Memang, tidak salah ayahku dipanggil atau disapa sebagai “Guru.” Beliau betul-betul guru. Kapan saja bersama beliau, kami selalu mendapat pelajaran. Ada-ada saja pelajaran yang beliau berikan kepada saya.

Ketika bersama beliau di sawah dan di kebun, saya diajar bagaimana cara bertani dan berkebun. Sewaktu saya masih di kampung, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga bertani. Pagi hari beliau mengajar dan siang hari setelah mengajar beliau bertani. Kami selalu diajak untuk ke sawah atau ke kebun.

Di sawah kami diajar bagaimana membajak sawah, bagaimana cara memasang bajak dengan segala kelengkalannya, bagaimana cara memegang alat pembajak sawah yang dibuat dari kayu, dan bagaimana pula cara memukul kerbau yang menarik alat pembajak itu agar dapat cepat menarik alat pembajak itu. Beliau juga sangat humanis terhadap hewan-hewan. Kami tidak boleh memukul hewan terlalu keras. Pukulan yang talalu keras, menurut beliau, terlalu menyakitkannya.

Kami juga diajari bagaimana menaburkan benih padi di tenoat persemaiannya, bagaimana seharusnya mengairinya, mengatus ukuran airnya hingga benih itu dapat tumbuh dengan subur. Kami diajarkan pula bagaimana cara mencabut benih padi yang sudah besar, hingga cara memikuknya dari tempat penanaman benih hingga ke sawah tempat penanaman secara permanen.

Di kebun kami diajarkan bagaimana cara menanam tanaman-tanaman di kebun, seperti menanam pusang, menanam kelapa, menanam kopi, dan menanam tanaman lainnya. Kami diajarkan pula bagaimana cara menyiramnya, bagaimana cara meyuburkannya, dan dengan bahan apa tanaman itu bisa menjadi subur, bagaimana cara memeliharanya, bagaimana cara mengawasinya, dan bagaimana pula cara memetiknya.

Semua tanaman yang telah ditanam dan tumbuh, tidak boleh diganggu daun-daunnya, apalagi dipetik. Beliau berpendapat bahwa kalau kita memetik daunnya tanpa memanfaatkannya, tanaman itu merasakan sakit. Jadi, kami diajar bagaimana kami harus bertindak terhadap tanaman-tanaman yang kami tanam.

Sewaktu kami di Parado, kampung kelahiran saya, rumah kami memiliki halaman yang cukup luas. Semua halaman rumah dimanfaatkan untuk menanam berbagai macam tanaman produktif. Ada pisang kepok, ada pisang susu, ada pisang Ambon, ada nenas yang jumlahnya ratusan pohon, ada talas yang jumlahnya juga ratusan pohon, ada ubi jalar yang juga tudak sedikit jumlahnya, ada tebu, ada singkong bebrapa pohon, dan ada pula beberapa macam umbi-umbian. Semua itu kami yang tanam sendiri di bawah bimbingan dan pendidikan “Guru.”

Hasil dari tanaman itu sangat memuaskan. Buah pisang yang dihasilkan juga sangat bagus dengan tandan yang panjang, buah yang besar-besar. Buah nenasnya besar-besar dan banyak. Kami sudah waktunya masak, kami memetiknya setiap hari dan memakannya. Ubi jalarnya besar-besar. Besarnya bagaikan periok ukuran kecil. Satu buah cukup dimakan untuk beberapa orang.

Tanaman Ubi kayu (singkong) dilakukan secara khusus. Kami menyiapkan terlebih dahulu tempat menanam yang sudah digali, ukuran 1 m persegi. Lalu kami isi dengan sekam, kulit pati atau pupuk kotoran hewan yang dicampur sedikit tanah. Kemudian beberapa waktu kemudian kami menaman singkong bangkong yang ukuran batangnya berdiameter 5 cm. Tanaman singkong seperti itu hanya 10 pohon. Hasilnya luar biasa. Besar singkongnya bagaikan betis, panjangnya sedepa orang dewasa. Satu buah ubi singkong cukup untuk satu keluarga kami.

Seingat saya ayah telah mendapatkan dua kali penghargaan dari Dinas Pertanian Provinsi NTB atas hasil pertanian kami di halaman rumah kami. Dua kali mendapatkan perhargaan medali. Penghargaan yang luar biasa yang diperoleh ketika itu.

“Guru” adalah petani ulung, mempunyai ilmu yang luas untuk pertanian. Beliau tahu apa yang harus dilakukan agar tanaman yang ditanam menghasilkan hasil-hasil yang memuaskan. Bahkan, sebelum tanaman diletakkan di tanah ketika menanam, kami diajarkan doa-doa. Tidak ada tanaman yang kami tanam yang tidak dibacakn doa. Ini adalah pendidikan dan pengajaran pertanian yang luar biasa dari “Guru”.

Semua hasil tanaman yang ditanam tidak ada yang dijual, kecuali nenas yang hasilnya berlebihan dan tidak dapat kami habiskan. Semuanya kami makan. Ayah dan ibu selalu mengatakan “Makanlah dan nikmatilah sepuas-puas kalian semua hasil tanaman itu karena itu adalah jerih payah kalian sendiri. Semua makanan ini mengandung gizi yang tinggi untuk pertumbuhan fisik dan mental kalian. Dengan makanan itu, kalian semua kelak menjadi orang yang pintar dan berilmu.” Inilah harapan dan doa dari ayah dan ibu sejak kami kecil.

Ilmu yang luar biasa yang telah diajarkan kepada kami, baik secara teori mauoun praktek. Ilmu telah meresap ke dalam hati kami hingga hari ini. Mampukan saya melakukan hal seperti itu untuk anak-anak, dan anak didik saya? Itulah yang menjadi persoalannya. Semoga saya mampu melakukannya. Semoga ada manfaatnya. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. Bogor-Internastional Gest House, GG-House-Happy Valley, Gadok, Sabtu pagi, tanggal 27 Agustus 2016.