WAYANG POTEL SEBAGAI ALAT DAKWAH WARISAN BANGSA
BEDAH BUKU : K.H IBROHIM, WAYANG POTEL SEBAGAI ALAT DAKWAH WARISAN BANGSA
BERITA FITK Online — Ciputat (UIN Jakarta) --- Penulisan buku Wayang Potel ini berawal dari sebuah aktivitas sang penulis (K.H Ibrohim Nawawi, M.Pd) sebagai seorang penyuluh agama islam dan juga seorang mubaligh di Kabupaten Indramayu. Masyarakat indramayu masih suka dan sangat hobi dengan hiburan-hiburan tradisi. kemudian beliau memanfaatkan fenomena ini sebagai alat dakwah yang dipertunjukan untuk masyarakat setempat.

Hal ini disampaikan dalam diskusi bedah buku karyanya yang berjudul Wayang Potel sebagai pengantar diskusi tersebut. Kegiatan ini berlangsung secara daring dan diselengarakan oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Senin (19/1/2026).
Penulis mengatakan, seharusnya tradisi dan budaya di Indonesia jangan hanya dijadikan sebagai hiburan-hiburan masyarakat. Kita bisa memanfaatkannya sebagai metode dakwah yang kreatif sehingga masyarakat mudah menerimanya.
“Sebetulnya yang namanya wayang itu sudah ada sejak zaman para wali songo. Jadi sebetulnya dari zaman wali kearifan lokal seni tradisi ini sudah dijadikan sebagai media atau metode yang disampaikan kepada masyarakat. kemudian yang kedua, saat ini seni tradisi kearifan lokal itu dalam penglihatan saya masih dominan pada aspek hiburan, belum dimanfaatkan secara maksimal untuk pendidikan dan media dakwah. Padahal di dalam sebuah pertunjukan wayang itu terdapat internalisasi nilai religius dan membentuk tingkah laku.” Ujar penulis.
Penulis juga menegaskan, hadirnya wayang-wayang kreasi (Salah satunya Wayang Potel) itu menjadikan alat bagi para mubaligh untuk merevitalisasi seni budaya dan kearifan lokal untuk disampaikan kepada masyarakat. Serta hal ini juga dinilai kreatif dan unik sehingga masyarakat memiliki daya tarik tersendiri terhadap Wayang Potel ini.
“Kami memanfaatkan limbah kertas dari percetakan, kemudian kami bubur dicampur dengan lem, setelah itu kami bentuk wajahnya. Dan untuk sementara ini wayang yang kami ambil adalah wayang purwa (salah satu jenis wayang golek). Mengapa kami namakan Potel? Ketika pertunjukan pertama terjadi peperangan antar si wayang. Karena wayangnya masih basah, maka terpotel dibagian kepalanya. Potel itu terlepas.” Jelas penulis
Kemudian seiring berjalannya waktu kata Potel ini berubah menjadi sebuah singkatan, pot itu potret dan el itu eling jadi potel itu bermakna potret eling. Ketika wayang ini ditampilkan kepada masyarakat, diharapkan ada nuansa baru dan ingat terhadap tuhan. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kasubdit Kepustakaan Islam Kemenag RI Dr. Hj. Nur Rahmawati, M. Si, Wakil Dekan FITK Dr. Yudhi Munadi, M. Ag, dan Sekertaris Program Studi PAI Dr. Ridholloh, M. Pd.I. (red. pai)
