Himpunan Mahasiswa Program Studi Tadris Fisika berjibaku tetap produktif dalam belajar meski dikala pandemi COVID-19 ini. Salah satu bukti konkret mahasiswa kerap kali dikaitkan dengan budaya “demonstrasi”, ini merupakan hipotesis yang mendekati kata “benar”. Namun kali ini berbeda, mahasiswa Tadris Fisika memodifikasi makna demonstrasi dengan menciptakan inovasi-inovasi yang menunjang progres pendidikan Indonesia kedepan. Dalam rangka Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) dengan ada nya seminar web Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (PKTI) Sesi 1 tingkat Nasional yang diprakarsai oleh Wakil Ketua HMPS Tadris Fisika, Muhamad Syahril Sidiq bahwa “usaha kecil apabila diniatkan dengan sungguh-sungguh maka akan ada hasilnya” dengan penuh harapan bahwa pendidikan kedepan akan semakin baik.

Dalam pengantar nya Taufiq Al-Farizi menyampaikan bahwa “Salah satu tips skripsi selesai tepat waktu adalah meluruskan niat dan menguatkan tekad kita dari awal memulainya”. Patut kita sadari sebagai mahasiswa bahwa jika ada awal maka ada akhir, dan proses menuju akhir itulah yang harus kita usahakan secara maksimal. Perlu usaha dan semangat lebih setelah tugas akhir (skripsi) selesai, maka tantangan kedepan dalam hidup bermasyarakat akan lebih berat. Skripsi itu antara idealisme akademis dan realita. Sceptisme mahasiswa terhadap skripsi menimbulkan makna yang bermuara pada hati bahwa “skripsi itu menyulitkan”. Kita kaji lebih jauh lagi, Ai Nurlaela mengungkap bahwa “dalam Al-Qur’an salah satu tanda bahwa seseorang yang berakal adalah yang senantiasa mengingat Allah, berfikir walau dalam keadaan sulit apapun”.

Skripsi bukanlah akhir yang sesungguhnya, setelah kita menyelesaikan salah satu kewajiban kita sebagai peserta didik dan calon pendidik maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya kepada masyarakat. Dalam presentasi Erina Hertanti mengatakan bahwa “kerangka berpikir merupakan acuan utama bagi mahasiswa untuk melanjutkan ke tahap yang berikutnya. Kerangka berpikir merupakan faktor penentu dalam sebuah penelitian yang lebih baik, untuk itu kita harus memahami betul sebagai peneliti bagaimana membuat kerangka berpikir yang baik”. Meningkatkan budaya literasi dan gemar membaca harusnya dilakukan oleh para mahasiswa, agar tugas akhir yang diciptakan mampu membawa perubahan pendidikan kedepan.

Seminar web nasional yang dihadiri oleh sejumlah kampus di Indonesia ini menghadirkan harapan yang besar untuk menyelesaikan tugas akhir yang baik dan cepat. Dalam presentasi nya Kinkin Suartini menjelaskan bahwa “Penelitian itu mengandung cara ilmiah yang rasional, empiris, sistematis”. Cara ilmiah harus mampu dipandang sebagai sesuatu yang masuk akal, dilakukan dengan kelima indra kita, harus dilakukan secara bertahap agar mampu mewujudkan penelitian yang baik dan berkualitas.

Dengan usaha kecil ini HMPS Tadris Fisika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berharap penuh, dapat membuka gerbang logika para mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akhirnya dengan baik dan cepat. Kerap kali mahasiswa akhir menunda tugas akhirnya untuk mencari beberapa tambahan uang saku jajan, tapi pilihan yang tepat adalah segera menyelesaikan tugas akhir dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Penulis : Muhamad Syahril Sidiq – Wakil Ketua HMPS Tadris Fisika