AZYUMARDI AZRA
(4-3-1955 – 18-9-2022)

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat berpulang Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE. Kak Edi, begitu ia biasa disapa para kolega yuniornya, telah wafat pada Ahad siang, 18 September 2022 di Rumah Sakit Serdang, Selangor, Malaysia. Almarhum adalah salah seorang cendekiawan Muslim paling brilian dan produktif dalam bidang kajian Islam Indonesia dan Asia Tenggara saat ini.

=====
Selasa, 30 Agustus 2022, sembari sarapan pagi, saya tetiba kangen Kak Edi. Beberapa bulan lalu, tokoh yang mendapat anugerah gelar kehormatan tertinggi CBE (Commander of the Order of the British Empire) dari Ratu Inggris ini, pesan minta dicarikan ikat kepala Sunda atau Jawa.

“Kenapa Kak Edi ingin pakai ikat kepala?”, waktu itu saya penasaran bertanya, “Bagus kan, Man. Meski saya orang Minang, tapi saya suka itu simbol keragaman budaya Sunda atau Jawa, selain untuk menutup kepala”, jawabnya lugas sarat visi. Kak Edi seorang yang mengglobal, namun ia teramat mencintai keragaman budaya lokal.

Saya baru sempat menghantarkan ikat kepala pesanan Kak Edi itu Selasa sore harinya. Saya sekalian meminta kesediaan sejarawan terkemuka ini memberikan testimoni untuk tayangan Ngariksa (Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara) episode 75, yang mengkhatamkan manuskrip Zubdatul Asrar karya Syekh al-Makassari pada Jumat 9 September 2022.

Bagi saya, Kak Edi bukan semata seorang mahaguru, khususnya dalam mengembangkan bidang ilmu filologi dan Islam Indonesia. Ia adalah Kakak yang peduli dan empati dengan detil persoalan sehari-hari yang saya hadapi.

“Saya bertekad, suatu ketika akan mengikuti jejaknya, mengisi berbagai seminar di dalam dan luar negeri, menjelaskan keahlian yang digeluti”. Itulah mimpi saya dulu, saat memikirkan sosok Prof. Azyumardi Azra, CBE, yang kini telah paripurna menyempurnakan tugasnya sebagai anak manusia, berpulang dengan tenang menemui sang Pencipta.

Entah itu keinginan atau khayalan, sejak sekira tahun 1996-an, saya sering bergumam tentang keinginan mengikuti jejak Kak Edi, yang saat itu memang sedang menjadi bintang sarjana Muslim Ciputat. Mungkin memang hanya mimpi.

Kak Edi memiliki kemampuan yang sulit ditandingi dalam hal melakukan kontekstualisasi pengetahuan klasik dalam isu-isu kontemporer. Nyaris tidak ada isu aktual yang luput dari perhatiannya. Berbagai forum dialog dan media seolah berlomba meminangnya sebagai narasumber. Ia fasih berbicara berbagai tema, mulai dari isu keislaman jaringan ulama Nusantara dan Timur Tengah yang menjadi kepakarannya, hingga masalah demokrasi, gender, politik, media, hingga urusan sepakbola. Premisnya adalah kontekstualisasi pengetahuan klasik ke dalam isu kekinian.

Bagi saya, yang belakangan memilih jalan sunyi kajian filologi, inspirasi Kak Edi amatlah nyata. Di saat saya merasa “sendirian” karena tidak ada satu pun teman seangkatan yang memilih kajian filologi, disertasi Kak Edi tentang “Jaringan Ulama” ibarat lampu penerang di tengah kegelapan. Kajiannya tentang saling-silang hubungan ulama Nusantara dengan para guru dan koleganya di Haramayn, memberikan inspirasi dan keyakinan diri betapa manuskrip kuno dapat memberikan kontribusi keilmuan yang sangat signifikan.

Inspirasi bukan sekadar guru, ia adalah pembimbing, atau mursyid dalam dunia tarekat. Dengan segala kebaikannya, suatu ketika Kak Edi mengundang saya ke rumahnya untuk menjelajah koleksi buku di perpustakaan pribadinya, serta memboyong foto kopi manuskrip Ithaf al-Dzaki koleksi Darul Kutub, Kairo, yang kelak menjadi korpus utama penelitian saya. Berbekal foto kopi itulah saya melacak keberadaan salinan manuskrip tasawuf karya Ibrahim al-Kurani (w. 1690) tersebut, hingga ditemukan 31 salinan di seluruh dunia.

Terlalu banyak investasi kebaikan yang Kak Edi semai. Di mata kami, Kak Edi adalah senior yang sangat murah hati memberi kesempatan, dan membuka peluang untuk berkembang. Kenalan dan jaringan akademik internasionalnya sangat luas. Kami sering berseloroh, “Surat rekomendasi Kak Edi nilainya amat mahal, dan laku di pasar akademik internasional”.

Jujur saya pernah jengkel ketika pada awal 2003, Kak Edi memaksa saya cuti dari tugas-tugas di PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat), dan meminta saya “bertapa” menyelesaikan penulisan disertasi. Itu memang sudah menjelang tahun keempat masa studi. Masalahnya, saat itu sedang banyak proyek yang ingin saya ikuti, lumayan bisa menambah uang dapur.

Tapi, sebagai yunior, saya tentu tidak bisa menolak, ruang kerja pun saya pindah, menyendiri di lantai dua PPIM, membaca sumber-sumber bacaan, menelisik lembaran-lembaran kumal manuskrip, merumuskan pertanyaan penelitian (research question), menulis bab per bab, dan merampungkan draft disertasi. Di akhir, saya amat bersyukur ke Kak Edi.
Berkat “paksaan” itu, studi doktoral saya bukan hanya selesai tepat waktu, malah lebih cepat satu semester, meski harus kehilangan sebagian dana beasiswa. Terkait itu, Kak Edi berujar, “Dengan gelar Doktor di tangan, kamu akan mendapat penghasilan berlipat lebih dari jumlah beasiswa satu semester itu”. Kak Edi saya anggap kyai di bidang akademik. Sebagai santri, saya biasa manut. Maka saya pun mengikuti ujian promosi pada 11 September 2003.

Saya harus berterima kasih kepada Kak Edi. Kalau tidak dijewer, tidak ditegur, tidak dibuat jengkel, dan tidak dipaksa menempuh tahap-tahap yang dilalui, mungkin saya tidak akan meraih yang terbaik. Atas prestasi akademik dan karir yang saya raih hingga saat ini, saya amat berhutang budi pada Kak Edi. Ia membuka jalan, membabat ilalang, dan menancapkan penunjuk arah. Meminjam ungkapan Isaac Newton, “Standing on the shoulders of giants”, kesuksesan akademik saya banyak bertumpu pada pundak kebesaran Kak Edi.

Selamat jalan, Kak Edi….jadilah jiwa yang tenang, yang kembali kepada Tuhannya dengan tenang, ridla, dan diridlai. Surga telah menunggu hamba sebaik Kak Edi….

Ciputat, Tangerang Selatan, 18 September 2022
Oman Fathurahman

Terbit di Media Indonesia, 19 September 2022