Sebagai tamatan Madarasa Darul Ulum, ayah tidak hanya mampu berbahasa Arab dengan baik, baik secara tertulis maupun lisan dengan fasih, tetapi juga mampu berbahasa Inggris dengan baik. Menurut ceritanya, beliau mendapatkan Bahasa Arab sejak beliau di Madrasah Darul Ulum dari para guru beliau, yang sebelumnya pernah tinggal di Makkah, sebagai murid-murid ulama Mekkah ketika itu. Sebelum tamat Darul Ulum, oleh Sultan Muhammad Salahuddin, beliau diangkat langsung sebagai guru Agama di sebuah sekolah yang cukup jauh dari kampung kelahiran beliau. Ketika itu beliau masih bujangan.

Setelah beliau menjadi guru, beliau mulai mempelajari Bahasa Inggris secara otodidak (tanpa guru) hanya dengan menggunakan satu buku. Buku itu masih saya saksikan ketika saya masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Saya tidak tahu apa judul buku itu karena sampulnya sudah tidak ada lagi. Bahkan, ketika itu ada yang menganggap bahwa beliau orang aneh karena berbicara sendiri dengan Bahasa yang orang-orang lain tidak tahu. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau sedang berbicara dengan jin. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau mendapatkan ilmu Bahasa Inggris karena mendapat ilmu laduni. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau belajar Bahasa Inggris dari jin. Karena sudah maklum dan masyhur di kalangan masyarakat di kampung kelahiran saya bahwa beliau memiliki isteri jin, dan bahkan memiliki anak-anak dari jin.

Segala macam anggapan orang tentang beliau terkait dengan kemampuannya berbahasa Inggeris itu. Saya ingat betul ketika saya masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Ketika saya berjalan bersama beliau, seperti ke sawah, ke kebun, atau ke tempat lainnya, beliau selalu mempraktekkan Bahasa Inggris itu secara lisan. Beliau selalu mempraktekkan Bahasa Inggrisnya itu dengan bersuara dan saya selalu mendengar ucapan (praktek Bahasa Inggris) yang beliau lakukan. Kadang-kala saya pun mengiyakan atau menyapa kembali beliau, dan beliau tidak menjawab kecuali dengan mengatakan: “Saya lagi belajar Bahasa Inggris.”

Apa yang beliau lakukan dengan mempelajari Bahasa Inggris itu berbeda dengan teman-teman sekolah beliau ketika itu. Semua teman satu sekolah dengan beliau, tidak ada satupun yang bisa berbahasa Inggris seperti beliau. Mungkin karena ketika itu, masih anggapan bahwa Bahasa Inggris merupakan Bahasa kafir, Bahasa orang-orang kafir. Inilah yang membuat banyak orang ketika itu tidak mau mempelajari Bahasa Inggris. Beliau, menurut saya, mempunyai pandangan yang berbeda dengan mereka. Sudah memiliki pandang yang modern, yang tidak melihat Bahasa Inggris itu sebagai Bahasa orang kafir.

Ketika saya duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah di Bima, salah satu guru Bahasa Inggris saya adalah beliau sendiri. Selama berlangsung pelajaran Bahasa Inggeris, beliau selalu menggunakan Bahasa Inggris. Beliau memulai pelajaran dan menutup pelajaran dengan Bahasa Inggris yang sederhana dan mudah dipahami. Kata-kata pembukan dan kata-kata penutupan pelajaran bagaikan sudah menjadi klise Bahasa beliau, sehingga kami ingat betul.

Kami mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris dari beliau sebagai guru private Bahasa Inggeris yang free, cuma-cuma, tidak mendapat gaji. Biasanya untuk belajar Bahasa ini digunakan waktu pada sore atau malam hari. Karena siang hari, adalah waktu untuk bermain dan beradaptasi dengan teman-teman kami. Beliau mulai mengajarkan kami Bahasa Inggris dengan hal-hal yang sederhana yang khusus yang berkaitan nama, perkenalan, dan hal-hal yang sangat enteng menurut saya. Baru hal-hal yang agak umum. Yang diajarkan kepada kami tidak hanya cara menuliskannya, tetapi cara mengucapkan dan mengatakannya. Kami semua, sebagai anak-anaknya telah mendapatkan pelajaran private Bahasa Inggris itu dari beliau.

Alhamdulillah dengan cara beliau mengajarkan kami itu kami mendapatkan modal dasar untuk berbahasa Inggris. Kami pun terdorong untuk belajar Bahasa Inggris dengan tekun. Beliau mengajarkan kepada kami bahwa Bahasa Inggris itu adalah Bahasa dunia dan untuk dunia serta untuk memahami dunia. Bahasa Arab adalah Bahasa agama, diperlukan untuk memahami agama di dunia ini, dan Bahasa akhirat. Kami semua, paling tidak, mampu memahami apa yang diucapkan atau dikatakan oleh orang lain.

Pelajaran pendidikan yang dapat diambil dari apa yang dilakukan oleh ayah itu adalah:
1. Bahwa pekerjaan apa pun yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh akan kita peroleh hasilnya.

2. Sesulit apa pun Bahasa yang kita pelajari, kalau dipelajari dengan sungguh-sungguh, kita akan bisa.

3. Bahasa tidak hanya dipahami dan dimengerti, tetapi juga harus dipraktekkan.

4. Peran orang tua di dalam rumah menjadi sangat penting untuk mendorong anak-anaknya belajar, dan bahkan mengajarkan ilmu kepada mereka kalau mereka mampu.

Semoga pengalaman ini berkelanjutan kepada generasi-generasi berikutntya. Mampukah saya melakukan hal seperti itu untuk anak-anak, dan anak didik saya? Saya belum tahu. Semoga saya mampu melakukannya. Semoga ada manfaatnya. Aamiin. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. Jakarta-Matraman, Selasa pagi, tanggal 23 Agustus 2016.