Tangerang Selatan, BERITA ONLINE FITK-Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menyelenggarakan konferensi internasional pendidikan di Masyarakat Muslim atau yang dikenal dengan ICEMS (International Conference on Education In Muslim Society) yang keenam. Konferensi ini diselenggarakan secara virtual pada tanggal 18-19 November 2020.

Tema yang diusung tahun ini adalah “Emerging Trends in Technology for Education in Uncertain World.” (Tren Teknologi dalam Pendidikan di Dunia yang Tidak Pasti).  Tema tersebut sengaja diambil karena saat ini manusia sedang menghadapi keadaan yang disebut dengan VUCA (Volatiliy, Complexity, Uncertainty and Ambigiuty) di mana kondisi ini digambarkan sebagai kondisi yang bergejolak, tidak pasti, rumit, tidak jelas. Dunia kerja dan industri berubah sangat cepat yang dimotori oleh perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi. Kemajuan teknologi komputerasi, artifisial, intelegensi, robotik yang disebut juga dengan era industry revolusi 4,0 ini sangat berpengaruh terhadap perubahan lingkungan, perubahan manusia yang akan datang. Perubahan di mana manusia harus belajar dengan cepat, dengan era di mana masa depan tidak dapat diprediksi lagi,  di mana pilihan atas berbagai keadaan semakin banyak dan perubahan pola pikirpun berubah.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan Islam saat ini berperan aktif mempersiapkan generasi muda  dari berbagai aspek dari kesiapan kognitif, mental hingga spiritual  menghadapi zaman seperti sekarang Perkembangan di dunia nyata ini jauh lebih kompleks dari apa yang dipelajari di kelas, sehingga diperlukan transformasi mendidik dan kurikulum yang diarahkan sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.

Dalam sesi pembicara kunci dan pembicara utama, para pembicara menyumbangkan beberapa pokok pikiran sebagai berikut:

1. Dunia saat ini sedang mengalami perubahan besar, perubahan yang akan terus berlangsung. Perubahan ini juga berpengaruh besar di dunia pendidikan.
2. Perubahan yang terjadi sangat mengejutkan banyak orang, karena kecepatannya. Banyak orang bisa menerima perubahan, tetapi tidak nyaman dengan perubahan yang begitu cepat. Akibatnya, banyak orang yang gagap menghadapi perubahan dan memilih untuk tidak berubah.
3. Sayangnya banyak hal ini terjadi di dunia pendidikan. Guru dan dosen, serta lembaga pendidikannya sulit beradaptasi dengan perubahan yang sangat cepat, sehingga memilih untuk tidak berubah. Akibatnya jarak dengan siswa dan mahasiswa milenial semakin jauh.
4. Lembaga pendidikan harus menerima perubahan itu dengan mengubah cara pandang terhadap peserta didiknya. Siswa dan mahasiswa tidak bisa dipandang sebagai objek atau customer, tetapi perlu dipandang sebagai client. orang yang harus dilayani dan didengar kepentingannya.
5. Perubahan juga menghendaki pemahaman akan pendidikan kreativitas. guru dan dosen harus memahami pentingnya kreativitas dalam pendidikan. Kemampuan berpikir kreatif perlu ditanamkan kepada siswa dan mahasiswa. Oleh karena itu, guru dan dosen harus mampu berpikir kreatif.
6. Pemahaman agama yang terbuka juga penting untuk menumbuhkan kreativitas dalam pendidikan. Agama tidak hanya dipahami sebagai aturan dan ritual. Tetapi juga nilai-nilai positif yang dapat dijumpai pada berbagai disiplin ilmu dan keterampilan.
7. Pendidikan masa depan tidak bisa dilepaskan dari teknologi informasi dan perubahan budaya yang berlangsung dengan cepat. Oleh karena itu, para pendidik harus senantiasa mengembangkan kompetensi diri sesuai dengan kebutuhan masa depan.

Sampai jumpa pada ICEMS ketujuh pada tahun 2021.