, ia menyampaikan tentang Madrasah Unggul. Menurutnya, madrasah yang unggul yang pertama adalah madrasah yang memiliki nilai tambah, madrasah yang mampu memenuhi harapan masyarakat. Kedua, madrasah yang unggul adalah madrasah yang memenuhi SNP secara optimal.
Suhardi juga mengutip 4 (Empat) Pilar Keunggulan menurut ARCARO, yaitu 1) Berorientasi pada pelanggan, 2) Keterlibatan secara total dari para actor, 3) Berusaha untuk memberikan nilai tambah dan memberikan yang terbaik, dan 4) Komitmen untuk memperbaiki secara terus-menerus (diskusi program unggulan).
Berikutnya, narasumber yang kedua yaitu Sendra Medio Oktobela Saragih menjelaskan tentang pendidikan inklusif.
“Lebih baik menjadi orang yang paling bodoh di antara orang yang pintar, dari pada menjadi orang yang paling pintar di antara orang bodoh. Karena dari kebodohan itu kita akan termotivasi untuk bangkit dan belajar agar kita bisa menjadi bagian dari orang pintar,” terangnya dengan nada semangat.
Ia kemudian menyampaikan syarat perusahaan menjadi besar, di antaranya:
- Melihat Market Size
- Menyusun Strategi
- Mengadakan Raker
- Memperjelas divisi divisi
- Mendapatkan kepercayaan dari konsumen/brand dan lainnya.
Ia melanjutkan, jika kita bisa melihat sebuah problem, maka itu akan menjadi sebuah celah bagi kita dalam mengembangkan entrepreneur. Kopi kenangan menurutinya, bisa mendapatkan 50 dolar (500-800 juta) dalam 1 konten, dan mereka berprinsip bahwa lebih baik mendapat gaji kecil tapi usaha pasif melebar luas.
Sendra kemudian menjelkaskan tiga point yang harus dimiliki seseorang jika yang berniat usaha, yaitu:
- Profibility
- Siustanable (stabil)
- Growing (bermutu)
“Jika kita mengerti dan memanfaatkan ekosistem maka itu bisa menguntungkan kita, dan jika kita ingin mendapatkan uang atau keuntungan besar kita harus memanfaatkan sebuah celah,” tutupnya. (MusAm)



