BERITA FITK Online – Pandemi COVID-19 yang merundung dunia sekira dua tahun terakhir ini memberikan efek yang signifikan, terutama di dunia pendidikan tinggi. Dosen dituntut untuk berdaptasi dengan teknologi sehingga pembelajaran jarak jauh bisa terlaksana secara optimal. Meskipun demikian, tidak dapat dimungkiri, pembelajaran jarak jauh ini menyisakan perbagai kendala, misalnya keterbatasan kuota, kendala jaringan yang tidak stabil, pemadaman listrik, pembelajaran yang monoton menuntut dosen melakukan inovasi dalam media pembelajaran.

Persoalan-persoalan itulah menjadi topik yang diangkat dalam Seminar Nasional PBSI seri kesatu yang bertajuk “Mobile Learning dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi” yang dilaksanakan Prodi PBSI FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu, 19 Januari 2022 WIB. Seminar ini menyoal pembelajaran di perguruan tinggi yang kini beranjak dari paradigma pembelajaran yang konvensional ke arah mobile learning, yaitu salah satu jenis pembelajaran kolaboratif berbasis aplikasi yang memanfaatkan perangkat mobile, seperti ponsel atau gawai lainnya sehingga ini bisa diakses kapan pun dan di mana pun.
Sebagai bentuk inovasi, narasumber seminar ini, yaitu Dr. Elvi Susanti, M.Pd. dan Didah Nurhamidah mengembangkan sebuah aplikasi mobile learning yang bernama Teroka Bahasa Indonesia. Ini merupakan hasil penelitian yang dilaksanakan kedua narasumber pada tahun 2021. Kemunculan aplikasi ini menurut Dr. Elvi Susanti, M.Pd. dipicu oleh kejenuhan mahasiswa dalam melaksanakan pembelajaran secara online dan berbagai kendala yang dialami mahasiswa selama pembelajaran jarak jauh. Berdasarkan hasil pengujian pada 143 mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, nilai rata-rata persentase keefektifan aplikasi Teroka Bahasa Indonesia adalah sebesar 94,8%. Artinya, aplikasi ini memiliki efektivitas yang tinggi dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia.

Pengembangan aplikasi ini menurut narasumber kedua, Didah Nurhamidah, M.Pd. merupakan keniscayaan. Di era revolusi industri 4.0, penguasaan teknologi menjadi keharusan dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Didah Nurhamidah, M.Pd. mengatakan bahwa, “Teknologi tidak akan menggantikan pendidik, tapi pendidik yang tidak menguasai teknologi akan tergantikan.” Dari ungkapan tersebut, seorang pengajar senantiasa mempelajari hal yang baru, dalam hal ini media pembelajaran baru yang berbasis teknologi
Selanjutnya, Didah Nurhamidah, M.Pd. menguraikan bahwa aplikasi Teroka Bahasa Indonesia ini merupakan aplikasi yang dirancang dengan menggunakan Smart Apps Creator. Ini merupakan multimedia creator yang memiliki banyak fitur dan menggabungkan berbagai media dalam satu aplikasi, seperti video, audio, materi pembelajaran, evaluasi, dan animasi. Menariknya, penggunaan Smart Apps Center ini tidak membutuhkan pemrograman yang rumit sehingga dapat dioperasikan oleh pengajar yang tidak memiliki latar belakang IT. Selain itu, Smart Apps Creator memiliki keunggulan, yaitu hasil aplikasi yang dihasilkan melekat pada citra pengembangnya.

Bersambung dengan pemaparan narasumber sebelumnya, Dr. Yunus Abidin, dosen Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan bahwa kemajuan teknologi saat ini memiliki implikasi pada perubahan paradigma pendidikan. Revolusi industri 4.0. ditambah kondisi pandemi COVID-19, membuat kita terbiasa dengan pembelajaran jarak jauh. Jika pandemi berakhir, apakah kita akan kembali pada pembelajaran yang konvensional? Tentu pembelajaran akan bergerak maju sesuai dengan kemajuan teknologi. Oleh karena itu, pengembangan aplikasi yang dilakukan Dr. Elvi Susanti, M.Pd. dan Didah Nurhamidah, M.Pd. adalah sebuah upaya yang luar biasa, tandas Kaprodi Magister PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru.
Dr. Yunus Abidin pun memaparkan bahwa di era metaverse muncul kebiasaan baru. Contohnya, seorang siswa bangun tidur kemudian duduk di depan komputer dan mengaktifkan avatarnya. Kemudian, ia akan masuk ke kelas virtual bertemu dengan avatar gurunya. Dalam kemajuan teknologi seperti itu, apakah etiket sosial, norma akan sama seperti pada dunia nyata? Faktanya, kini banyak orang sangat dipengaruhi oleh teknologi sehingga mereka teraleniasi atau terasing dari kehidupan sosial dan bahkan mengabaikan norma sosial.

Untuk menjawab pembelajaran bahasa di era metaverse, perlu adanya sinergi dengan semua pihak sehingga perkembangan teknologi tidak menggerus nilai-nilai karakter, nilai budaya, kearifan lokal, kekayaan sastra, tradisi lisan yang mana semua itu disampaikan bisa melalui pembelajaran bahasa Indonesia. Selain itu, diperlukan pula keterampilan repertoar yang andal dalam pemrosesan intrapersonal dan interpersonal, mengamati, berbicara, menganalisis, dan mengevaluasi pesan. Dengan begitu, pembelajaran bahasa menghasilkan pemikiran kritis, imajinatif, memiliki nilai karakter, serta mengandung pengetahuan dan wawasan yang luas.