Bulan suci Ramadan segera menghampiri umat muslim di seluruh dunia, bulan yang disebut-sebut terdapat malam yang lebih utama dibandingkan 1000 bulan akan menjumpai kita. Masyarakat Indonesia tinggal menunggu pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan secara resmi kapan dimulainya bulan Ramadan. Sebagian organisasi kemasyarakatan (Ormas) telah memutuskan waktu dimulainya bulan Ramadan, Muhammadiyah misalnya telah menetapkan 1 Ramadan 1440 Hijriah jatuh pada Senin 6 Mei 2019 dan Nahdlatul Ulama pun diperkirakan akan menetapkan awal Ramadan yang sama.

Bulan suci Ramadan umumnya sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam, sebagian besar masyarakat muslim antusias menyambut datangnya bulan yang penuh ampunan ini. Antusiasme masyarakat terhadap datangnya bulan Ramadan dibuktikan oleh semaraknya persiapan masyarakat dengan mengadakan beberapa kegiatan di antaranya karnaval penyambutan di berbagai pelosok negeri, acara ceramah keagamaan digelar di penjuru daerah, ziarah makam kerabat dan ulama, membersihkan dan mempercantik masjid serta musala yang akan dipergunakan ibadah selama bulan Ramadan.

Selain peningkatan spirit religiositas di atas, pemandangan gairah sosial dan perniagaan masyarakat Indonesia di bulan Ramadan begitu tergambar di berbagai sudut kehidupan mulai dari saling mengunjungi antar sanak saudara, berkumpul dengan keluarga, dan menjamurnya pedagang musiman di sepanjang jalan yang hanya ditemukan saat Ramadan tiba. Perputaran ekonomi masyarakat juga nampak jelas terlihat di pusat-pusat perbelanjaan seperti: mal, swalayan, pasar tradisional dan lain sebagainya seolah masyarakat ingin melupakan sejenak hiruk pikuk politik yang terjadi di negeri ini.

Selain momen hari raya Idulfitri yang biasa digunakan masyarakat Indonesia untuk saling bersilaturahim dan bermaafan, momentum Ramadan juga bisa dijadikan sebagai media pembelajaran dalam memperkokoh rasa persatuan, kesatuan, dan saling memaafkan antar semua lapisan masyarakat, misalnya: anak dengan orangtua, mahasiswa dengan dosen, murid dengan guru, staf dengan atasan, pemerintah dengan rakyatnya, dan lain sebagainya. Ramadan juga dapat dijadikan momentum memperkokoh sikap toleransi antara umat beragama yang dilandasi semangat kebangsaan sehingga tradisi dan suasana kehangatan Ramadan tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, tetapi juga seluruh masyarakat lintas budaya dan agama.

Lebih luas dari itu, bulan Ramadan sebaiknya dijadikan momentum untuk rekonsiliasi nasional sekaligus meneguhkan semangat kebangsaan pada masyarakat. Apalagi bangsa Indonesia baru saja selesai melaksanakan pesta demokrasi yaitu pemilihan umum calon anggota legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden secara serentak. Kita menyadari beberapa bulan sebelum dan beberapa minggu pascapemilu dilangsungkan, masyarakat Indonesia terpolarisasi menjadi dua kubu yang sama besar dan kuat. Dalam suasana Ramadan, ada baiknya jika perbedaan dan perseteruan yang selama ini terjadi segera disudahi. Apalagi dua kubu tersebut dipastikan mayoritas pemeluk Islam.

Fenomena Ramadan harus direspons baik dan positif karena Ramadan bukan hanya ritual keagamaan umat Islam, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan sosial masyarakat agama lain dalam mengembangkan sikap respek terhadap umat Islam yang berpuasa. Senada dengan itu, Ramadan juga diupayakan dapat meningkatkan toleransi antar umat beragama, saling menghormati dan menghargai proses ibadah masing-masing umat, saling memaafkan dan saling menjaga kebhinekaan dan persatuan.

Momentum Ramadan seharusnya bukan hanya meningkatkan kualitas keislaman dengan kuantitas ibadah yang diperbanyak tetapi juga harus mampu meningkatkan hubungan sosial yang dilandasi kekuatan rasa persahabatan di antara sesama serta menciptakan semangat cinta damai dengan melepaskan berbagai pertikaian yang disebabkan beda pilihan politik, perbedaan etnik, budaya, aliran keagamaan, serta dapat meningkatkan kualitas toleransi dan semangat kebersamaan.

Singkatnya, marilah kita manfaatkan momen Ramadan yang hanya datang satu kali (sebulan) dalam satu tahun dengan penuh kegembiraan dan suka cita serta untuk memperbaiki kualitas diri, baik terhadap Tuhan YME dalam wujud introspeksi diri dan memperbanyak ibadah maupun terhadap sesama manusia dengan bentuk saling memaafkan dan mengikhlaskan serta pada akhirnya kita berharap menjadi golongan hamba Tuhan yang bertakwa.

Muslikh Amrullah, MPd, Staf Magister FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (mf)