Gedung FITK, BERITA FITK Online– Senin, (6/9/2021) Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Webinar Nasional yang bertajuk “Kurikulum Link and Match Prodi PAI”. Acara tersebut dilangsungkan secara daring melalui platform Zoom Cloud Meeting dan diikuti oleh mahasiswa PAI, dosen FITK, dan kalangan akademik lainnya.

Dalam acara tersebut, PAI FITK menghadirkan tiga narasumber, yaitu Prof. Dr. Suwatno, M.Si., Guru Besar Universitas Pendidikan Indoesia (UPI) Bandung, Dr. Syafii, M.Ag. Kasubdit Pengembangan Akademik Diktis Kementerian Agama, dan Dr. Bahrissalim, M.Ag., dosen FITK sekaligus Direktur Madrasah Pembangunan (MP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang akan dipandu oleh Yudhi Munadi, M.Ag. dosen FITK.

Dalam sambutannya sebagai Kaprodi PAI, Drs. Abdul Haris, M.Ag. menyampaikan rasa syukurnya sehingga kegiatan webinar nasional PAI dapat terlaksana. “Alhamdulillah kita dapat melaksanakan dan bertemu dalam kegiatan webinar PAI kali ini yang akan membahas keterkaitan antara kurikulum Prodi PAI dengan bidang-bidang profesional yang mungkin nanti akan mereka (alumni) geluti,” ucapnya.

“Tentu akan sangat menyenangkan dan akan sangat baik seandainya lapangan kerja di negara kita tersedia bagi semua warga negara lebih-lebih bagi alumni pendidikan tinggi dan lapangan kerja itu sesuai dengan bidang pendidikan yang mereka tempuh. Kenyataanya kita menghadapi tidak semua alumni perguruan tinggi bisa mencetak para alumninya untuk memasuki dunia kerja sesuai dengan disiplin ilmunya,” pungkas alumni Gontor ini.

Selanjutnya, Dr. Sururin, M.Ag. selaku Dekan FITK menyampaikan dalam sambutannya menyampaikan kegembiraanya pada hari ini terlaksana kegiatan yang cukup penting. “Alhamdulillah pagi hari ini kita bersama-sama mengikuti sebuah kegiatan yang menurut saya sangat bagus sekali, sangat kontekstual bila dikaitakan dengan kondisi saat ini apalagi dengan kebijakan Mas Menteri yang kemudian diadopsi oleh Kementerian Agama terkait dengan MBKM sehingga kita coba untuk mempelajari link and match antara kurikulum PAI dengan dunia yang ada di sekitar kita khususnya dunnia kerja. Oleh karena itu kita menyambut baik semua kebijakan-kebijakan yang ada dan coba kita implementasikan,” ucap Sururin.

“Bapak/Ibu, kita perlu mengetahui betul apa profil dari alumni Prodi PAI ini. Kita berharap bahwa mahasiswa/i kita ketika lulus bisa mempunyai aktivitas (pekerjaan) sesuai dengan yang diajarkan dan pengalaman-pengalaman yang diberikan selama kuliah. Ini harapannya agar benar-benar match antara yang diajarkan di kampus dengan dunia kerjanya nanti. Oleh karena itu, kita perlu mereview kembali apa yang sebenarnya yang menjadi profil lulusan kita (PAI) sehingga kurikulum yang akan kita susun adalah kurikulum yang betul-betul link and match,” lanjut Sururin.

“Profil untuk alumni PAI yang pertama diharapkan mereka akan menjadi calon-calon pendidik, calon guru. Mereka sudah dibekali sedemikan rupa dalam proses perkuliahannya. Profil alumni PAI yang berikutnya  adalah akan menjadi peneliti dan konsultan pendidikan. Kalau kita link match-kan dengan kondisi saat ini kita perlu kembali mereview profil dari alumni PAI ini sebenarnya mau diarahkan ke mana. Ini menurut saya yang penting sekali Bapak/Ibu apalagi sekarang banyak berkembang yang namanya enterpreneurship di dalam bidang pendidikan. Jadi dalam bidang pendidikan juga perlu kita kembangkan enterpreneurshipnya,” tutup Sururin.

Berikutnya, dalam penyampaian materinya, Prof. Dr. Suwatno, M.Si., menjelaskan bahwa gagasan link and match bukanlah sesuatu yang baru dibahas, bahkan wacana itu muncul sejak tahun 1989.
“Bahwa gagasan link and match sejatinya bukan hal yang baru, sejak era Pak Habibie dan Pak Wardiman selaku Menteri Pendidikan pada saat itu pada tahun 1989 sampai dengan 1998 mengubah orientasi gagasan pendidikan yang sebelemunya, supply minded menjadi demand minded, mengikuti kebutuhan pasar,” jelas Suwatno
Link and match dapat dilihat dari pengertian sempit dan luas. Dalam pengertian sempit konsep ini menempatkan produk pendidikan untuk menangani masalah-masalah yang sifatnya praktis, teknis, dan berjangka pendek. Misalnya program politeknik, diploma, kursus, pelatihan-pelatihan yang sifatnya profesioanal. Sedangkan dalam arti luas konsep ini bermakna kesesuaian antara produk pendidikan dengan tantangan zaman dalam tataran filosofis, makro, umum, dan mendasar yang sifatnya akademik,” tambah Suwatno.

Selanjutnya Suwatno menjelaskan agar lulusan perguruan tinggi dapat mathing dengan kebutuhan pasar dan permintaan lapangan kerja.
“Bapak/Ibu, agar lulusan perguruan tinggi dapat matching dengan kebutuhan pasar dan permintaan lapangan kerja, maka perguruan tinggi tersebut harus memiliki kurikulum yang mampu memenuhi standar Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). KKNI ini merupakan pernyataan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang penjenjangan kualifikasinya didasarkan pada tingkat kemampuan yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran,” tutup Guru Besar UPI ini.

Selanjutnya, Dr. Syafii, M.Ag. dalam pemaparan materinya menyampaikan perguruan tinggi tidak boleh menutup mata jika terjadi penumpukan pengangguran orang terdidik.
“Perguruan tinggi tidak boleh menutup mata jika terjadi fenomena penumpukan pengangguran kalangan terdidik ini perguruan tinggi juga tidak bisa diam dan pasti akan menjadi pihak yang tertuduh dan perguruan tinggi tidak bisa berkelit. Karena bagaimanapun juga orang meniti pendidikan, orang mengikuti pendidikan pada akhirnya itu mereka juga pada akhirnya harus bekerja. Nah pekerjaanya ini dicari sedemikian rupa agar sesuai dengan bidang keahlian yang didapatkan melalui pendidikannya itu. Kalau dia mahasiswa PAI yang disiapkan untuk menjadi guru agama Islam jenjang pendidikan dasar sampai menengah, baik pada satuan umum maupun satuan umum bercirikhas Islam maka sebaiknya dia bekerja dengan bidang ilmu yang dimiliki,” jelas Syafii.

“Perguruan tinggi sebagai satuan pendidikan yang menyelenggarakkan pendidikan memang didesain bukan hanya semata-mata untuk menyiapkan angkatan kerja dalam dunia kerja, tetapi pada sisi yang lain, perguruan tinggi tidak bisa lari dari tanggung jawab ketika lulusannya ternyata dia tidak bisa bekerja sesuai dengan ragam pekerjaan yang ada pada masanya. Apalagi dimaknai secara sempit bahwa dunia kerja adalah dunia industri, dunia usaha, tentu ini malah lebih fatal lagi. Yang terjadi malah akan terjadi kekecewaan-kekecewaan ketika kita melakukan refleksi atas lulusan perguruan tinggi,” tutup Syafii.

Sementara itu, Bahrissalim sebagai narasumber terkahir menyampaikan materinya yang menyoroti tentang sikap umat Islam dalam menghadapi pandemi covid-19.

“Bapak/Ibu dan teman-teman mahasiswa, jadi pendidikan yang kita lakukan adalah dalam rangka menyiapkan generasi masa depan dan pada hakekatnya pendidikan adalah menumbuhkan karakter dengan membiasakannya setiap hari sehingga menjadi budaya. Sebetulnya jika kita berbicara link and match di PAI itu melampaui itu. Jadi tugas kita sangat berat di FITK dan di LPTK. Jadi tidak hanya secara in mahasiswa kita memiliki keterampilan yang bisa diukur tetapi mereka dididik untuk menyiapkan generasi cerdas. Jadi yang dibutuhkan tidak hanya keterampilan hard skill namun juga keterampilan soft skill, walaupun semuanya pendidikan mengandung itu. Jadi tugas kita menjadi pendidik dan mendidik anak-anak generasi masa depan yang akan menjadi generasi pengganti kita, dan ini cukup berat” Jelas Bahris sapaan akrabnya.

Selanjutnya Bahris menyampaikan tantangan-tantangan Prodi PAI ke depan. “Tantangan Prodi PAI ke depan adalah yang pertama PPG pra jabatan, tadi telah disinggung pak Syafii terutama terkait pelaksanaan PPG pra jabatan bagi calon guru dan mereka itu adalah para sarjana. Nah ini menjadi tantangan tersendiri untuk LPTK di Kemenag. Yang kedua ada revolusi industri dan yang ketiga adalah pandemi covid-19. Yang pertama saya ingin menyampaikan bahwa dengan adanya peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 8 2009 tentang Pendidikan Profesi Guru, itu secara formal alumni kita yang S1 belum memiliki kewenangan menjadi guru, tapi ya secara informal tidak menjadi masalah. Nah ini yang menjadi catatan bagi kita ketika mengembangkan kurikulum PAI kemarin ada pemikiran bahwa yang mengikuti calon guru yang mengikuti PPG itu bukan hanya sarjana yang berasal dari LPTK saja, tapi sarjana non LPTK. Nah ini yang menjadi problem dan itu menjadi latar belakang kami tim pengembang kurikulum PAI tahun 2018 itu mencatat betul persoalan ini yang disampaikan 10 tahun oleh Pak Syafii itu,” tutup Direktur MP UIN Jakarta ini. (MusAm)