Diskusi Dosen 2022 Seri 6 : Collaborative Nested Action Research (C-NAR) – Inovasi PPL Untuk Penguatan PPG Prajab

FITK UIN Jakarta mempersembahkan

📚 Diskusi Dosen 2022 Seri 6📚
Collaborative Nested Action Research (C-NAR): Inovasi PPL Untuk Penguatan PPG Prajab

🗓️ Kamis, 23 Juni 2022
⏰ Pukul 13.00-15.00 WIB
🖥️ LIVE on Zoom
https://bit.ly/tautanzoomdisdos6
Meeting ID: 951 9449 3064
Passcode: Fitk2022

🎙️ Pembicara Kunci
Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. (Guru Besar FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta )
🎙️ Narasumber
Prof. Dr. Hj. Sri Sumarni, M.Pd (Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta)
Woro Sri Hastuti, M.Pd (Instruktur PPG Universitas Negeri Yogyakarta)
🎙️ Pembahas
Dr. Bahrissalim, MA. (Dosen Pendidikan Agama Islam FITK UIN Jakarta)
🎙️ Moderator :
Ridholloh, M.Pd.I. (Dosen Pendidikan Agama Islam FITK UIN Jakarta

🪪 Gratis e-sertifikat
📢 Terbuka untuk Umum


LIVE STREAMING YOUTUBE

Home Experiment: Inovasi Pembelajaran Sains Pasca-Pandemi Covid-19

Gedung FITK, BERITA FITK Online – Pembelajaran sains mengalami tantangan pada masa pandemi COVID-19. Pasalnya, salah satu metode pembelajaran yang seyogianya dilakukan di labotarium otomatis tidak bisa dilakukan karena pembelajaran dilakukan secara jarak jauh. Untuk itu, beberapa dosen atau guru menggunakan metode home experiment sebagai bentuk inovasi yang dilakukan untuk mengatasi keterbatasan tersebut.

Untuk melihat bagaimana bentuk pelaksanaan home experiment, dan bagaimana pilihan alternatif baiknya inovasi pembelajaran dalam bidang sains pasca pandemi COVID-19, Dr. Khalilah, M.Pd sebagai Ketua Tim Diskusi Dosen 2022 menyampaikan dalam laporannya bahwa perlu mengangkat tema “Home Experiments: Inovasi Pembelajaran Sains dalam Suasana (Pasca-) Pandemi COVID-19”.  Diskusi ini menghadirkan Prof. Dr. Andi Suhandi, M.Si. guru besar UPI Bandung sebagai pembicara kunci, Munasprianto Ramli, M.A., Ph.D. Dosen Prodi Pendidikan Kimia,FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai Narasumber, dan Dwi Nanto, M.Si., Ph.D. Dosen Prodi Pendidikan Fisika, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai pembahas. Diskusi ini dipandu oleh Nanda Saridewi, M, Si.

Dalam acara Diskusi Dosen bulanan seri kelima ini, Dr. Sururin, M.Ag. sebagai Dekan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sambutannya menuturkan bahwa sebagai fakultas pendidikan, FITK perlu melakukan berbagai inovasi di bidang pendidikan agar bisa memberikan pelayanan terbaik untuk mahasiswa. Pada kesempatan ini, tema yang diangkat terkait dengan inovasi di bidang sains, bidang yang menjadi salah satu rumpun ilmu di FITK UIN Syarif Hidayatullah.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari pembicara kunci, yaitu Prof.  Dr. Andi Suhandi, M.Si. bahwa pembelajaran sains idealnya melibatkan tiga aspek, yaitu sesi instruksi (instruction session), sesi laboratorium (laboratory session) dan sesi tindak lanjut (follow up session). Tiga hal ini mesti ada untuk mencapat hasil pembelajaran (learning outcome), yaitu berupa konsep saintifik, pemahaman yang utuh, keterampilan proses sains, literasi sains, keterampilan 4C (critical thinking, creative thinking, communicating, and collaborating), keterampilan memecahkan persoalan, dan keterampilan lain serta sikap.

Selama pandemi, pembelajaran sains mengalami perubahan karena diberlakukannya pembelajaran jarak jauh. Sesi instruksi dan sesi tindak lanjut dilakukan bisa diganti dengan tayangan video, demonstrasi, atau simulasi yang dilakukan melalui bantuan teknologi. Sementara itu, sesi laboratorium yang tampaknya sulit dilakukan karena aktivitas di laboratorium dialihkan ke rumah menjadi home experiment.

Selama praktikum di laboratorium, guru aktif dan intensif mengawasi aktivitas siswa di kelas sehingga keselamatan siswa dan alat akan mudah diawasi. Sementara itu, dalam home experiment, pengawasan didelegasikan kepada orang tua. Masalah yang timbul adalah tidak semua orang tua familiar dengan alat atau eksperimen yang akan dilakukan. Dengan demikian, home experiment mesti dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal di antaranya, inovasi dalam pengembangan interaksi; inovasi dalam penyediaan alat dan bahan; inovasi dalam proses; inovasi dalam LKPD (experiment guideline); dan inovasi dalam pegawasan.

Senada dengan yang dituturkan oleh pembicara kunci, narasumber Disdos Sesi Kelima,  Munasprianto Ramli, Ph.D. menyatakan bahwa karena pandemi, pendidikan sains tidak berjalan secara optimal. Dalam pembelajaran sains, siswa akan mempelajari sains manakala melakukan aktivitas sains. Ini mirip dengan cara bekerja seorang koki. Seorang koki akan mempelajari resep yang baru saat dia langsung mempraktikannya. Oleh karena itu, dalam situasi pandemi, home experiment bisa menjadi salah satu alternatif pembelajaran dengan melibatkan guru, siswa dan orang tua. Guru memberikan panduan secara detail; orang tua bisa membantu mendokumentasikan dan memonitor eksperimen yang dilakukan oleh siswa di rumah.

Dalam pelaksanaan home experiment ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu keamanan selama percobaan dilakukan serta kemudahaan dalam mendapatkan alat dan bahan. Selain itu, eksperimen yang dilakukan diusahakan sejalan dengan kurikulum yang digunakan di sekolah.

Menanggapi paparan sebelumnya, Dwi Nanto, Ph.D. menyampaikan bahwa salah satu tantangan dalam home experiment adalah eksplanasi atau penjelasan mengenai eksperimen yang dilakukan siswa. Saat melakukan eksperimen, penjelasan dari guru tidak boleh gegabah dalam melakukan penjelasan atas fenomena yang muncul saat melakukan eksperimen. Salah satu contoh yang perlu dikritisi adalah kemunculan video eksperimen yang ada di kanal Youtube yang diberi judul “Hot vs Cold Experiment”. Dalam video tersebut terlihat bahwa penjelasan dalam eksperimen tersebut terlalu sederhana. Oleh karena itu memang baiknya, saat melakukan eksperimen, siswa dibekali buku aktivitas (activity book). Meskipun memang saat ini, buku tersebut umumnya berbahasa Inggris sehingga perlu ada buku saduran berbahasa Indonesia. Pun, salah satu situs yang bisa direkomendasikan untuk pembelajaran di rumah, yaitu PhET, labotarium virtual yang dikelola oleh Universitas Colorado. Menariknya situs ini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Sebagai sebuah inovasi, home experiment perlu diperbaharui, dievaluasi, dan dikembangkan agar kendala-kendala yang terjadi dalam pembelajaran sains pasca-pandemi COVID-19 bisa teratasi. (Kh/Hs)


Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi

Berita FITK Online – Diskusi Dosen 2022 kembali digelar oleh FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diskusi yang rutin digelar satu bulan sekali ini kini mengangkat tema “Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi” dengan menghadirkan pembicara kunci, Prof. Arono, M.Pd., Guru Besar Universitas Bengkulu. Narasumber utama, Dr. Elvi Susanti, M.Pd., Dosen PBSI FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pembahas Dr. Lulu’il Maknun, M.Pd. Dosen PGMI FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Diskusi ini diawali dengan sambutan dari Dekan FITK, Dr. Sururin, M.Ag. Ia menyatakan bahwa Bahasa Indonesia adalah mata kuliah penciri nasional. Sebagai sebuah perguruan tinggi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bertanggung jawab yang untuk mengembangkan bahasa Indonesia ke arah yang lebih positif, yaitu dengan melestarikan bahasa Indonesia terutama sebagai bahasa pengetahuan, kebudayaan, dan bahasa peradaban. Harapannya, perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban akan menjadi lebih baik melalui bahasa Indonesia. Dengan demikian, bahasa tidak sekadar alat komunikasi, namun menjadi medium peradaban dunia. Bahasa Indonesia pun perlu dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan agar pembelajaran bahasa Indonesia bisa dilakukan sesuai dengan kaidah tata bahasa yang baik dan benar.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari pembicara kunci, Prof. Arono, M.Pd. yang menuturkan inovasi pembelajaran bahasa Indonesia dalam bentuk penelitian. Hakikatnya, manakala seorang guru mengajar, sebetulnya dia sudah melakukan penelitian, hanya saja belum dipublikasikan, untuk pengembangan diri, kita bisa melakuakn penelitian sambil mengajar baik itu dilakukan secara mandiri atau institusi. Penelitian ini akan bermanfaat untuk prodi baik untuk akreditasi maupun untuk pengembangan dan evaluasi pembelajaran. Berbagai topik bisa dikembangaka misalnya metode pembelajaran yang kini dikembangkan, pemanfaatan blended learning yang menggabungkan pembelajaran tatap muka (face-to-face learning) dan pembelajaran daring (online learning) sehingga bisa menghasilkan pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis digital dan menyeangkan. Selain itu, penelitian pembelajaran bahasa berkaitan dengan sikap afeksi, pencapaian, dan pendidikan karakter. Dari rangkaian penelitian, kita bisa juga mengembangkan peta jalan penelitian pembelajaran bahasa Indonesia yang saya susun, yaitu pembelajaran bahasa dan Sastra Indonesia yang  mutakhir dan menyenangkan di tingkat nasional dan internasional berbasis digital.

Pemaparan kedua disampaikan oleh Dr. Elvi Susanti, M.Pd. Ia memulai pemaparan dengan mengkaji arti inovasi sebagai ide atau teknik baru. Menurut pendapat Thompson dan Eveland mengatakan bahwa inovasi sering dikaitkan dengan teknologi karena jarang kita temui inovasi tanpa melibatkan teknologi. Inovasi pun bisa dilakukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan salah satunya dengan tujuan memperbaiki keadaan menjadi lebih baik serta mendorong pengetahuan dan wawasan. Adapun salah satu bentuk inovasi yang dilakukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah pengembangan aplikasi Teroka Bahasa Indonesia, sebuah aplikasi Smart Apps yang bisa digunakan oleh mahasiswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi.

Pelbagai inovasi dilakukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia terutama pada masa pandemi. Ini yang dipapatkan oleh Dr. Lu’luil Maknun, M.Pd. yang menyusun Modul Penulisan Artikel Jurnal bagi mahasiswa PGMI. Inovasi ini dilakukan mengingat bahwa penulisan artikel menjadi ajang latihan bagi mahasiswa untuk menulis karya ilmiah yang lebih luas, yaitu skripsi. Penulisan karya ini pun disusun untuk memandu mahasiswa dalam menyusun artikel sesuai dengan rancangan (template) jurnal ilmiah sehingga mahasiswa bisa mempelajari langkah demi langkah penulisan artikel.

Diskusi Dosen FITK seri 4 tahun 2022 semakin menarik selain terlihat banyak peserta yang hadir melebihi 200an, suasana sepanjang diskusi dari awal hingga akhir berlangsung dengan hangat, seru dan dipenuhi dengan untaian pantun yang saling bersambut dari semua narasumber, mc, moderator bahkan dari ketua tim dikdos FITK Dr. Khalilah, M.Pd juga mengakhiri diskusi dengan pantun “Tak mau miskin tak ingin kaya, Hidup sederhana jadi kebiasaan, Cukup demikian acara dikdos FITK, Semoga dapat menambah wawasan kita. (khl)

Diskusi Dosen Seri 3 : Merancang Ulang Pendidikan Guru Indonesia untuk Generasi Emas

Gedung FITK, BERITA FITK Online – Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar acara Diskusi Dosen 2022 secara virtual, Senin (14/03). Diskusi Dosen berlangsung semakin hangat dengan mengangkat topik “Merancang Ulang Pendidikan Guru Indonesia untuk Generasi Emas” Tinjauan Kritis terhadap Revisi UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Ketua Tim Disdos FITK Dr. Khalilah, M.Pd dalam laporannya menyampaikan informasi bahwa Revisi RUU Sisdiknas tidak masuk dalam Prolegnas DPR RI tahun 2022 sehingga sangat kecil kemungkinan akan dibahas di tahun ini apalagi tahun 2023 sudah masuk tahapan pemilu dan RUU Sisdiknas termasuk RUU yang berat untuk dibahas, namun demikian para akademisi perlu untuk mengkaji dan memberikan masukan strategis untuk Revisi RUU Sisdiknas mengingat akan ada banyak regulasi yang akan berubah karena harus menyesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan masa depan yang begitu kompleks. Untuk itu dalam seri 3 ini menghadirkan pembicara kunci, Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., narasumber Dr. Abdul Rozak M.Si. dan pembahas Prof. Dr. Armai Arief, M.Ag. Kegiatan yang dihadiri 80an peserta dari lingkungan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan institusi lain, seperti IAIN Pontianak, Kalbar dan dihadiri Dekan FITK, Dr. Sururin, M.Ag. dan jajaran dekanat.|

Dalam sambutannya, Dr. Sururin, M, Ag. menyampaikan bahwa esensi dari undang-undang pendidikan guru di Indonesia untuk kemajuan bangsa. Sebagai lembaga pendidikan yang diamanahi untuk menghasilkan guru dan dosen, perlu adanya pembahasan serius mengenai sistem pendidikan sehingga mampu meningkatkan mutu dan lulusannya sehingga menghasilkan generasi emas.

Acara berlanjut dengan pemaparan, Prof. Dr. Abuddin Nata, M.A. sebagai pembicara kunci ia menyampaikan bahwa peran guru sangat besar dalam dunia pendididkan. Seorang guru yang berhasil adalah guru yang bisa menumbuhkan jiwa pembelajar pada peserta didiknya. Oleh karena itu, peran guru sangat penting dan dibandingkan kurikulum, ruang belajar, media ataupun metode. Pendidikan akan tetap berjalan asal ada guru.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tantangaan dunia kerja, profesionalisme, dan lain sebagainya membuat tantangan yang dihadapi guru semakin meningkat. Guru harus mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional secara efektif dan efisien dalam suasana belajar yang menyenangkan (joyful learning), menumbuhkan pemikiran kreatif dan kritis (mindful learning), dan memberi makna terhadap apa yang dipelajari (meaningful learning). Guru harus mampu memanfaatkan berbagai teori modern tentang pembelajaran dengan berbagai perspektifnya. Guru pun harus mewariskan sifat-sifat Tuhan dan Nabi Muhammad SAW serta menyandang gelar ulama, al-Muaddib, al-Rasikhuna fi al ilmi, ahli al-dzikr.

Dr. Abdul Rozak M.Si, sebagai narasumber dalam diskusi dosen seri 3 mengurai problematika dunia Pendidikan. Setidaknya ada 8 catatan problematika Pendidikan, yakni filosofi Pendidikan yang belum membumi; belum adanya roadmap atau blue print pendidikan Indonesia; inkonsistensi implementasi kebijakan pendidikan; anggaran pendidikan yang belum proporsional dan efisien; masih banyaknya kesenjangan dunia Pendidikan dengan dunia kerja; masih adanya angka putus sekolah dan tidak tamat pendidikan; rata-rata tamat Pendidikan secara nasional di Indonesia masih di tingkat SD/MI; APK dan APM dari SMA/SMK/MA/MAK ke perguruan tinggi, dan belum tuntasnya wajib belajar 9 tahun untuk semua warga negara Indonesia.

Problematika dunia pendidikan memerlukan sebuah regulasi dan sistem untuk bisa menyelesaikannya serta menjawab tantangan dunia saat ini. Ironisnya dengan adanya rancangan perubahan UU Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 masih menyisakan banyak pertanyaan, seperti hilangnya frasa ke-LPTK-an dan kewarganegaraan. Selain itu, profesi guru yang bersifat terbuka yang memungkinkan seorang guru bisa berasal berbagai latar belakang profesi. Sementara itu, tidak semua orang memiliki jiwa seorang guru (ruh al-mudarris).

Sementara itu, Prof. Armai Arief melihat bahwa pendidikan guru Indonesia mesti dibenahi agar bisa sejalan dengan kemajuan zaman. Oleh karena itu pendidikan seyogianya mengarahkan pembelajaran dengan mengendepankan pola berpikir kritis, kreatif dan inovatif, terampil berkomunikasi, kolaboratif, karakter, berorientasi pada masa depan, dan literasi teknologgi. Ketujuh aspek ini memungkinkan pendidikan terhadap guru Indonesia menjadi terbuka pada kemajuan teknologi.

Setelah pemaparan dari pembahas, acara dilanjukan dengan sesi tanya jawab. Para peserta yang hadir terlihat antusias dengan mengemukakan pertanyaan, tanggapan, dan klarifikasi. Acara ini pun diakhiri dengan harapan dapat memberikan masukan sebagai bahan pertimbangan kepada para pemangku kebijakan agar pendidikan guru di Indonesia menjadi lebih baik dengan landasan ketentuan peraturan perundang-undangan yang adil dan tepat. (Khalilah)