FITK UIN Jakarta Lepas Alumni dan Yudisium Wisuda ke-139: Menyiapkan Generasi Religius, Smart, dan Berdampak di Era Digital Society
FITK UIN Jakarta Lepas Alumni dan Yudisium Wisuda ke-139: Menyiapkan Generasi Religius, Smart, dan Berdampak di Era Digital Society

Auditorium Harun Nasution, BERITA FITK Online—Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan pendidikan melalui penyelenggaraan Pelepasan Alumni dan Yudisium Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor ke-139 pada Senin (2/2/2026) di Auditorium Harun Nasution. Mengusung tema “Digital Society: Generasi Religius, Smart, dan Berdampak pada Masyarakat”, kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap transformasi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Prosesi yudisium dihadiri oleh Dekan FITK UIN Jakarta Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Yanti Herlanti, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Dr. Yudhi Munadi, S.Ag., M.Ag., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni Salamah Agung, M.A., Ph.D., Kabag TU Imam Thobroni, S.E. JFT. Pengembang Teknologi Pembelajaran Saprudin, S.Pd. para ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan, serta ratusan peserta yudisium dari berbagai jenjang pendidikan.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan refleksi atas tanggung jawab institusi pendidikan dalam merespons perubahan zaman. Era digital menuntut transformasi cara berpikir, cara belajar, dan cara mengajar. FITK menempatkan momen yudisium sebagai penguatan komitmen lulusan untuk hadir sebagai agen perubahan yang mampu memadukan teknologi, nilai religius, dan kebermanfaatan sosial.
Pendidikan Digital dan Tanggung Jawab Moral Lulusan
Dalam sambutannya, Dekan FITK UIN Jakarta menekankan bahwa digitalisasi telah mengubah lanskap pendidikan global secara fundamental. Akses informasi yang terbuka luas membuat proses belajar tidak lagi terbatas ruang kelas. Namun di tengah kemudahan teknologi, nilai etika dan tanggung jawab moral tetap menjadi fondasi utama.
“Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Nilai utamanya terletak pada bagaimana kita menggunakannya secara bijak. Kita berharap para alumni tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi kreator yang menghadirkan solusi dan karya yang berdampak bagi masyarakat,” ujar Prof. Siti Nurul Azkiyah.
Menurutnya, generasi pendidik masa depan harus mampu mengintegrasikan literasi digital, etika bermedia, dan kemampuan berpikir kritis dalam proses pembelajaran. Lulusan FITK diharapkan tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menanamkan karakter religius dan tanggung jawab sosial kepada peserta didik.
“Digital society membutuhkan pendidik yang religius, cerdas, dan adaptif. Alumni FITK adalah wajah institusi di masyarakat. Mereka adalah agen transformasi yang akan mewarnai dunia pendidikan dan peradaban,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan tinggi memiliki mandat besar dalam menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045. Oleh karena itu, lulusan tidak boleh berhenti belajar setelah menyelesaikan studi formal.
“Teruslah belajar sepanjang hayat. Dunia bergerak cepat, dan hanya mereka yang adaptif yang akan tetap relevan,” pesannya.
Guru di Era Digital: Fasilitator Kolaborasi dan Inovasi
Narasumber utama kegiatan, Danang Hidayatullah, menyoroti perubahan paradigma peran guru di tengah revolusi digital. Ia menegaskan bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan tanggung jawab peradaban.
“Guru bukan sekadar profesi, tetapi peran peradaban. Di tangan guru, masa depan disiapkan. Guru harus mampu bergerak, menggerakkan, dan berdampak,” ujarnya.
Menurut Danang, model pembelajaran satu arah tidak lagi relevan. Guru masa kini berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan pengetahuan yang dimiliki siswa dengan sumber belajar yang lebih luas.
“Guru memfasilitasi pengetahuan yang ada pada siswa untuk melahirkan kebaruan. Kata kunci pendidikan hari ini adalah kolaborasi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa tantangan pendidikan bukan melarang teknologi, melainkan menyelaraskan teknologi dengan tujuan pembelajaran.
“Tugas kita bukan menolak digitalisasi, tetapi mengarahkannya. Guru harus berani berubah, berinovasi, dan terus membaca agar mampu menciptakan pembelajaran yang relevan,” tambahnya.
Danang juga menyoroti pentingnya empat kompetensi utama guru, pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian sebagai fondasi guru profesional di era digital.
Pencapaian Akademik dan Kebanggaan Institusi
Pada yudisium ke-139 ini, FITK meluluskan ratusan mahasiswa dari berbagai program studi jenjang sarjana, magister, dan doktor. Salah satu pencapaian penting adalah kelulusan empat doktor Pendidikan Agama Islam, yang menandai penguatan kapasitas akademik dan riset fakultas.
Selain prosesi penetapan kelulusan, acara juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada lulusan terbaik tingkat program studi dan fakultas. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi akademik, ketepatan waktu studi, dan kualitas karya ilmiah mahasiswa.
Perwakilan lulusan dalam pesan dan kesan menyampaikan rasa syukur atas perjalanan akademik yang penuh dinamika. Mereka menegaskan komitmen untuk mengamalkan ilmu demi kemanfaatan masyarakat serta menjaga nama baik almamater.
Alumni sebagai Agen Transformasi Sosial
Dekan FITK mengingatkan bahwa alumni bukan sekadar lulusan, melainkan representasi institusi di tengah masyarakat. Mereka membawa nilai, budaya akademik, dan identitas kampus dalam setiap peran profesional yang dijalani.
“Bawalah nama baik almamater. Jadilah inspirasi bagi generasi berikutnya. Pendidikan bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang kebermanfaatan,” pesannya.
Dalam konteks digital society, alumni diharapkan mampu menjadi jembatan antara teknologi dan nilai kemanusiaan. Mereka dituntut untuk menghadirkan inovasi pendidikan yang inklusif, adil, dan berorientasi pada kemajuan bersama.
Kampus sebagai Ekosistem Inovasi Pendidikan
Tema digital society yang diangkat mencerminkan arah strategis FITK dalam membangun ekosistem pendidikan berbasis inovasi. Integrasi teknologi pembelajaran, penguatan literasi digital, serta pembinaan karakter religius menjadi fondasi pengembangan kurikulum fakultas.
FITK menempatkan diri sebagai ruang lahirnya gagasan dan praktik pendidikan masa depan — pendidikan yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga berakar kuat pada nilai etika, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.
Transformasi ini sejalan dengan visi nasional dalam menyiapkan generasi unggul yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas budaya dan religius.
Suara Lulusan: Ilmu untuk Kemanfaatan
Dalam sesi pesan dan kesan, perwakilan peserta yudisium, Azka Qisthiyah, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan akademik yang penuh perjuangan. Ia menegaskan bahwa kelulusan bukan akhir, melainkan awal tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu bagi masyarakat.
“Kelulusan hari ini bukan sekadar tentang gelar yang kita dapatkan, tetapi tentang bagaimana ilmu yang kita miliki bisa menjadi manfaat bagi orang lain. Semoga kita semua mampu menjadi generasi religius, cerdas, dan berdampak, sebagaimana tema yudisium hari ini,” ujar Azka.
Azka juga mengingatkan bahwa perjalanan studi yang dilalui para lulusan adalah hasil dari dukungan banyak pihak, mulai dari orang tua, dosen, hingga rekan seperjuangan.
“Apa yang kita raih hari ini tidak terjadi sendirinya. Ada doa orang tua, bimbingan para dosen, dan kebersamaan teman-teman yang menjadi kekuatan kita. Semoga pencapaian ini menjadi awal kontribusi nyata untuk pendidikan dan masyarakat,” tambahnya. Pernyataan tersebut disambut haru oleh peserta yudisium, menegaskan semangat kolektif lulusan FITK untuk membawa ilmu sebagai jalan pengabdian sosial.
Acara ditutup dengan pelepasan jaket almamater, pemberian penghargaan lulusan terbaik, serta doa bersama. Suasana haru dan bangga mewarnai prosesi pelepasan, menandai berakhirnya perjalanan akademik sekaligus dimulainya babak baru kehidupan para alumni.
Yudisium ke-139 menjadi simbol kesiapan lulusan FITK UIN Jakarta untuk terjun ke masyarakat sebagai pendidik, pemikir, dan profesional yang membawa semangat religius, kecerdasan, serta kebermanfaatan di tengah tantangan era digital. (AM)






