Muhbib Abdul Wahab |
Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah |
Peminat Kajian Tokoh Bahasa Arab |

Bagi peminat kajian bahasa Arab, Mâzin ‘Abd al-Qâdir al-Mubârak boleh jadi sudah tidak asing. Lahir di Damaskus, ibukota Suriah, pada 1930 M,  ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga ulama yang terhormat, karena nasab keluarganya  –yang berasal dari al-Jazâir itu—  masih bersambung hingga al-Hasan ibn ‘Ali ibn Abi Thâlib. Kakeknya, Muhammad al-Mubârak (w. 1852 M), merupakan seorang ulama dan mursyid  terkenal al-Jazâir. Ayahnya sendiri, ‘Abd al-Qâdir al-Mubârak (w. 1945), juga seorang ahli bahasa Arab dan sastrawan terkemuka. Sebelum mengenyam pendidikan formal, ia belajar agama dan bahasa Arab kepada ayahnya. Pendidikan dasar dan menengahnya diselesaikan di Damaskus.

Pendidikan tinggi Mâzin mula-mula ditempuh pada Universitas Damaskus dengan meraih gelar Lisance di bidang sastra Arab pada 1952. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh ijazah Diploma untuk Pendidikan Menengah Atas dari al-Ma‘had al-‘Âli li al-Mu‘allimîn di Damaskus. Setelah itu, ia melanjutkan studinya pada jenjang S2 di Universitas Kairo di bidang sastra Arab dan menyelesaikannya pada 1957. Tiga tahun kemudian (1960), ia berhasil menyelesaikan program doktornya di bidang sastra Arab di Universitas Kairo. Selama di Mesir (1955-1960) ia bergumul dengan dinamika intelektualitas yang sangat intens, sehingga mulai memperlihatkan produktivitas ilmiahnya, terutama karena mendapat “sentuhan kreatif” gurunya, Syauqi Dhaif, penulis prolifik di bidang sejarah sastra Arab dan nahwu.

Setelah itu, ia kembali ke tanah airnya, lalu diangkat menjadi dosen tetap pada Fakultas Adab Universitas Damaskus pada 1960. Enam tahun kemudian (1966), ia meraih gelar Lektor Kepala pada universitas yang sama, dan persis pada usia 40 tahun (1970) ia memperoleh gelar profesor di bidang sastra Arab dari universitas yang sama, sebuah prestasi akademik yang patut diteladani.

Di antara guru/dosen yang banyak mempengaruhi keilmuan dan membentuk kepribadiannya adalah: (1) Sa‘id al-Afgâni, penulis  sejumlah buku, seperti: Fi Ushûl al-Nahwi (1987), Aswâq al-‘Arab fi al-Jâhiliyyah wa al-Islâm (1960),dan Nazharât fi al-Lugah ‘inda Ibn Hazm (1963); (2) Mahmud Muhammad Syâkir, pentahqiq Dalâil al-I‘jâz karya ‘Abd al-Qâhir al-Jurjâni; (3) Ibrâhim Mushthafâ, penulis Ihyâ’ al-Nahwi;  dan (4) Syauqi Dhaif, penulis al-Balâgah: Târikh wa Tathawwur, al-Madâris al-Nahwiyyah, dan Taisir al-Nahwi al-Ta‘limi Qadiman wa Haditsan ma‘a Nahji Tajdidihi, Tarikh al-Adab fi al-‘Ashr al-Jahili hingga Tarikh al-Adab al-Arabi fi al-‘Ashr al-Hadits. Di bimbingan Syauqi Dhaif ketika studi di Universitas Kairo, Mâzin tidak hanya memperoleh gelar Doktor, melainkan juga memperoleh bimbingan langsung dalam mentahqiq dan menyusun empat karya penting dalam bidang nahwu, yaitu: (1) Tahqiq untuk tesis Magister:  al-Idhâh fi ‘Ilal al-Nahwi li al-Zajjâji (w. 337 H), (2) al-Zajjâji Hayâtuhu wa Atsâruhu wa Madzhabuhu, (3) al-Nahwu al-‘Arabi Bahts fi al-‘Illah al-Nahwiyyah wa Tathawwuruha; dan (4) al-Rummâni al-Nahwi fi Dhau’ Syarhihi li Kitâb Sibawaih (Disertasi Doktor).

Adapun murid-muridanya yang termasuk berhasil mengembangkan karir akademiknya, antara lain, adalah: (1) Prof. Dr. Munâ Ilyâs, ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Damaskus sekarang; (2) Muhâ Mâzin, anak kandung dan peneliti ilmu bahasa Arab pada Universitas Damaskus; (3) Hâni al-Mubârak, peneliti sejarah bangsa Arab; dan (4) Muhammad Ridhwân al-Dâyah, penulis beberapa buku mengenai bahasa Arab, antara lain: ‘Ilm al-Dalâlah al-‘Arabi: Baina al-Nazhariyyah wa al-Tathbîq.

Ia termasuk pengajar yang aktif dalam berbagai kegiatan ilmiah seperti seminar, konferensi dan diskusi-diskusi mengenai bahasa Arab, baik tingkat regional maupun internasional. Ia bahkan pernah menjadi dosen tamu di beberapa universitas di Timur Tengah, seperti: Universitas Riyâdh (1965-1966), Universitas Lebanon (1972-1973), Ketua Jurusan Bahasa Arab di Universitas Qatar (1974-1981), Universitas Wahrân al-Jazâir (1984), Fakultas Dakwah di Tripoli Libya (1986) dan Ketua Jurusan Studi Islam dan Bahasa Arab di Universitas Dubai Uni Emirat Arab (1989 hingga sekarang)  termasuk penulis produktif, karena telah menghasilkan banyak karya di bidang bahasa, sastra Arab, termasuk tahqiq beberapa manuskrip (makhthuthat) tentang bahasa Arab. Setidaknya sampai saat ini ia telah menulis 27 buku dan 49 artikel ilmiah yang dimuat dalam berbagai jurnal di Timur Tengah.

Diantara karyanya yang berbentuk buku adalah: (1) Qawâid al-Lughah al-‘Arabiyyah, (2) al-Idhâh fi ‘Ilal al-Nahwi; (3) Mujtama’ al-Hamadzâni min Khilâli Maqâmâtihi; (4) al-Zajjâji: Hayâtuhu wa Atsâruhu wa Madzhabuhu al-Nahwi; (5) al-Rummâni al-Nahwi fi Dhau’i Syarkhihi li Kitâb Sibawaih; (6) al-Nahwu al-‘Arabi Bahts fts Nasy’at al-Nahwi wa Târikh al-‘Illah al-Nahwiyyah. Adapun karya-karya yang pernah dimuat dalam jurnal ilmiah, antara lain, adalah: (1) al-Balâgah wa Tadzawwuq al-Nashsh al-Adabi; (2) Fi al-Naqd al-Nahwi, (3) Rihlah Nahwiyyah ma‘a Ustâdzi Syauqi Dhaif, (4) al-Lughat Umm al-‘Ul­m, (5) al-Khalîl ibn Ahmad al-Farâhidi Syaikh al-Lugawiyyin wa Ustâdz al-Nahwiyyin wa Râid al-Mu‘jamiyyah wa Mubtakir ‘Ilm al-‘Arudh; (6) al-Qur’ân al-Kar³m wa ‘Ulum al-Lugah al-‘Arabiyyah, (7) Nahwa Manhaj Takâmuli li ‘Ulum al-Lughah al-‘Arabiyyah, (8) ­Tadris al-Lughah al-Arabiyyah fi al-Jâmi‘ah; dan (9) al-Manhaj al-Mutakâmil fi Tadris al-Lugah al-‘Arabiyyah.

Pemikiran linguistik dan kebahasaraban Mâzin, seperti dikomentari oleh kolega dan mahasiswanya, cukup luas dan komprehensif. Ia tidak hanya memfokuskan kajian bahasa Arab klasik dengan mentahqiq (mengedit) sejumlah makhthûthât (manuskrip) di bidang ilmu-ilmu bahasa Arab seperti: nahwu, sharf dan balâghah, melainkan juga mengkritisi dan mengapresiasi karya di bidang sastra. Lebih dari itu, karena merupakan seorang pendidik, ia juga memikirkan desain kurikulum dan metode pengajaran bahasa Arab, terutama di perguruan tinggi.

Berbeda dengan pendapat ilmuwan Barat selama ini bahwa filsafat merupakan induk segala ilmu (philosophy is mother of sciences), Mâzin berpendapat bahwa bahasa adalah induk segala ilmu (al-Lughat Umm al-‘Ulûm). Alasannya adalah bahwa bahasa adalah alat untuk studi ilmu apapun, termasuk filsafat. Bahasa, termasuk Arab, mempunyai dwifungsi yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Selain merupakan ilmu itu sendiri, bahasa merupakan media untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu yang lain. Ilmu bahasa Arab, misalnya, menjadi instrumen ilmiah untuk mengkaji dan mendalami ilmu-ilmu keislaman tradisional seperti fiqih, tafsir, tasawuf, ilmu kalam, dan sebagainya. Dalam konteks ini, ia menunjukkan signifikansi bahasa Arab sebagai ilmu dan sebagai alat ketika penstudi Islam harus memahami sumber-sumber ajaran Islam dan manuskrip-manuskrip. Tanpa menguasai bahasa Arab sebagai ilmu, lalu menjadikannya sebagai alat studi, mustahil ilmu pengetahuan yang berbahasa Arab dapat diakses dan dikembangkan secara kreatif dan produktif.

Selanjutnya, Mâzin berpendapat bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang hidup (lughat hayyah), dinamis dan paling unik di antara bahasa dunia lainnya. Bahasa Arab dipilih dan dijadikan Allah sebagai bahasa Alquran. Bahasa Arab terkait erat dengan kemu‘jizatan bahasa Alquran. Penggunaan kata “‘arabî” dalam Alquran, seperti terdapat dalam Surat Yûsuf [12]:2; al-Nahl [16]: 103 dan al-Syu‘arâ’ [26]:192-195, selalu sebagai sifat dari Alquran, bukan sifat dari kaum, bangsa atau orang kedua. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang sarat dengan nilai univerasalitas Alquran dan humanitas misi Islam karena media ekspresi Alquran adalah bahasa Arab, dan semua Muslim di manapun yang melaksanakan shalat dipastikan membaca Alquran.

Karena itu, ia berpendapat bahwa ilmu yang dapat mengantarkan seseorang untuk memahami Alquran adalah ilmu bahasa Arab. Ilmu-ilmu bahasa Arab memang beragam, meliputi: nahwu, sharf, balâghah, insyâ’, qira‘ah, khath, adab, imlâ’, dan sebagainya, tetapi pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang bermuara pada apa yang –oleh ulama terdahulu– disebut dengan “‘ulum al-âlah” (ilmu-ilmu alat). Hal ini dikarenakan fungsi ilmu-ilmu itu sebagai alat memahami teks atau wacana, bukan semata-mata untuk kepentingan ilmu-ilmu itu sendiri. Oleh sebab itu, pengenalan dan pembelajaran ilmu-ilmu bahasa Arab itu perlu dirumuskan dalam struktur program kurikulum yang terpadu pada tingkat perguruan tinggi, agar penstudi bahasa Arab tidak parsial dalam menguasai bahasa Arab. Dalam hal ini, Mazin mengibaratkan ilmu-ilmu bahasa Arab itu seperti benang yang berwarna-warni dan berbeda ukuran dan jenisnya, namun berfungsi sama sebagai perajut suatu pakaian yang merupakan bagian dari budaya pemiliknya.

Hanya saja, pandangan komprehensif dan integratif mengenai ilmu-ilmu bahasa Arab tersebut tidak sepenuhnya dapat direalisasikan dalam pembelajaran, baik pada tingkat menengah maupun perguruan tinggi. Di antara faktornya adalah: (1) motivasi belajar bahasa Arab di kalangan siswa atau mahasiswa pada umumnya masih lemah; (2) gradasi materi pemebelajaran bahasa Arab di tingkat menengah belum sepenuhnya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa; dan (3) pemberlakuan nazhariyyat al-furû‘ (teori tentang cabang-cabang bahasa Arab) pada tingkat menengah yang salah, dengan memposisikan masing-masing ilmu bahasa Arab seolah-olah berdiri sendiri, dan tidak terkait satu sama lain.

Solusi yang dikemukakannya adalah perlunya integrasi ilmu-ilmu bahasa Arab dalam satu konsep kurikulum yang komprehensif, pemilihan metode dan media pembelajaran yang efektif, penciptaan lingkungan berbahasa Arab dalam kampus atau lembaga pendidikan yang kondusif dan dinamis, dan ta’hîl (profesionalisasi) para pengajar bahasa Arab dari tingkat paling rendah (Madrsah Ibtidâ’iyah) hingga tingkat pergruan tinggi. Menurutnya, pembelajaran bahasa Arab, baik bagi orang Arab sendiri maupun bagi orang asing, perlu dikonseptualisasikan dalam sebuah sistem yang memperhatikan tujuan dasar, gradasi materi, motivasi siswa, dan lingkungan sosial budaya. Bahkan ia berpendapat bahwa belajar bahasa Arab tidak cukup hanya mengenal dan menguasai ilmu-ilmunya, melainkan juga penting mengetahui budayanya, sehingga pembelajar memiliki rasa bahasa Arab (dzauq ‘arabî) yang kuat dalam praktik berbahasa. Dengan menguasai budaya bahasa Arab, baik yang terkait dengan nilai-nilai dan tradisi Islam maupun adat istiadat bangsa Arab, pembelajar bahasa Arab tidak akan mudah “terinterfernsi” oleh bahasa ibu.

Selain itu, Mâzin juga menaruh perhatian khusus terhadap khazanah intelektual di bidang bahasa dan sastra Arab, sehingga ia menyerukan pentingnya mempelajari kembali karya-karya turâts dan mengedit berbagai manuskrip yang hingga saat ini masih belum dijamah. Perhatiannya terhadap karya-karya turâts terlihat dari 9 karyanya yang merupakan hasil suntingan (tahqîq), seperti: al-Muqtadhab karya al-Mubarrid, al-Idhâh fi ‘Ilal al-Nahwi karya al-Zajjâji, Asyhar al-Amtsâl karya Thâhir al-Jazâ’irî, dan al-Mabâhits al-Mardhiyyah al-Muta‘alliqah bi Man al-Syarthiyyah karya Ibn Hisyâm. Kajian-kajiannya mengenai tokoh bahasa Arab klasik juga dimaksudkan untuk mengapresiasi warisan khazanah Islam dan memberikan perspektif baru dalam rangka pengayaan ilmu-ilmu bahasa Arab di masa mendatang.

Diatas semua itu, Mazin menunjukkan keyakinan linguistiknya bahwa ilmu-ilmu bahasa Arab itu dinamis, terus berkembang dan dapat dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman, selama para pengkaji dan peminatnya terus memperlihatkan kesungguhan dan dedikasinya dalam menekuni ilmu yang sangat strategis ini. Karena itu, ia juga termasuk tokoh pada Dewan Bahasa Arab di Suriah yang mendukung proyek ta’rîb (pengaraban) berbagai istilah ilmu pengetahuan modern, agar leksikografi Arab semakin berkembang dan kaya dengan kosakata, istilah atau terma baru. Dengan demikian, jika perbendaharaan bahasa Arab menjadi lebih kaya dan dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka leksikografi Arab akan mengalami perkembangan dinamis dan progresif.

DAFTAR RUJUKAN

Asad, Nâshiruddin, Mâzin al-Mubârak: Buhûts Muhdât  ilaihi bi Munâsabat Bulugihi al-Sab‘in, Damaskus: Dâr al-Fikr, 2001.

al-Hâfizh, Muhammad Muthî‘, “al-Bi’ah al-‘Ilmiyyah li al-Duktur Mâzin al-Mubârak”, dalam Mâzin al-Mubârak: Buh­ts Muhdât  ilaihi bi Munâsabat Bulûgihi al-Sab‘in, Damaskus: Dâr al-Fikr, 2001.

al-Mubârak, Mâzin, al-Nahwu al-‘Arabi: Bahts fi Nasy’at al-Nahwi wa Târ³kh al-‘Illah al-Nahwiyyah, Beirût: Dâr al-Fikr, Cet. II, 1981.

al-Mubârak, Mâzin, al-Mûjaz fi Târikh al-Balâgah, Damaskus: Dâr al-Fikr, Cet. III, 1995.

al-Mubârak, Mâzin, al-Lugah al-‘Arabiyyah fi al-Ta‘lim al-‘Ali wa al-Bahts al-‘Ilmi, Beirut: Dâr al-Nafâis, Cet. IV, 1998.

al-Mubârak, Mâzin, Maqâlât fi al-‘Arabiyyah, Damaskus: Dâr al-Basyâir, 1999.