SUWITO:
Penekun Administrasi, Pengawal Akreditasi,
dan Penggagas Internasionalisasi UIN

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

Nama lengkapnya Suwito bin Suto Dikromo Rakiyo, lahir di Sukolilo Pati Jawa Tengah pada 7 Maret 1956. Pendidikan dasar dan menengahnya diselesaikan di kampung halamannya, Sukolilo dan Kudus. Setamat PGAN 6 Tahun di Kudus (1975), ia melanjutkan studinya di Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lulus sebagai sarjana muda pada 27 Juni 1979. Selanjutnya, Wito, panggilan akrabnya, melanjutkan studi pada program sarjana lengkap (Drs) di jurusan yang sama, dan lulus pada 17 Maret 1983. Lima tahun kemudian, Wito melanjutkan studi Program Magister di Fakultas Pascasarjana IAIN Jakarta dan lulus pada 1990. Pada tahun yang sama, Wito melanjutnya studinya pada Program Doktor dan lulus pada 28 Nopember 1995 dengan disertasi yang kemudian diterbitkan menjadi buku “Konsep Pendidikan Akhlaq Menurut Ibn Miskawaih”.
Karir akademik Wito sebagai dosen tergolong lancar dan melesat. Ditetapkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 1 Desember 1987 dan 14 tahun kemudian, tepatnya 1 September 2001 meraih pangkat akademik sebagai Guru Besar. Sebuah prestasi akademik yang patut ditiru oleh para dosen pada umumnya. Tidak hanya itu, setamat program Doktor, Wito juga langsung “diminta” Prof. Dr. Harun Nasution, direktur Program Pascasarjana (PPs) saat itu, sebagai asistennya.
Dari buku otobiografinya, para pemberi komentar dan kesan terhadap kontribusi Wito di bidang birokrasi, administrasi, dan akademik kampus itu pada umumnya sangat apresiatif, positif, dan konstruktif. Wito itu “orang yang tidak pernah diam” (M. Yunan Yusuf), disiplin dan tekun (Atho Mudzhar), rajin mengelaborasi pasal-pasal regulasi Perguruan Tinggi dan menyulap isian borang akreditasi dengan sangat kreatif (Dede Rosyada), low Profile, sangat dekat dengan siapa saja (A. Thib Raya). Dia adalah man of ideas, man of action, ahli dan jeli dalam seni untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan (the art of possibles) (M. Din Syamsuddin), memainkan peran instrumental dalam membangun UIN dengan ide dan aksi yang out of the box (Azyumardi Azra). Menurut Amin Abdullah, Wito adalah arsitek di balik alih status IAIN menjadi UIN, tidak hanya UIN Jakarta, tetapi juga UIN-UIN yang lain dengan manajemen visioner dan sentuhan kreatifnya. Karena pengalaman mengarsiteki alih status UIN, Wito kerap diminta sebagai konsultan ahli oleh sebagian besar calon UIN di Indonesia.
Salah satu papan nama yang awalnya mungkin “ditertawakan” sebagian orang: “Membaca Dunia, Dibaca Dunia” kini bukan hanya menjadi ikon Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk menulis karya yang mendunia dan layak dibaca dunia. Ikon tersebut sejatinya merupakan salah satu bentuk implementasi dari sebuah ide besar untuk menjadikan UIN sebagai universitas Riset bertaraf internasional. Sejumlah regulasi terkait “internasionalisasi UIN” dibuat oleh Wito dan diberlakukan di kampus SPs.
Selama menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik maupun Wakil Rektor Bidang Pengembangan Kelembagaan di era kepemimpinan Azyumardi Azra, Wito tampaknya tidak pernah lelah berpikir, berkreasi, dan menginspirasi sivitas akademika dengan ide-ide segar dan out of the box, keluar dari kelaziman. Di antara ide itu adalah penyampaian khutbah Jum’at di Masjid al-Jami’ah dengan menggunakan Bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Wito seakan mengajak sivitas akademika untuk menjadikan masjid tidak sekadar tempat shalat berjamaah, tetapi juga sebagai laboratorium praktik berbahasa Arab, Inggris, dan Indonesia, baik bagi dosen maupun mahasiswa, melalui khutbah Jumat.
Ide internasionalisasi UIN tersebut kemudian diimplementasikan melalui penerbitan ijazah UIN dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris. Ijazah dengan tiga Bahasa ini sempat diterbitkan di masa kepemimpinan Rektor Azyumardi Azra. Akan tetapi, karena ada yang protes atau tidak setuju, dan pertimbangan lain, ijazah UIN kemudian diterbitkan dengan bahasa Indonesia saja. Ide internasionalisasi juga diwujudkan dalam bentuk promosi SPs dalam tiga bahasa di sejumlah TV Bandara Soekarno Hatta.
Selama menjadi Wakil Rektor Akademik dan Wadir Sekolah Pascasarjana, banyak sekali gagasan, ide-ide kreatif Wito dimunculkan dan dieksekusi. Yang paling monumental adalah bahwa Wito menjadi konseptor, pelaku sejarah, dan saksi hidup konversi IAIN menjadi UIN Jakarta. Sesuai dengan kata-kata yang sering diucapkan sendiri, Wito itu orangnya “nggombloh”: berani tampil beda, tapi rasional dan futuristik. Hal-hal kecil yang jarang diperhatikan orang lain tetapi bagi Wito penting, pasti “digomblohi”. Sebut saja misalnya pengkodean Mata Kuliah, penyusunan borang Prodi model buku dan bercatatan kaki, hingga pemasangan rambu-rambu lalu lintas di jalanan Ibu Kota dan sekitarnya yang memunculkan nama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ide kreatif yang terakhir ini nyaris “tak terpikirkan” oleh pimpinan lain, bahkan perguruan tinggi lain di Ibu Kota.
Yang cukup monumental adalah bagaimana dengan “tangan dingin dan kreatif”, Sekolah Pascasarjana “disulap” menjadi kampus hijau (green campus) yang sejuk, nyaman, bersih, rapi, inspiratif, dan pintar. Tampaknya tidak berlebihan, jika Wito dinobatkan pelopor gagasan besar untuk menjadikan “smart campus” (kampus pintar), dengan SPs sebagai proyek percontohannya, termasuk gagasan mendisplay sejumlah karya dosen dan mahasiswa. Di kampus SPs, Wito banyak menyalurkan ide-ide kreatifnya yang nyaris takterpikirkan oleh yang lain, seperti menyulap pertamanan yang asri, sejuk, dan membetahkan para mahasiswa, sehingga tidak jarang sebagian mahasiswa masih “betah” di kampus sambil berinternet ria hingga pukul 22:00.
Penataan ruangan SPs, penerbitan Berita UIN, bulletin, papan informasi yang sengaja dijadikan sebagai “sumber informasi dan inspirasi” ternyata banyak memberi kesan tersendiri bagi para lulusannya. Ada satu kalimat inspiratif dan motivatif yang selalu terekam dalam long term memory mahasiswa SPs, yaitu: “Membaca Dunia, Dibaca Dunia”. Kalimat singkat tapi bernas itu adalah ide Wito yang sejatinya bermakna sangat dalam dan luas. Warga kampus ini diharapkan tidak hanya membaca karya-karya berbahasa Indonesia, melainkan juga karya-karya berbahasa asing, dari berbagai jurnal dan referensi terpercaya; lalu karya-karya mahasiswa itu diharapkan layak dibaca masyarakat akademik dunia, diterbitkan di jurnal nasional terakreditasi dan/atau jurnal internasional. Karena itu, salah satu kebijakan SPs di masa Wito dan diteruskan hingga saat ini adalah kewajiban lulusan S2 dan S3 untuk mempublikasikan hasil penelitian tesis dan disertasinya pada jurnal nasional terakreditasi dan/atau jurnal internasional.
Berbagai regulasi –yang awalnya terkesan menyulitkan dan menghambat penyelesaian studi yang digagas Wito dan biasanya diamini Prof Azra— yang diberlakukan di SPs dalam 8 tahun terakhir tidak lepas dari ide-ide kreatif dan futuristik Wito, mulai dari pemberlakuan standar kelulusan dengan pencapaian skor tertentu dari TOAFL dan TOEFL, WIP (Work in Progress), ujian komprehensif model baru, pemasangan CCTV, TV informasi, posko layanan kesehatan dan penyediaan ruang khusus bagi ibu-ibu yang menyusui anaknya, jogging track di depan kampus SPs, aneka papan informasi warna-warni, dan seterusnya merupakan buah karya yang tidak dapat dipisahkan dari sentuhan kreatif Wito, tanpa bermaksud mengurangi atau menafikan kontribusi yang lain.
Secara akademik, sebagai asesor BAN PT, Wito tampaknya menjadi semacam “dukun borang” yang sangat memahami “jeroannya”, sehingga Wito sangat sering menjadi konsultan akreditasi di berbagai perguruan tinggi, terutama di lingkungan UIN dan IAIN di seluruh Indonesia. Berkat sentuhan kreatif dan ketekunan Wito, Program Magister dan Program Doktor SPs mendapat nilai akreditasi A, termasuk nilai A untuk akreditasi institusi UIN dari BAN-PT.
Pengalaman inspiratif dari Pak Wito sungguh sangat kaya. Wito tampaknya bukan tipe “pemikir utopis”, melainkan “pemikir strategis, praktis, aplikatif, dan futuristik”. Ide-ide di bidang administrasi akademik maupun yang lain terkesan sederhana, tetapi konkret dan bermanfaat. Berulang kali ketika dihadirkan sebagai narasumber dalam pendampingan penyusunan dan simulasi borang Prodi di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Wito selalu tampil dengan ide-ide kreatif. Misalnya, pengisian borang itu perlu menggunakan sitasi dalam bentuk catatan kaki, dilengkapi foto-foto kegiatan, dilengkapi daftar pustaka, dicetak dengan format buku dan cover berwarna yang menarik, dan sebagainya*). Sebagai penekun administrasi dan pengawal akreditasi, Wito merupakan “man of concept” (konseptor) sekaligus “man of positive and creative action”.
Akan tetapi, setelah BAN-PT menerapkan kebijakan SAPTO, Wito tidak lagi menganjurkan pembuatan catatan kaki dalam penyusunan dokumen akreditasi melainkan sumber data harus dilengkapi dengan akses secara on-line atau link dan dipastikan sebagai dokumen formal dan sahih”, sehingga pada 18 April 2018 Wito bersama kawan-kawan Pustipanda UIN Jakarta memperoleh Surat Pencatatan Ciptaan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang berlaku selama 50 tahun.
Selain sabar, ulet, dan merupakan teknokrat sejati, kiprah dan kontribusi Wito dalam memajukan UIN menjadi World Class University atau Universitas Riset Bertaraf Internasional sangat signifikan dan banyak ditiru kampus IAIN atau UIN lain. Ide kreatif dan ketekunan prima dalam mengawal akreditasi institusi dan Prodi, termasuk jurnal di lingkungan UIN, Wito tergolong sosok penekun administrasi sekaligus “dukun” akreditasi yang kaya gagasan, inpirasi, motivasi, dan kreasi. Legasi kreatif dan inovatifnya yang tersebar dalam sejumlah regulasi, pedoman, SOP, fitur, pernak-pernik, dan tradisi akademik baru, khususnya peningkatan nilai akreditasi Prodi dan Institusi UIN, layak dijadikan sebagai teladan yang menginspirasi dan memotivasi sivitas akademika UIN untuk berpikir maju: kreatif, inovatif, konstruktif, futuristik, out of the box, dan produktif. Bagi Wito, tiada hari tanpa inovasi menuju internasionalisasi UIN.

Daftar Rujukan

Abdullah, M. Amin, “Prof. Suwito: Gigih, Ulet, Tekun, dan Berhasil Meniti Karir”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Abdul Wahab, Muhbib, “Kaya Inspirasi, Motivasi, dan Kreasi”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Azra, Azyumardi, “Mas Wito: Sekeping Ingatan: Mission Impossible menjadi Beyond Imagination”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Mudzhar, M. Atho’, “Prof. Dr. Suwito yang Disiplin dan Tekun”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Rosyada, Dede, “Prof. Dr. Suwito yang Saya Kenal”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Suwito, Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Suwito, Wawanaca Pribadi, Ciputat, 8 Januari 2020.
Syamsuddin, M. Din, “Man of the Ideas, Man of Action”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.
Yusuf, M. Yunan, “Si Lasak yang Tak Pernah Diam”, dalam Mungkin Segala Mungkin: Otobiografi Suwito, Jakarta: Young Progressive Muslim, 2016.