FITK Kembali Selenggarakan Workshop Manajemen Perkuliahan Berbasis E-Learning
Gedung FITK, BERITA FITK Online – Perkembangan teknologi informasi menuntut adanya perubahan dan penyesuaian terhadap penyelenggaraan pendidikan tinggi. Dengan kemudahan yang ditawarkan berbagai aplikasi, media, dan website, maka sistem pendidikan yang mengakomodasi perkembangan teknologi informasi telah menjadi tuntutan masyarakat dewasa ini.
Untuk mengupas persoalan di atas, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta kembali menyelenggarakan Workshop bertajuk “Manajemen Perkuliahan Berbasis E-Learning bagi Dosen Batch 2”. Pada batch 1, FITK menghadirkan dua dosen muda Tadris Fisika, Dzikri Rahmat Romadhon, M.PFis., dan Ahmad Suryadi, M.Pd. Sementara pada batch 2, FITK menghadirkan Prof. Daryono, S.H., M.A., Ph.D., (Kapus Riset dan Inovasi Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh Universitas Terbuka) dan Hasanudin, M.Pd. (Dosen-Tenaga Kependidikan FITK)
Kegiatan tersebut dilangsungkan di teater Profesor Mahmud Yunus lantai 3 fakultas pada Selasa, (25/10/2022).
“E-learning saya kira saat ini dan seterusnya sudah menjadi sesuatu yang penting, menjadi sesuatu yang harus kita lakukan,” ucap Dr. Abdul Muin, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum saat memberikan sambutannya.
“Kita sebetulnya telah memiliki platform pembelajaran yang terintegrasi semua yang kita sebut AIS. Tapi AIS tidak kuat saat harus menampung beban semua dokumen, akhirnya pembelajaran menjadi kurang efektif. Oleh karena itu kreativitas bapak-ibu mengembangkan pembelajaran e-learning menjadi beda-beda. Perbedaan itu akhirnya perlu ada satu sistem pengelolaan yang bisa digunakan bersama,” pungkas Muin.
Sementara itu, dalam penyampaian materinya, Daryono menjelaskan fleksibilitas penggunaan e-learning.
“Online learning didorong oleh adanya akses fleksibilitas. Fleksibel itu mahasiswa harus bisa mengakses dari mana pun dan kapan pun dan fleksibel dengan learning desainnya,” terang Kapus Riset dan Inovasi Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh Universitas Terbuka itu.
“Proses pembelajaran dengan perkembangan teknologi informasi saat ini diharapkan tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu. Proses pembelajaran secara asynchronous bisa difasilitasi dengan berbagai media yang membantu dosen dalam mengelola perkuliahan, memantau pengerjaan tugas, dan juga menyediakan sarana diskusi bagi mahasiswa dan dosen,” sambungnya.
Ia menambahkan, penggunaan e-learning harus memperhatikan beberapa faktor. Faktor yang paling dominan adalah wilayah dan keuangan mahasiswa. Ia mencontohkan wilayah selatan Sukabumi dan selatan Lebak Banten. Menurutnya, di wilayah tersebut masih ada yang jaringan 2G sehingga mahasiswa tidak bisa diberikan tugas dengan mengirimkan video terlalu banyak.
“Di daerah Sukabumi Selatan dan Lebak Selatan, jadi dengan 2G band witch sekitar 10-15 MB. Jadi kecil sekali, kalau seperti ini kita jangan menggunakan learning desain yang banyak videonya. Kalau videonya banyak mahasiswanya kasihan. Setelah faktor wilayah juga ada faktor keuangan mahasiswa. Jangan sampai mahasiswa merasa berat dengan pembelian kuota internetnya,” terangnya.
Sementara itu, pemateri yang kedua, Hasanudin menjelaskan bahwa output dari workshop ini adalah menghasilkan produk bagi dosen dalam bentuk website e-learning.
“Dosen yang ikut workshop ini diharapkan menghasilkan produk dalam bentuk website e-learning berbasis moodle dan diupayakan yang free. Kemudian juga saya sarankan kepada dosen yang belum punya web pribadi untuk segra punya, karena itu penting menurut saya. Murah kok setahun cukup satu juta,” terang mahasiswa Program Doktoral Pascasarjana UIN Jakarta itu.
“Nah, salah satu keunggulan moodle ini bisa diakses lewat hp dan cukup user friendly bagi dosen Tarbiyah termasuk dosen senior. Sebenarnya moodle ini mirip dengan google classroom tapi lebih lengkap. Moodle cukup membantu dosen dalam mengorekasi soal-soal pilihan ganda, pencocokan soal. Moodle ini otomatis bisa membantu ngorekasi dosen. Tapi untuk soal pilihan ganda ya, untuk soal uraian atau esai tidak bisa,” sambungnya.
Kang Hasan sapaan akrabnya melanjutkan penjelasannya. Menurutnya, selain kelebihan yang telah disampaikan, moodle juga memiliki beberapa kelemahan yang harus diketahui.
“Kalau (moodle) gratis, terbatas hanya 50 mahasiswa yang bisa akses bersamaan, tetapi kalau berbayar bisa unlimited. Dan moodle ini butuh server jika institusi mau ada jaringan moodle. Jadi, UIN jakarta dalam hal ini Pustipanda harus menyiapkan server khusus moodle,” pungkas pria kelahiran Indramayu, Jawa Barat itu. (MusAm)
