Silaturahmi tanpa Pamrih

Oleh: Muslikh Amrullah

Islam adalah agama yang penuh kedamaian, keharmonisan, kerukunan, dan persaudaraan. Hal tersebut bukti karena Agama Islam mengajarkan ukhuwah Islamiyah kepada pemeluknya. Ajaran ini adalah salah satu aspek yang utama dalam kehidupan beragama.

Agama Islam menganjurkan umatnya untuk mempererat silaturahmi dan menjaga hubungan baik kepada umat manusia, sesuai visi kerasulan Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk mensyiarkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Sebagai makhluk sosial, kita memerlukan orang lain dalam menjalani kehidupan. Sulit rasanya jika persoalan dan beban kehidupan ditanggung sendiri. Oleh karenanya, bersilaturahmi, berinteraksi, berkomunikasi, dan menjalin hubungan baik dengan sesama menjadi sebuah keharusan.

Mungkin setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menjalin silaturahmi dan menjaga hubungan baik kepada sesama, baik dengan keluarga, sahabat atau kerabatnya. Misalnya: dengan cara berkunjung langsung untuk menemui atau hanya lewat telepon dan whatsapp saja. Tentu cara-cara itu boleh dilakukan.

Kemudian muncul persoalan, jika silaturahmi dilakukan hanya saat butuh dan ketika ada keperluan belaka. Tidak sedikit dari kita menyambung silaturahmi atau menghubungi orang lain di saat ada perlunya saja. Jika tidak mempunyai keperluan atau kepentingan, berkabar lewat pesan singkat saja tidak, apalagi bertatap muka.

Beberapa contoh misalnya, saat pemilihan anggota legislatif atau pemilihan umum lainnya. Pada masa kampanye banyak sekali orang-orang yang mendadak menjadi ramah dan tidak sungkan mengunjungi masyarakat kecil. Mereka seolah sudah kenal dekat dengan masyarakat dan siap menjadi solusi persoalan yang dialami masyarakat. Padahal, yang bersangkutan baru sekali datang dan bukan dari daerah di mana masyarakat tinggal.

Contoh lain misalkan, sering kali pengurus organisasi khususnya organisasi kemahasiswaan menghubungi senior untuk bertemu dengan dalih silaturahmi saat akan mengadakan acara atau kegiatan saja. Sebelumnya, pengurus organisasi jarang atau tidak pernah sama sekali menghubungi seniornya sekedar untuk menanyakan kabar atau menginformasikan program, apalagi sampai berkunjung ke rumahnya dalam rangka silaturahmi.

Mungkin banyak contoh dan kasus lain yang menceritakan seseorang melakukan silaturahmi dan menjaga hubungan baik kepada sesama karena ada keperluan dan kepentingan yang melatarbelakanginya, baik keperluan pribadi maupun keperluan lainnya.

Mestinya, silaturahmi dan menjaga hubungan baik terhadap sesama dilakukan dengan tulus dan tanpa mengharapkan sesuatu. Bahwa dengan banyak bersilaturahmi dan menjaga hubungan baik kepada sesama akan berdampak positif untuk kita, tentu itu merupakan bonus yang patut disyukuri.

Oleh sebab itu, harusnya jiwa gemar silaturahmi dan senang berhubungan baik dengan orang lain terpatri kuat dalam diri kita, di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Tidak harus saat sedang mempunyai keperluan saja.

Dalam dua kasus di atas misalkan, jika calon anggota legislatif atau peserta pemilu melakukan silaturahmi atau pendekatan sosial terhadap masyarakat jauh-jauh hari sebelum masa kampanye, mungkin respons masyarakat akan jauh lebih positif dan menerima dibandingkan dengan mereka yang datang hanya pada saat kampanye.

Selain itu, mungkin saja dengan pendekatan natural yang dilakukan jauh-jauh hari, calon anggota legislatif tersebut tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak agar dipilih masyarakat, karena dia sudah cukup memiliki modal sosial yang sudah lama ditanam kepada masyarakat tersebut.

Sama halnya dengan silaturahmi dan menjaga hubungan baik pengurus organisasi terhadap seniornya. Jika silaturahmi itu dilakukan secara alamiah tanpa ada embel-embel apapun dan sudah menjadi budaya dalam organisasi tersebut, yakin rasanya tanpa harus menyodorkan proposal bantuan dalam setiap kegiatan, senior akan ikut berpikir dan berpartisipasi dalam mensukseskan acara organisasi. Baik yang berkaitan dengan bantuan dana maupun yang lainnya.

Jadi, bersilaturahmi dan menjaga hubungan baik dengan sesama harus dilakukan dengan total dan penuh ikhlas. Kapanpun, di manapun, dan kepada siapapun. Bersilaturahmi dan menjaga hubungan baik tidak harus bersyarat, juga tidak harus ada pamrih yang menyertainya.