PGMI UIN Jakarta Gelar Studium Generale tentang Pendidikan Berkelanjutan dan Jajaki Riset Kolaboratif Internasional bersama University of Leeds
PGMI UIN Jakarta Gelar Studium Generale tentang Pendidikan Berkelanjutan dan Jajaki Riset Kolaboratif Internasional bersama University of Leeds
Gedung PPG, BERITA FITK Online—Jakarta, 28 Oktober 2026 — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan studium generale bertema “Educating for a Sustainable Future: The Role of Primary Teachers in Education for Sustainable Development” pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 09.00–12.00 WIB di Aula Lantai 2 Gedung PPG UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Syafiq Mat Noor, akademisi dari University of Leeds, United Kingdom, sebagai narasumber. Pada sesi siang, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama dosen PGMI untuk menjajaki peluang riset kolaboratif internasional.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Research Fellowship yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk mendukung penguatan jejaring akademik dan kolaborasi penelitian internasional.

Memperkuat Pemahaman Perubahan Iklim dalam Pendidikan Dasar
Dalam pemaparannya, Dr. Syafiq Mat Noor menyoroti pentingnya pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD) dalam mempersiapkan calon guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Guru tidak hanya berperan dalam menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik memahami persoalan lingkungan secara ilmiah, kritis, dan kontekstual.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah pemahaman tentang perubahan iklim. Dalam pembahasan materi, teridentifikasi bahwa sebagian mahasiswa masih cenderung menyamakan perubahan iklim dengan perubahan cuaca sehari-hari. Hal ini menunjukkan pentingnya memperkuat pemahaman konseptual calon guru mengenai perbedaan antara cuaca dan iklim, penyebab perubahan iklim, serta dampaknya terhadap kehidupan manusia dan lingkungan.
Cuaca merujuk pada kondisi atmosfer dalam waktu relatif singkat, sedangkan iklim menggambarkan pola dan kecenderungan kondisi cuaca dalam jangka panjang. Perbedaan ini penting dipahami agar pembelajaran perubahan iklim tidak berhenti pada pengamatan fenomena cuaca, tetapi juga mengarahkan peserta didik untuk memahami proses dan faktor yang menyebabkan perubahan sistem iklim Bumi.
Paparan ini juga membahas hubungan antara emisi karbon dioksida (CO₂), pemanasan global, dan berbagai dampak perubahan iklim. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan lebih banyak panas tertahan dalam sistem bumi, sehingga meningkatkan suhu rata-rata global. Dampaknya antara lain mencakup pencairan es daratan, kenaikan permukaan laut, serta meningkatnya risiko banjir pesisir, termasuk banjir rob yang menjadi persoalan di wilayah pesisir Jakarta.
Melalui pembahasan tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa fenomena perubahan iklim saling berkaitan dalam suatu sistem. Pemanasan global bukan sekadar kenaikan suhu, melainkan bagian dari perubahan yang dapat memengaruhi ekosistem, kehidupan sosial, ekonomi, serta keberlanjutan wilayah tempat manusia tinggal.

Menghubungkan Isu Sawit, Emisi Karbon, dan Aktivitas Manusia
Contoh lain yang dibahas adalah hubungan antara kelapa sawit dan emisi CO₂. Pembahasan ini menjadi kesempatan untuk memperluas cara pandang mahasiswa dalam memahami hubungan antara aktivitas manusia, sistem produksi, dan perubahan iklim.
Pemahaman tentang hubungan antara sawit dan emisi karbon tidak cukup jika hanya berfokus pada pohonnya saja. Tanaman menyerap CO₂ melalui fotosintesis, tetapi keseluruhan rantai produksi kelapa sawit juga perlu diperhatikan. Pembukaan lahan, perubahan penggunaan lahan, pengolahan hasil perkebunan, penggunaan energi dalam industri, serta transportasi bahan baku dan produk dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca. Besarnya emisi bergantung pada praktik pengelolaan dan proses yang berlangsung.
Perspektif ini mendorong calon guru untuk mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya menanyakan apakah suatu tanaman menyerap atau menghasilkan karbon, tetapi juga mengkaji keseluruhan sistem yang terkait. Dengan demikian, peserta didik dapat belajar mengidentifikasi hubungan sebab-akibat, mengevaluasi informasi, dan memahami persoalan lingkungan dari berbagai sudut pandang.
Pembelajaran berbasis persoalan nyata seperti ini juga membuka ruang untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan alam, aktivitas ekonomi, teknologi, dan tanggung jawab sosial. Pendekatan tersebut relevan dengan tujuan ESD, yaitu membangun kemampuan peserta didik untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab bagi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan sosial.
Menjajaki Riset Kolaboratif Internasional
Setelah pelaksanaan studium generale, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama dosen PGMI FITK UIN Jakarta pada pukul 13.00–16.00 WIB. Diskusi ini diarahkan pada penjajakan peluang penelitian kolaboratif antara akademisi University of Leeds dan dosen PGMI, khususnya dalam bidang pendidikan guru, pendidikan perubahan iklim, dan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan.
Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif, pengalaman, dan kepakaran akademik dalam mengidentifikasi persoalan pendidikan yang berpotensi dikembangkan menjadi agenda penelitian bersama. Salah satu peluang kajian adalah bagaimana calon guru dan guru sekolah dasar memahami perubahan iklim, bagaimana konsep-konsep ilmiah diajarkan secara kontekstual, serta bagaimana pendekatan pembelajaran dapat membantu mengatasi miskonsepsi dan memperkuat literasi lingkungan peserta didik.
Penjajakan ini juga membuka peluang pengembangan penelitian mengenai praktik pembelajaran IPAS, pengembangan kompetensi guru, dan integrasi isu keberlanjutan dalam pendidikan dasar. Tindak lanjutnya dapat mencakup penentuan fokus penelitian, penyusunan rancangan metodologi, pembagian peran peneliti, serta pengembangan publikasi ilmiah bersama.
Melalui kolaborasi internasional, Prodi PGMI berharap dapat memperluas perspektif penelitian, memperkuat kapasitas akademik, dan mengembangkan kajian yang relevan dengan kebutuhan pendidikan di Indonesia sekaligus berkontribusi pada diskursus pendidikan global.

Mendorong Calon Guru Menjadi Pendidik untuk Masa Depan Berkelanjutan
Penyelenggaraan studium generale dan diskusi penjajakan riset ini menegaskan pentingnya mempersiapkan calon guru MI/SD yang mampu menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan persoalan nyata. Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan memerlukan guru yang tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis bukti, mendorong pemikiran kritis, dan menumbuhkan tanggung jawab terhadap lingkungan serta kehidupan sosial.
Bagi PGMI FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan calon guru sekaligus memperluas jejaring kerja sama akademik internasional. Melalui penguatan pembelajaran dan pengembangan riset kolaboratif, diharapkan lahir inisiatif yang mendukung pendidikan dasar yang lebih kontekstual, kritis, dan berorientasi pada masa depan berkelanjutan.