Sururin: Guru Profesional Harus Menginspirasi
“Saya baru pulang dari Pesantren Al-Muhajirin, Purwakarta, Pak Kiyainya punya satu prinsip yaitu “keberkahan”. Makanya, tadi saya sampaikan ucapan selamat dengan ucapan semoga ilmunya bermanfaat dan memberikan keberkahan. Masya Allah, berkah itu benar-benar tidak bisa dihitung dan dideskripsikan,” terang Sururin.
Pernyataan itu Sururin sampaikan dalam kegiatan Pengukuhan Guru Profesional yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada Minggu, (7/5/2023) bertempat di Wisma Syahida Inn, Ciputat, Tangerang Selatan.
Sururin hadir didapuk menjadi narasumber untuk memberikan motivasi kepada para guru yang telah dikukuhkan Rektor UIN Jakarta sebagai guru profesional.
Menurut Sururin, ia sebagai akademisi memiliki kewajiban untuk mampu menjabarkan devinisi dan indikator keberkahan.
Kemudian, Sururin melanjutkan ceritanya saat di Pesantren Al-Muhajirin, Purwakarta. Menurutnya, ada cerita inspiratif yang bisa menginspirasi banyak orang.
“Di Pesantren itu saya terkesan dengan Pak Kiyai dan tiga puterinya. Saat Pak Kiyai kuliah S2 berbarengan dengan puterinya yang kuliah S1. Menurut saya itu menginspirasi karena ingin terus belajar dan menimba ilmu. Jadi, kita butuh tokoh-tokoh inspiratif. Dan Bapak-ibu dituntut menjadi guru yang inspiratif,” jelas Ibu kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur itu.
“Ketika mampu meberi inspirasi maka Bapak-ibu harus mampu menggali diri, mengembangkan potensi agar mampu meberikan inspirasi walaupun dengan cara sederhana,” terangnya.
Dalam konteks Indonesia Emas 2045, Sururin menjelaskan ada satu kecerdasan yang mesti ditambahkan yaitu kecerdasan sebagai warga Indonesia. Yang kemudian menurutnya dijabarkan oleh Kemendikbudristek dalam profil pelajar pancasila. Harapannya adalah menjadi warga negara membanggakan, hebat, dan berkualitas.
Pada kesempatan yang sama, Sururin diberikan sejumlah buku karya mahasiswa PPG yang berasal dari Provinsi Bangka Belitung, Suryan Masrin, mahasiswa PPG kelas PAI. Sururin kemudian meminta Warek Bidang Akademik untuk mewakili Rektor mengucapkan selamat dan berfoto bersama tamu undangan.

“Bapak-ibu, ini adalah guru inspiratif yang mampu meberikan inspirasi kepada kita semua dengan buku-buku yang ditulisnya. Ia memberikan empat karya bukunya untuk saya. Tidak tahu sudah berapa banyak yang ditulisnya. Terima kasih Pak Suryan Masrin atas bukunya, insyallah saya baca dan insyaallah bermanfaat,” ucap Sururin.
Dalam akhir paparannya, Sururin menekankan mengenai profesi guru sebagai panggilan jiwa. Menurutnya, panggilan jiwa adalah passion yang harus dimiliki guru.
“Indonesia butuh guru profesionl bukan guru abal-abal sehingga guru Indonesia harus kompeten dan harus melalui pendidikan profesi dengan sepenuh hati. Karena ini yang tidak bisa terwakili dan digantikan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” pungkas Ketua Umum Forum Dekan Tarbiyah dan Keguruan (Fordetak) itu. (MusAm)

