Ayah saya, dalam pandangan saya, merupakan penididik yang sangat humanistic, yang sangat memahami kondisi anak. Saya diajari banyak pendidikan akhlak. Ajaran pendidikan akhlah yang paling saya ingat adalah ketika berada di Madrasah Aliyah. Pelajar laki-laki tidak digabung dengan pelajar perempuan. Pelajar laki-laki ditempatkan di dalam kelas tersendiri, demikian pula perempuan. Kami, pelajar perempuan hanya bisa bergabung dengan pelajar perempuan dalam satu ruangan pada saat ada acara-acara di Aula Sekolah. Itupun tempat duduk kami dibedakan. Kelompok laki-laki ditempatkan dikelompok kanan, sedangkan perempuan berada di jalur kiri. Kami juga boleh berkumpul bersama pada saat kerja bakti di sekolah.

Pada waktu-waktu istirahat, kami pun tidak boleh bergabung dengan pelajar-pelajar perempuan. Kalau kelihatan kami bergabung dengan mereka, pasti semuanya akan ditegur. Tegurannya adalah tidak boleh bagi pelajar laki-laki dan pelajar-pelajar perempuan untuk berkumpul. Kalau kami sedang berkumpul sambil ngobrol bersama dengan pelajar perempuan, dan kami melihat ayah datang, semua pelajar laki-laki cepat-cepat memisahkan diri dari kelompok itu. Namanya pemuda dan remaja, tetap saja melakukan hal yang dilarang itu, dan mencari kesempatan untuk berkumpul di kesempatan lain.

Saya kira apa yang dilakukan oleh ayah itu benar sekali. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis Rasulullah yang menyatakan: “Tidak boleh salah seorang di antara laki-laki untuk berkhalwat dengan seorang perempuan. Karena ada pihak ketiga di antara mereka, yaitu syetan.” Syetan itulah yang akan menjerumsukan laki-laki dan perempuan dalam perzinahan. Apa yang menjadi pelajaran ayah selalu kami semua, para pelajarnya, selalu meningatnya hingag kapan pun.

Ada ajaran akhlak yang lain yang masih segar dalam ingatan saya. Sewaktu saya bersekolah di Madrasah Aliyah saya memiliki sebuah sepeda. Ayah membeliaknnya untuk saya pergi ke sekolah. Ajaran yang beliau berikan kepada saya adalah saya tidak diperbolehkan membonceng perempuan yang boleh dinikahi. Saya hanya boleh membonceng perempuan yang menjadi mahram saya, seperti kakak dan adik perempuan saya.

Suatu hari saat pulang dari sekolah, saya membonceng seorang teman perempuan saya hingga ke rumahnya. Dengan tenang saya membonceng dia hingga ke rumahnya. Saya meyakini bahwa ayah tidak mengetahui apa yang saya lakukan itu. Tetapi ternyata beliau tahu tentang hal itu. Buktinya, pada malam harinya usai berdoa bersama dan bersalaman setelah melaksanakan shalat Magrib, kami semua diminta untuk duduk dulu. Saya sudah tahu bahwa ada nasihat yang akan ayah berikan kepada kami. Ayah mempunyai kebiasaan yang baik memberikan nasihat kepada kami usai shalat berjamaah Magrib. Kami pun duduk manis unutk mendengarkan nasihat ayah itu.

Beliau dengan suara yang lembut dan humanistik menyampaikan kepada saya. Anakku. “Sepeda yang aku belikan untukmu itu untuk bersekolah, bukan untuk yang lain. Sepeda itu juga tidak boleh digunakan untuk membonceng perempuan asing, yang boleh engkau nikahi. Engkau tidak boleh membonceng teman sekolahmu karena mereka adalah perempuan asing (perempuan yang halal dinikahi). Engkau hanya boleh membonceng mahrammu, seperti kakak dan adik perempuanmu.” Nasihat itu saya ingat betul hingga sekarang. Saya terus ingat itu karena saya merasa nasihat itu diberikan usai shalat.

Memang sudah menjadi kebiasaan ayah saya. Jika beliau ingin memberia nasihat kepada kami semua, beliau selalu menyampaikannya usai shalat berjamaah Magrib. Ayah tidak pernah menegur kesalahan kami secara langsung segera setelah kami melakukan kesalahan. Beliau mencari momen yang baik, yaitu setelah shalat magrib. Ini yang sngat mengesankan saya dari pendidikan ayah itu.

Suatu hari, di hari berikutnya saya melakukan lagi perbuatan yang sama, yaitu membonceng teman perempuan yang sama. Dengan tenang saya membonceng dia hingga ke rumahnya. Saya ingin tahu apakah ayah tahu tentang apa yang saya lakukan. Malam harinya saya ikut shalat berjamaah Mgrib bersama beliau. Sehabis berdoa dan bersalaman, saya ditahan lagi untuk duduk. Lalu beliau memberi nasihat yang sama dengan nasihat yang sebelumnya. Saya bingung sekali dari mana ayah bisa tahu tentang perbuatan saya itu.

Beberapa waktu kemudian, saya ingin cek lagi apa betul ayah mengetahui tentang apa yang saya lakukan. Suatu hari saya membonceng lagi perempuan yang sama hingga ke rumahnya. Lalu pada malamnya saya tidak ingin ikut shalat berjamaah. Hari keduanya saya tidak ikut lagi shalat berjamaah. Hingga lima malam saya tidak ikut berjamaah Magrib dengan beliau. Malam keenam, baru saya ikut shalat berjamaah Magrib. Sehabis berdoa dan bersalaman beliau menahan semua anggota jamaah untuk duduk, termasuk saya. Lalu beliau menasihati saya lagi agar tidak lagi melakukan hal yang sama.

Saya sangat heran luar biasa. Saya pikir, beliau tidak tahu apa yang saya lakukan karena saya tidak dipanggil untuk ditegur oleh beliau. Kalau pun beliau tahu, mungkin beliau sudah lupa apa yang saya lakukan. Setelah itu, saya tidak mau melakukannya lagi. Setiap apa yang saya lakukan beliau tahu. Inilah beberapa pendidikan humanistic yang saya peroleh dari pendidikan ayah saya.

Mampukah saya melakukan hal seperti itu untuk anak-anak, dan anak didik saya? Saya belum tahu. Semoga saya mampu melakukannya. Semoga ada manfaatnya. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. Jakarta-Matraman, Kamis pagi, tanggal 25 Agustus 2016.