Dr. Fauzan, M.A.
Dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ketua Bidang Pendidikan dan Penguatan Nilai Karakter IKALUIN

Dalam situasi mengkhawatirkan atas bahaya virus Corona yang masih merebak, lembaga pendidikan (sekolah/madrasah/perguruan tinggi) dihadapkan pada pilihan situasi sulit antara melaksanakan kegiatan pembelajaran langsung sesuai situasi normal dengan memperhatikan protokol kesehatan, menerapkan kembali proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), atau perpaduan antara keduanya (blended learning).

Berbagai pertimbangan kesehatan sebagaimana dikemukakan lembaga profesi, seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melihat banyaknya kasus penularan Covid-19 pada anak hingga saat ini masih berharap semua lembaga masih menerapkan PJJ.
Hal lain yang tak kalah penting adanya Abad 21, di mana pendidik dan pembelajar perlu lebih banyak menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai sarana penunjangnya.

Abad 21 merupakan abad di mana kehidupan sudah mulai menyatu dengan kecanggihan teknologi. Pengetahuan, industri, pendidikan, bisnis, ekonomi, dan budaya berkembang dengan pesat.
Sebagai manusia yang hidup di masa yang serba cepat ini, kreativitas dan inovasi sangat dibutuhkan. Persaingan antar negara dalam bidang pendidikan pun semakin cepat seiring perkembangan teknologi yang semakin cepat pula.
Tidak hanya itu, kita juga harus mampu membaca dan memetakan peluang. Bahkan kita seharusnya sudah mampu menciptakan peluang. Terus mengasah skill dan mengubah cara berpikir di tengah-tengah revolusi digital.

Teknologi tidak hanya menambah sesuatu, tetapi juga mengubah segalanya. Termasuk bagaimana mengubah sistem pendidikan menjadi lebih inovatif bahkan kreatif. Peserta didik, pendidik dan pembelajaran merupakan satuan proses pendidikan yang sistemik.
Di mana ketiganya harus berjalan beriringan agar tercipta tujuan pembelajaran yang baik serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Guru atau pendidik merupakan arsitek pendidikan, desainer pendidikan. Guru harus mampu mengimbangi revolusi digital. Di mana anak-anak merupakan generasi digital di abad sekarang ini. Anak-anak mulai bertransmigrasi menjadi penduduk dunia maya, sedangkan orang dewasa sebagai imigran. Guru harus mampu menciptakan inovasi pembelajaran dengan menggunakan sumber yang tak terbatas.

Adanya TIK atau Digital Learning satu sisi semakin memudahkan pola pembelajaran, bahkan beragam informasi pembelajaran dapat diakses dari sumber manapun tanpa ada batas, pembelajaran bisa dilakukan di manapun dengan memanfaatkan beberapa platform pembelajaran online (sebut saja Zoom, Gmeet, dll).
Pada saat yang lain keberadaan TIK atau Digital Learning juga menyisakan beberapa persoalan, terutama menyangkut persoalan nilai karakter, habituasi, kedisiplinan yg selama ini biasanya dilakukan langsung saat pembelajaran tatap muka (PTM).

PJJ Yang Kurang Maksimal
Sejatinya, pembelajaran adalah aktivitas interaktif, edukatif yang mengedepan nilai-nilai sosial secara jelas. Pendidik melakukan pola desain pembelajaran yang kreatif agar semua kompetensi/kemampuan peserta dapat terakomodasi.
Sementara, peserta unsur terpenting dalam pembelajaran yang memiliki hak untuk diberikan diberi sajian pembelaharan kreatif, interaktif guna mencapai target tujuan pendidikan.

Jika melihat paparan tersebut, sudah selayaknya pola pembelajaran dilakukan tanpa diskrimasi, pembelajaran Daring atau Luring, online atau offline seharusnya tidak jadi permasalahan. PJJ  digunakan dengan memadukan antara pola pembelajaran dalam jaringan (daring) dengan pembelajaran di luar jaringan (luring).

Kedua pola tersebut awalnya diharapkan peserta didik dapat menemukan pengalaman yang bermakna dan menantang kemampuan mereka secara integrated, yaitu aspek karakter (nilai atau sikap), knowledge, dan skill. Tapi sayangnya tujuan tersebut belum terpenuhi secara baik.

Disadari atau tidak PJJ yg selama ini dikembangkan (pada masa Covid-19) belum mengakomodasi semua aspek kemampuan yang diharapkan, terutama aspek karakter nilai sikap yang menjadi “tagihan” undang-undang.

PJJ yang dilakukan masih terbatas pada seberapa besar “knowledge” dapat dikuasai para peserta didik, terlebih saat mendesaknya waktu Penilaian Tengah Semester (PTS) dan Penilaian Akhir Tahun (PAT).

Pada saat yang sulit seperti ini, menjadi ironis dan miris ketika guru tidak bisa lagi hadir sebagai “panutan” yang selalu menjadi contoh, teladan peserta didik dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Interaksi pembelajaran yang biasanya dilakukan secara langsung (direct teaching), kini harus digantikan oleh media lain, seperti Youtubewhatshap, Google Classroom, Google Slide,  dll yang sangat mekanistik.

Penugasan via google form juga terkadang menjadi “pilihan” untuk mengukur kemampuan para peserta didik. PJJ saat ini perlu dikembalikan pada ruh pembelajaran yang sebenarnya, yaitu peserta didik yang memiliki wawasan pengetahuan luas, keterampilan baik, serta karakter nilai (attitude) yang selalu menghiasi kehidupan.

Kondisi pandemi Covid-19, semakin memperparah arah pelaksanaan pendidikan kita; tidak sedikit sekolah/madrasah yang bingung dengan desain kurikulum yang diterapkan, penguatan intelektual dengan pola penugasan oleh guru begitu terasa dominan, banyak juga orang tua yang masih acuh terhadap kondisi ini, membiarkan anaknya belajar sendiri tanpa bimbingan orangtuanya; alih alih pembelajaran yang dilakukan boleh jadi hanya berfokus pada “intelektualisme”, tapi abai terhadap sikap dan psikomotorik yang menjadi tagihan pendidikan.

Proses yang dilakukan semakin menjauh dari penguatan nilai karakter, sikap, sebagaimana inti dari pendidikan itu sendiri, yakni melakukan perubahan dan penanaman nilai karakter sebagai bekal kehidupannya di masyarakat global.
Untuk mencapai target pembelajaran tersebut, semua konsep pembelajaran perlu diarahkan pada kebutuhan peserta didik dengan memaksimalkan peran dari semua komponen pendidikan, termasuk PJJ.
Minimal ada tiga komponen yg berkontribusi besar dalam kesuksesan pembelajaran, yaitu (1) orangtua/keluarga, (2) pendidik, dan (3) lingkungan.

Dalam penerapan konsep PJJ, orangtua/keluarga harus hadir sebagai “pendidik pertama” terutama dalam pembentukan kebiasaan (habit) positif anak. Kejujuran, kedisiplinan, dan kemandirian merupakan karakter nilai yang hanya bisa diwujudkan dari keluarga. Ajak orangtua/keluarga dalam rencana dan monitoring evaluasi kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. PJJ bukan hanya milik sekolah/madrasah, kepala sekolah, pendidik, dan para peserta didik, tetapi juga milik semua orangtua/keluarga yang bertanggung jawab atas semua kompetensi yang diharapkan.

Desain Pembelajaran Tatap Muka Terbatas: Studi Madrasah Pembangunan UIN Jakarta
Kegelisahan sebagian orangtua, rasa kangen siswa kepada guru dan temannya DO sekolah disinyalir menjadi pertimbangan signifikan muncul kebijakan Presiden Jokowi Kompas, 8 Juni 2021) tentang pembelajaran tatap muka.
Pelaksanaan PTM dilakukan dengan mempertimbangkan:  (1) Sekolah hanya boleh mengadakan pembelajaran tatap muka untuk maksimal 25 persen total siswa. Siswa lainnya tetap mesti mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). (2). Pembelajaran tatap muka hanya bisa berjalan maksimal 2 hari dalam seminggu. (3) Sekolah tatap muka maksimal bisa berlangsung selama 2 jam saja. (4) Siswa yang boleh mengikuti pembelajaran tatap muka mesti sudah mendapat izin dari orangtuanya. (5) Seluruh guru dan tenaga pendidikan di sekolah yang ingin menyelenggarakan pembelajaran tatap muka mesti telah mendapat dua dosis vaksin Covid-19; dan (6) Seluruh sekolah akan masuk daftar pemeriksaan kesiapan PTM terbatas.

Bila tak siap, sekolah itu akan tetap memberlakukan PJJ. Aturan tersebut semakin menegaskan keberadaan sekolah/madrasah, termasuk Madrasah Pembangunan UIN Jakarta menyempurkan desain pembelajaran tahun akademik 2021/2022. Bagi Madrasah Pembangunan, desain PTM ini bukan desai baru, tetapi desain lanjutan yang sudah diterapkan selama dua semester.
Jika sebelumnya Madrasah Pembangunan memadukan dua pola daring dan luring;  pembelajaran daring dilakukan dengan tatap muka via online selama tiga hari dengan memanfaatkan platform digital learning seperti zoom, google meet, dll (sinkronus), dan pola luring dilakukan hanya dengan memanfaatkan modul, google form, dan video (asinkronus) tanpa ketemu dengan gurunya. Pada pola PTM, Madrasah Pembangunan UIN Jakarta berusaha mengisi dua hari pembelajaran luring dengan PTM.

Prinsip utama dalam desain PTM lebih diarahkan pada (1) penguatan nilai karakter yg selama ini hilang dalam pembelajaran (loss learning); (2) pengobat rasa kangen peserta didik kepada guru dan temen lainnya; dan (3) penguatan konten materi tertentu yg dianggap krusial, terutama untuk level MTS/SMP dan MA/SMA.
Berdasarkan pada prinsip  PTM tersebut, Madrasah Pembangunan berusaha menyiapkan kegiatan pembelajaran yang lebih bermakna (meaning full), pembelajaran menyenang (fun learning), atau bentuk pembelajaran interaktif lain yang dapat meningkatkan imun para peserta didik. [www.rmolbanten.com/MusAm]