“Guru” (ayahku) tidak hanya mengajariku ilmu-ilmu agama, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris, tetapi juga mengajariku ilmu-ilmu teknik dan keterampilan. Aada beberapa keterampilan yang diajarkan oleh “Guru” kepada saya. Di antaranya dapat saya ceritakan sebagai berikut.

Ketika saya masih tinggal bersama beliau di kampong halaman, yang ketika itu usia saya baru sekitar 11 tahun, ayah sudah mendekatkan diri saya kepada keterampilan tukang kayu. Kebetulan waktu itu ada dua orang tukang kayu yang sedang mengerjakan rumah kami di Parado. Saya sdh diminta memperhatikan peralatan tukang kayu yang dimiliki oleh kedua tukang kayu itu. Bahkan, ketika tukang kayu itu istirahat saya diajari bagaimana cara memegang gergaji untuk memotong kayu, serut untuk menyerut kayu, dan memahat untuk melubangi kayu. Pelajaran keterampilan itu juga masih segar dalam ingatan saya.

Ketika saya tinggal bersama beliau di Bima, dan ketika itu saya sudah pelajar di Madrasah Tsanawiyah, ayah membuat sendiri rumah kecil (anak rumah) yang berasmbungan dengan ruimah besar kami. Pada saat itu saya tidak hanya diajari cara memegang peralatan tukang kayu itu, tetapi juga saya ikut langsung membantu “Guru” mengerjakan beberapa bahagian dari papan-papan untuk kelengakapan rumah itu. Saya sering membantu ayah meotong papan atau balok dengan gergaji setelah ayah mengukur panjang-pendeknya. Saya sering membantu beliau untuk menyerut kayu setelah ayah mengukurnya, dan bahkan saya membantu memahat kayu. Saat itu juga ayah berpesan, Raya (pannggilan akrab untuk saya) harus termapil mengerjakan pekerjaan kayu seperti ini.

Sejak saya masih pmurid di Madrasah Ibtidaiyyah hingga duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, “Guru” sudah melihat bahwa saya memiliki potensi ketermapilan yang berkaitan teknik. Salah satu di antaranya adalah bermain-main dengan peralatan teknik, seperti obeng, tang, kakatua, dan peralatan teknik lainnya. Ketika saya di kelas 1 Madrasah Aliyah, saya memulai mngotak atik radio, jam tangan, dan sudah memiliki kamera kecil untuk mengambil foto.

Sepeda saya, kalau rusak, saya yang memperbaiki sendiri dengan peralatan yang ada. Ada radio-radio yang rusak, saya perbaiki juga dengan peralatan yang saya miliki. Bahkan mesin-mesin jahit yang rusak saya perbaiki. Perbaikan itu tidak hanya saya lakukan untuk peralatan yang ada di rumah, tetapi juga saya lakukan terhadap milik tetangga atau keluarga yang mengalami kerusakan.

Saya juga sering membuka-buka jam tangan saya sendiri, bahkan mempelajari bagaimna jam tangan itu berkerja dan berjalan. Pada saat itu belum ada jam tangan yang menggunakan baterai. Jam tangan ketika itu masih menggunakan putaran, dan otomatis. Mungkin “Guru” selalu mengamati apa yang saya lakukan. Dari pengamatannya itu,n suatu saya lalu diantarnya ke sebuah tukang arloji, seorang Cina yang beliau kenal, yang ada di Kota Bima. Saya diperkenalkan oleh beliau kepadanya, dan beliau meminta kepadanya untuk mengajari saya cara memperbaiki jam (arloji). Saya hanya megikuti kurus servis jam tangan darinya hanya 4 kali. Saya langsung bisa. Lalu saya m,emberi peralatan untuk memperbaiki jam tangan di tooko.

Kemudian saya dengan peralatan itu saya menjadi tukang arloji amatiran. Paling tidak untuk keluarga saya. Kemudian lama- kelamaan keterampilan itu berkembang dan akhirnya banyak orang di kampong yang datang meminta saya memperbaiki jam tangan mereka yang rusak. Kebiasaan memperbaiki jam tangan ini tidak hanya beralngsung di Bima, tetapi juga setelah saya duduk di bangku kuliah, di IAIN Alaaudin Makassar. Teman-teman sekelas saya, kalau ada jam tangan mereka yang rusak, saya diminta memperbaikinya. Saya hanya menyampaikan kerusakannya dan harga alat yang akan saya ganti. Mereka memberikan ongkops juga kepada saya. Demikianlah yang saya lakukan hingga beberapa setelah saya sarjana. Hal ini tidak dapat lagi saya lakukan, karena pekerjaan itu sudah lama saya tinggalkan.

Inilah sebahagian keterampilan teknik yang saya bisa lakukan. Ilmu keterampilan itu, kalau saya mengajarkannya kepada saya, beliau mengajarkannya. Kalau beliau tidak bisa, maka saya dibawa ke ahlinya untuk menerima pelejaran darinya. Demikianlah ajaran dan pemndidikan yang diajarkan “Guru” kepada saya. Ilmu yang luar biasa yang telah diajarkan kepada saya, baik secara teori mauoun praktek. Ilmu telah meresap ke dalam hati saya hingga hari ini. Mampukah saya melakukan hal seperti itu untuk anak-anak, dan anak didik saya? Itulah yang menjadi persoalannya. Semoga saya mampu melakukannya. Semoga ada manfaatnya. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. Jakarta-Matraman, Ahad pagi, tanggal 28 Agustus 2016.