Dekan Sururin di Mata Pegawainya
Namanya cukup singkat, Sururin. Saya biasa memanggilnya bu dekan, kadang cukup dengan panggilan ibu. Seperti kebanyakan seoarang ibu, bu Sururin sangat perhatian dan mengayomi bawahannya.
Sebenarnya, sebelum menjadi dekan, saya belum terlalu mengenalnya, mungkin karena ia di LPM sebagai ketua dan saya sebagai pegawai di fakultas. Meskipun, sesekali saya berjumpa di LPM saat mengurus akreditasi prodi magister. Itu hanya sepintas.
Maret tahun 2019, tepatnya tanggal 11 Maret, bu Sururin dilantik menjadi dekan dengan 11 dekan lainnya oleh Rektor UIN Jakarta periode 2019-2023, Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, M.A. Ia diberi tugas berat oleh rektor untuk menahkodai fakultas terbesar di UIN Jakarta, yaitu FITK.
Baginya, menahkodai fakultas yang jumlah mahasiswa, dosen, dan pegawainya paling banyak di UIN Jakarta tentu bukan perkara mudah. Ia butuh support system yang kuat dan kemampuan manajerial yang memadai sehingga diharapkan mampu memimpin fakultas yang cukup dinamis itu.
Dengan bekal pengalaman organisasi dan sejumlah posisi penting yang pernah ia duduki di kampus mau pun di organisasi sosial keagamaan, tanpa butuh waktu lama, bu Sururin mampu memulai khidmahnya di FITK dengan baik dan bisa dibilang berhasil.
Dari magister, kemudian saya ditugaskan di Sub Bagian Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni (AKA) sebagai pengadministrasi. Mungkin karena saya dilihat bisa menulis dan fakultas menganggap penting publikasi dan pemberitaan, akhirnya saya ditugaskan sebagai pengelola website khususnya dalam penerbitan berita kegiatan fakultas, prodi, dan organisasi mahasiswa intra kampus (OMIK).
Sejak saat itu, saya mulai sering berinteraksi dengan bu Sururin. Di suatu waktu, saya dan sejumlah pegawai diundang ke ruang dekan untuk membahas soal pengelolaan website dan media sosial. Menurutnya, era digital seperti saat ini, publikasi informasi menjadi penting karena bisa menjadi media pertanggungjawaban moral-etik kepada masyarakat tentang penyelenggaraan pendidikan di FITK.
Itu lah awal saya ditugaskan sebagai pengelola website, khususnya dalam hal pemberitaan. Mulanya tentu saya belum terbiasa menulis narasi berita/ jurnalistik. Hal yang baru untuk saya. Jadi, awal-awal harus banyak baca sejumlah portal online untuk memahami karakteristik penulisan berita yang benar.
Sebelum ditugaskan menjadi pengelola website dan penulis berita, saya cukup sering diminta admin website fakultas (Bang Furqan, red) untuk menulis opini populer dan tulisan lepas yang kemudian dipublikasikan di website fakultas di kolom opini.
Saat mulai sering berinteraksi, saya perhatikan dari kejauhan, bu Sururin memiliki karakteristik tersendiri dalam bekerja dan memimpin. Ia bekerja secara taktis dan sistematis. Ia memimpin dengan cara pendekatan hati dan mengayomi. Meski begitu, ia tetap terlihat lugas dan tegas, sehingga bawahnya hormat kepadanya. Saya menduga itu berkat pengalaman organisasinya yang matang.
Dalam pandangan saya, bu Sururin salah seorang pejabat perempuan di UIN Jakarta masa kini yang memiliki penyampaian verbal yang baik di forum. Pilihan diksinya sederhana namun tepat, kalimat yang disampaikan jelas, dan pesan yang diutarakan mudah dipahami pendengarnya. Tidak membulat meskipun terkadang panjang-lebar.
Yang terpenting dari bu Sururin menurut saya adalah ia sosok pemimpin yang berani 'pasang badan' untuk bawahannya. Dia berani bertanggung jawab atas segala kerja bawahannya, bahkan jika diperlukan untuk menghadap pimpinan, ia tak ragu untuk menghadap. Ia bukan tipe pemimpin yang mudah menyalahkan bawahan dan cuci tangan atas kesalahan bawahannya.
Hari ini, Jumat 10 Maret 2023, bu Sururin mengadakan tasyakuran dalam rangka mengakhiri masa khidmahnya di FITK sebagai dekan. Seluruh kolega dan bawahannya diundang dalam acara tersebut.
Nampak jelas dari wajah bu Sururin raut kesedihan, bukan karena ia tidak menjabat dekan lagi, namun karena ia akan berpisah dengan orang-orang yang selama ini loyal dan banyak membantu tugas-tugasnya sebagai dekan.
Akhirnya, sebagai pribadi, saya ucapkan banyak terima kasih atas pengabdian bu Sururin di FITK dan banyak memberikan insigth positif kepada pengembangan potensi saya sebagai pegawai. Tak lupa, saya juga meminta maaf jika dalam interaksi dan hubungan antara pimpinan dan bawahan terdapat kekurangan dan kekhilafan.
Saya yakin, meskipun bu Sururin tidak menjabat lagi sebagai Dekan FITK, masih banyak tempat yang akan disediakan baginya sebagai lahan pengabdian sebelum purnabaktinya sebagai abdi negara.
Tabik, Muslikh Amrullah
