Diskusi Dosen Seri 5 2023: Integrasi Sains dalam Pembelajaran Agama Islam di Sekolah
Diskusi Dosen Seri 5 2023: Integrasi Sains dalam Pembelajaran Agama Islam di Sekolah

BERITA FITK Online- Dalam masa mutakhir ini, pembelajaran agama Islam mengalami tantangan terutama dari bidang sains. Pertanyaan yang muncul sudahkah pengajaran agama Islam terintegrasi dengan sains?

Untuk menjawabnya, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Rabu, 12 Juli 2023 menyelenggarakan kegiatan Diskusi Dosen Seri Kelima dengan tema “Strategi Integrasi Sains pada Pembelajaran Agama Islam di Sekolah dalam Melahirkan Kembali Generasi Islam Cinta Ilmu Pengetahuan”.  Kegiata ini menghadirkan Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. sebagai pembicara kunci, Dr. Iin Kandedes, M.A., sebagai narasumber, dan Ir. Agus Sulaiman Djamil, M.Sc., sebagai pembahas. Kegiatan diskusi ini dipandu oleh  Bobi Erno Rusadi, M.Pd.I.

Sebagai acara yang rutin, tema kali ini istimewa. Dalam sambutannya, Dr. Yanti Herlanti, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Akademik menyambut dan menyokong keberlangsungan kegiatan Diskusi Dosen 2023.  Dalam samburannya Yanti mengatakan bahwa “Gagasan pengintegrasian sains dan pendidikan agama Islam adalah hal luar biasa. Gagasan ini telah menjadi pergerakan khas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia.”

Ihwal pengintegrasian antara pendidikan agama Islam dan sains sebetulnya termaktub dalam Al-Quran. Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. guru besar FITK, sekaligus cendekiawan Islam Indonesia menyampaikan bahwa Al-Quran adalah kitab yang mendorong pengkajian ilmiah, namun pada kenyataannya, agama dan sains belum sepenuhnya sejalan. Persoalannya adalah state of mind terkait hubungan antara keduanya; kompetensi guru agama yang cenderung terbatas pada ilmu-ilmu agama; sistem penyelenggaran pendidikan yang kurang kondusif; serta adanya kekhawatiran kultural terkait sains.

Adapun solusi yang ditawarkan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022-2027 ini adalah rasionalisasi ajaran agama menggunakan argumen sains; Islamisasi sains untuk meneguhkan nilai-nilai keislaman; dialog untuk mengkomunikasikan pandangan Islam dan sains terkait berbagai isu kehidupan; serta integrasi agama dan sains yang diawali dengan pendalaman filsafat.

Sejalan dengan pandangan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., narasumber dalam kegiatan ini Dr. Iin Kandedes, M.A. meneguhkan pandangannya bahwa Islam dan sains tidak bisa dipisahkan karena keduanya bersumber dari Allah SWT. Hal tersebut ditandai dengan tidak kurang dari 1000 ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sains. Untuk melahirkan generasi Islam yang mencintai ilmu pengetahuan bisa diawali dengan mengungkap sejarah keemasan Islam dalam bidang sains. Langkah selanjutanya untuk pengintegrasian Islam dan sains dalam pembelajaran adalah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam pengintegrasian ilmu; memperluas batas materi kajian Islam; menghindari dikhotomi ilmu; menumbuhkan pribadi yang menggunakan akal dan pikirannya untuk memahami fenomena alam; menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang sains; serta mengembangkan kurikulum pendidikan di lembaga pendidikan.

Senada dengan pembicara sebelumnya, Ir. Agus Sulaiman Djamil, M.Sc. menyampaikan bahwa semua kebenaran yang dibuktikan oleh sains adalah untuk meningkatkan iman dan tauhid kepada Allah Swt sehingga tidak perlu ada pertentangan antara sains dan agama. Agus pun menegaskan bahwa jumlah ayat-ayat Alquran yang terkait sains jauh lebih banyak dibandingkan ayat-ayat terkait hukum fikih.

Segala yang terbentang di alam semesta adalah ayat yang akan menampakkan kebesaran dan sifat-sifat Allah. Selain sebagai peneguh tauhid dan sumber mukjizat, ayat-ayat Alquran adalah petunjuk bagi seluruh manusia (hudan li-nnas). Adapun strategi integrasi sains dalam pembelajaran agama, yaitu dengan menggunakan prinsip totalitas dengan memadukan antara indera, akal, qalbu, dan wahyu serta menggunakan semua media kauniyah. “Manusia perlu belajar dari cara Allah mengajar manusia” pungkasnya.

Sesi tanya jawab bergulir dengan meriah. Tak kurang lima orang dari peserta aktif mengajukan pertanyaan yang kritis terkait tegangan antara sains dan agama Islam. Sampai acara usai, 136 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti acara sampai akhir. (Erta Mahyudin)