Menagih Guru Berkualitas

OPINI FITK – Guru dipercaya sebagai faktor utama pendidikan berkualitas. Guru berkualitas bisa mengembangkan aneka bakat siswa, pemimpin pembelajaran, menjadi teladan siswa, dan bisa menjadi kepala sekolah yang visioner dan transformatif. Guru berkualitas kunci kualitas sumber daya manusia suatu bangsa.

Masalahnya kita belum bisa menghadirkan guru-guru berkualitas. Tidak ada satu sistem rekrutmen guru yang berlaku bagi sekolah negeri maupun swasta. Seleksi guru ASN saja tidak menjamin kualitas guru, apalagi rekrutmen guru honorer yang dilakukan para kepala sekolah.

Pengawasan
Sebagian besar sekolah dibiarkan merekrut guru non-ASN yang bertentangan dengan UU Guru dan Dosen seperti kompeten, sarjana, dan linieritas keilmuan. Wajar jika kualitas guru-guru ini jauh di bawah standar, termasuk nihil jiwa pendidik.

Misal, bukannya menyayangi dan membimbing murid, guru malah menjadi pelaku kekerasan seksual dan perundungan kepada murid. Guru juga tidak memahami keunikan dan bakat murid yang beragam sehingga pengajaran berorientasi akademik an sich.

Kompetensi dan kinerja guru sangat rendah. Hasil riset Bank Dunia (2015) menunjukkan bahwa tunjangan profesi tidak meningkatkan kinerja guru, hasil PISA (Programme for International Student Assessment) siswa di peringkat bawah, dan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) rata-rata 57 dari nilai 100.

Kondisi ini menunjukkan lemahnya fungsi pengawasan dunia pendidikan. Pertama, tidak ada sistem atau lembaga yang berfungsi mengawasi rekrutmen guru di sekolah negeri dan swasta. Lembaga ini juga bisa menjadikan Dapodik dan Simpatika sebagai instrumen analisis peta guru oleh lembaga ini.

Selama ini, rekrutmen guru didasarkan pada sistem patronase bukan sistem merit yang berbasis kompetensi, kualifikasi, dan komitmen keguruan. Maka wajar jika guru tidak kompeten, berkinerja buruk, dan bahkan melakukan kekerasan terhadap murid. Ini pula sebab pemerintah tidak mau serta-merta mengangkat guru honorer menjadi guru ASN tanpa test.

Kedua, supervisi kepala sekolah atas kinerja pembelajaran guru hanya sebatas formalitas. Data hasil supervisi tidak ditindaklanjuti dengan pelatihan atau pemberian sanksi ringan, sedang, bahkan berat.

Sangat jarang ditemukan guru PNS dipecat karena lalai mengajar atau berkinerja sangat buruk. Banyak guru yang tidak pernah mengikuti pelatihan sehingga tertinggal perkembangan pengetahuan, kebijakan, dan teknologi-informasi baru.

Di banyak sekolah bahkan kepala sekolah tidak melakukan supervisi. CCTV yang dipasang di setiap kelas bukan solusi holistik atas kinerja guru, dan tidak bisa menggantikan fungsi supervisi akademik. Alih-alih menghapus tunjangan profesi guru (TPG) karena kinerja guru rendah, sebaiknya pemerintah menguatkan peran dan sistem pengawasan ini.

Menurut Sally J. Zepeda dan Judith A. Ponticell (2018) dalam buku The Wiley Handbook of Educational Supervision, melalui penguatan refleksi yang mendalam, tujuan supervisi adalah melahirkan perubahan positif di level organisasi sekolah maunpun level ruang kelas.

Pendanaan
Kesejahteraan adalah kunci mendapatkan guru-guru yang berkualitas. Penghasilan yang layak akan mendorong para sarjana terbaik melamar menjadi guru. Kecuali guru PNS dan sebagian sekolah elit, penghasilan guru jauh di bawah upah minimum regional (UMR). Dibandingkan profesi-profesi lainnya, penghasilan guru masih kalah jauh. Arne Duncan menulis, to encourage more top-caliber students to choose teaching, teachers should be paid a lot more.

Saatnya pemerintah menetapkan gaji minimal guru. Dalam UU Nomor 15 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 15, disebutkan bahwa guru mendapatkan gaji pokok, dan tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan.

George Jackson menyatakan, (salary) certainly is one point of dissatisfaction with teachers and although money is not why someone enters the profession, it is an issue. Teachers need to be able to pay their bills and support their families.

Guru ASN dibayar sepenuhnya oleh pemerintah, dan guru non-ASN dibayar sebagian oleh pemerintah, sebagiannya dibayar oleh yayasan atau perusahaan. Sumber dana sekolah swasta berasal dari orangtua yang mampu dan bisnis-bisnis sekolah. Kontribusi pemerintah itu dikecualikan bagi sekolah-sekolah internasional atau elit yang definisinya dirumuskan secara terbuka dan transparan.

Demi menjaga kualitas fasilitas dan sumber belajar di sekolah, orangtua mampu wajib membayar, sedangkan siswa miskin bebas biaya. Jika sekolah negeri hanya mengandalkan dana pemerintah, mereka sulit menghadirkan pembelajaran yang berkualitas dan sulit mengikuti lomba-lomba skala nasional apalagi internasional.

Kesejahteraan guru itu harus diikuti kebijakan transformasi fakultas keguruan dan pendidikan profesi guru (PPG). Misal, seleksi khusus mahasiswa, fasilitas asrama, sekolah laboratorium, dan standar rekrutmen guru. Semua ini sudah ada dalam UU Guru dan Dosen tetapi tidak dilaksanakan.

Kebijakan pembenahan kurikulum, fasilitas, dan siswa, tidak akan berdampak pada mutu pendidikan, jika gurunya tidak berkualitas. Andai ketiga hal ini belum ideal, jika guru berkualitas maka pembelajaran akan efektif dan menyenangkan; sekolah akan melahirkan lulusan berkualitas. Gaji yang layak adalah kunci mendapatkan guru-guru berkualitas. (MusAm)

Penulis: Jejen Musfah, Dosen Kebijakan Pendidikan Magister MPI UIN Jakarta

Prodi Matematika, PGMI, dan PIAUD Gelar Bazar Kewirausahaan Gabungan

Gedung FITK, BERITA FITK Online – Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggaraka Bazar Kewirausahaan gabungan bertajuk “Kami siap menjadi insan mandiri berdaya melalui karya”. Kegiatan yang diikuti mahasiswa dari tiga prodi tersebut dilangsungkan pada Sabtu, (26/11/2022) bertempat di lobi FITK.

Diketahui, mata kuliah kewirausahaan Prodi PGMI diampu oleh Tri Harjawati, M.Si., dan Dr. Takiddin, M.Pd., semester tiga yang terdiri dari empat kelas (ABCD). Sementara, di Prodi  Matematika diampu oleh M. Hafiz, M.Pd., pada semester lima terdiri dari dua kelas. Sementara pada Prodi PIAUD diampu oleh Kinkin Suartini, M.Pd., di semester lima yang terdiri dari dua kelas.

Dalam kegiatan bazar gabungan yang digelar di lobi barat dan timur FITK tersebut dihadirkan tidak kurang dari 30 stand meja yang menawarkan beberapa produk kerajinan tangan, alat tulis kantor, aksesoris, makanan-minuman sehat, dan  produk lainnya.

“Kami selaku pengelola prodi mengapresiasi kepada dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan yang sudah berinovasi dalam strategi pembelajaran project based leraning. Projct dan  kegiatan yang dilakukan mahasiswa seperti ini akan lebih mengembangkan potensi mahasiswa khususnya dalam bidang entepreneur. Semoga kegiatan ini dapat menumbuhkan jiwa entepreneur bagi mahasiswa kami,” tulis Dr. Gelar Dwirahayu, M.Pd., Kaprodi Pendidikan Matematika dalam pesan Whatsappnya.

Sementara itu, Dr. Siti Khadijah, M.A., Kaprodi PIAUD menceritakan awal mula materi kewirausahaan dimasukkan ke dalam kurikulum.

“Bermula dari banyaknya mahasiswa di setiap awal semester mendatangi kami (prodi). Mereka mengatakan tidak bisa melanjutkan (studi) karena kekurangan dana. Kemudian kami berpikir mencoba memperkuat skill kewirausahaan kepada mahasiswa. Kebetulan saat itu kami masukkan ke kurikulum dan sekarang (kewirausahaan) menjadi tagihan pada IKU,” terang Khadijah.

“Sasaran yang mau kami target dengan mata kuliah kewirausahaan ini adalah bagaimana membangun skill mahasiswa yang mampu mandiri berdaya mulai mereka menjadi mahasiswa. Kami pun telah menyampaikan kepada mahasiswa, setelah mendapat mata kuliah ini, kami akan menghadirkan para narasumber yang menjadi pelaku di dunia kewirausahan. Tujuan dari semua itu, kami harap agar mahasiswa mampu mendapatkan penghasilan sendiri dan syukur samapai bisa membanatu orang tuanya,” pungkasnya dalam pesan voicenote.

Selanjutnya, menurut salah satu dosen FITK, Dr. Yayah Nurmaliah, M.A., yang turut hadir meramaikan kegiatan bazar tersebut menyampaikan kegembiraanya atas terselenggaranya bazar gabungan tersebut.

“Saya sengaja dari pagi datang ke sini untuk melihat kegiatan bazar gabungan ini. Saya melihat acaranya sangat meriah, mahasiswa pun saya lihat sangat senang dengan acara bazar ini. Saya lihat ada beberapa produk yang disajikan, makanan dan non makanan, produk media pembelajaran, ada bucket, hasil sablon,” ucap Yayah Nurmaliah.

“Jadi, lewat kegiatan entrepreneurship ini kita ingin menghasilkan mahasiswa yang bukan hanya mumpuni pada aspek akademik tetapi juga skill yang menumbuhkan nilai-nilai kemandirian kewirausahaan mereka juga kita bentuk. Harapannya tentu dukungan yang lebih dalam dan serius dari fakultas terkait sarana penunjang kegiatan tersebut. Satu kata untuk acara ini, kereen!” pungkas Yayah dengan tertawa lepas.

Selain direspons positif oleh Kaprodi dan sejumlah dosen, para mahasiswa pun ikut memberikan komentarnya atas terselenggaranya bazar gabungan tersebut. Berikut kutipan tiga repons mahasiswa berasal dari prodi yang berbeda.

“Alhamdulillah program (bazar) yang saya ikuti ini dapat membangun jiwa entrepreneurship saya dalam membangun jiwa usaha saya agar semangat untuk menjadi seorang usahawan,” ucap Surina Tri Hayati, mahasiswa PGMI semester tiga.

“Saya merasa senang mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini adalah praktik dari mata kuliah kewirausahaan di prodi Matematika. Menurut saya, acara ini sangat penting untuk kita berani berusaha dan membantu kita bersosialisasi,” terang mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika asal Turkmanistan semester lima.

“Yang saya rasakan manfaat kegiatan bazar ini adalah kami sebagai pendidik  tidak hanya bekerja di sekolah saja tetapi juga terbangun jiwa entrepreneurnya seperti usaha sendiri. Jadi kita mampu berdikari. Namun ada catatan dari kami yaitu kurangnya sarana pendukung yang kami butuhkan seperti meja, bangku, maupn tenda dan mungkin kurangnya komunikasi dengan sekuriti,” ujar Nuraida mahasiswa PIAUD semester lima. (MusAm)

 

Guru Hebat di Era Merdeka

OPINI FITK– Perkembangan teknologi informasi yang menjadi ciri era revolusi industri 4.0 dan masyarakat sosial 5.0 menuntut kemampuan semua kalangan profesional terus mengupgrade dirinya dengan berbagai kemampuan.

Termasuk guru, profesi yang bersentuhan langsung dengan pembentukan genarasi hebat yang berkarakter, berilmu pengetahuan luas, dan skill mumpuni yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Sebagai pendidikan profesional, seorang guru tentu harus menunjukkan kemampuannya dan penguasaanya dalam menyampaikan materi secara efektif dan bermakna (meaningfull learning), termasuk kemampuannya dalam mengemas pembelajaran berdasar atas kebutuhan dan perkembangan teknologi yang berkembang.

Berdasarkan riset World Economic Forum (WEF) 2020, terdapat 10 kemampuan utama yang paling dibutuhkan, yaitu bisa memecahkan masalah yang komplek, berpikir kritis, kreatif, adanya kemampuan mengelola manusia, bisa berkoordinasi dengan orang lain, kecerdasan emosional, kemampuan menilai dan mengambil keputusan, berorientasi mengedepankan pelayanan, kemampuan negosiasi, serta fleksibilitas kognitif.

Pembelajaran selama masa Covid-19 dengan pemanfaatan platform pembelajaran digital disinyalir sebagian pihak menyebabkan terjadinya loss learning dalam kegiatan pembelajaran.

Kondisi hilangnya kompetensi pembelajaran peserta didik boleh dibilang lebih disebabkan karena pengguna teknologi digital sebagai tool pembelajaran masih kurang maksimal, sehingga pembelajaran lebih bertumpu pada aspek kompetensi pengetahuan saja, sementara aspek yang lain seperti penguatan karakter kurang terfasilitasi dengan baik.

Padahal, selama pembelajaran (online learning atau offline learning) dilakukan dengan memperhatikan capaian tujuan, interaksi sosial, ada kehadiran guru dan peserta didik, serta penilaian secara utuh perdebatan loss learning tidak mungkin terjadi. Teknologi harus dipahami hanya sebatas tool atau alat yang digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran efektif.

Dalam perspektif pendidikan, guru merupakan komponen terpenting dari semua komponen yang tersedia, kehadirannya sangat dibutuhkan masyarakat, posisinya memiliki peran yang cukup strategis, central, bahkan menjadi penentu terjadinya keberhasilan interaksi edukatif dalam pembelajaran.

Di sekolah, guru merupakan orang pertama yang mencerdaskan manusia, orang yang memberi bekal pengetahuan, pengalaman, dan menanamkan nilai-nilai, budaya, dan agama terhadap anak didik.

Tugas utamanya antara lain membimbing, mengajar, dan melatih anak didik mencapai kedewasaan. Dalam UU Guru dan Dosen disebutkan bahwa ”guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. (UU No. 14 tahun 2005)

Sebagai pekerja profesional, guru dipahami sebagai profesi yang tidak sembarang orang mampu melakukannya, guru memerlukan keterampilan khusus untuk mengajar (teaching skill), pemahaman yang utuh tentang peserta didik ketika melaksanakan pendidikan, serta kepribadian yang cakap dalam pembinaan para peserta didik.

Profesi guru perlu ditumbuhkan atas kesadaran pribadi, minat yang tumbuh untuk menjadi guru tidak boleh didasarkan atas paksaan siapapun. Pilihan profesi guru tidak boleh juga didasarkan atas pemikiran trial and eror, karena pekerjaan mendidik, mengajar bukan kegiatan pemagangan yang bisa dilakukan oleh siapa pun.

Jika pilihannya menjadi guru, maka pilihan profesi guru sudah selayaknya menjadi pilihan utama dan terakhir. Profesi yang menuntut komitmen diri untuk terus belajar, dan berupaya melakukan peningkatan kemampuan secara kontinue dalam berbagai kegiatan pembelajaran.

Menjadi Guru Hebat di Era Merdeka Belajar
Pembelajaran efektif dan bermakna adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar ketercapaian tujuan pembelajaran peserta didik. Capaian pembelajaran sangat bergantung pada seberapa besar keseriusan guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan.

Dalam platform merdeka belajar, guru berperan sebagai: Pertama, sosok pengajar inovatif (innovative teacher) yang mampu mengembangkan perangkat pembelajaran kreatif. Untuk mencapai profil Pancasila diharapkan harus mampu melakukan kreasi dan inovasi pembelajaran secara kontinue. Saat ini tersedia lebih dari 2000 referensi perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka yang dapat diakses para guru.

Kedua, guru sebagai pembelajar yang dalam kesehariannya harus terus belajar. Salah satunya dengan pelatihan mandiri untuk memperoleh materi pelatihan  berkualitas dengan mengaksesnya secara mandiri. Guru juga dapat memperoleh video inspiratif dengan mengembangkan akses ysng tidak terbatas.

Ketiga,  guru sebagai sosok kreatif yang tetus berkarya. Dalam kesehariannya, guru dapat membangun portofolio, bahan ajar, lembar kerja peserta didik, modul, dan perangkat pembelajarannya sebagai  hasil karya yang terpublikasi dan dimanfaatkan para peserta didik.
Itulah makna sebenarnya kurikulum merdeka, terlepas dari apakah sekolah/madrasah menerapkan kebijakan kurikulum 2013 atau kurikulum merdeka (baca: kurikulum protipe) sekalipun semua sangat bergantung pada kreatifitas dan inovasi guru dalam pembelajaran.

Dalam perspektif pendidikan, merdeka belajar dapat bermakna, yaitu Pertama, bagi peserta didik secara merdeka dapat memperoleh kompetensi yang diperlukan melalui berbagai pembelajaran guna menyongsong masa depan yang lebih baik.

Kedua, bagi guru merdeka belajar berarti berupaya melakukan rancangan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran melalui berbagai pendekatan, sehingga tercapai pembelajaran yang optimal dan bermakna bagi peserta didik. Saking penting posisi keduanya, bentuk kebijakan kurikulum yang diterapkan pemerintahpun, semua sangat bergantung pada kesiapan dan kematangan gurunya dalam menjalani kegiatan pembelajaran di kelas.

Guru hebat adalah guru yang mampu menerapkan kegiatan pembelajaran kreatif dalam situasi dan kondisi apapun. Keberadaan guru dirasakan begitu sentral dan dominan, tidak ada titah guru yang dibantah muridnya.

Efektifitas pemberlakuan kurikulum sangat ditentukan oleh kesiapan seorang guru yang secara merdeka mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran bermakna. Sekolah/madrasah dan guru harus dapat menciptakan dokumen kurikulum yang adaptif dengan kebutuhan peserta didik dan mampu mengembangkan bahan ajar yang didesain secara mandiri.

Budaya merdeka dalam mengembangkan bahan ajar berdasarkan kebutuhan kompetensi minimal perlu ditradisikan oleh setiap guru di manapun, karena hanya melalui kemandirian inilah kreatifitas dan inovasi pembelajaran bisa diwujudkan.

Tradisi riset dan budaya baca sebagai tuntutan literasi membaca harus menjadi aktifitas alamiah rutin bagi setiap guru.

Guru kreatif harus terus berusaha beradaptasi menemukenali semua kebutuhan peserta didik, metode pembelajaran merupakan ragam pilihan yang dijadikan opsi dalam setiap kegiatan pembelajaran. Berfikir bebas dalam memilih metode juga menjadi pilihan guru kreatif dalam mengakomodasi tuntutan pembelajaran.

Bagi guru kreatif, berfikir inovatif selalu menjadi kebutuhan, tidak ada aktifitas pembelajaran yang dilakukannya tanpa hal baru yang menyenangkan. Teruslah  melakukan pengembangan diri melalui ragam pembelajaran, fikirkan kebutuhan peserta didik.

Teruslah menjadi menjadi guru hebat, guru yang selalu menginspirasi, guru kreatif yang selalu berfikir untuk sebuah perubahan dan peningkatan kualitas pendidikan.

Penulis:
Fauzan
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kabid Bidang Pendidikan dan Penguatan Karakter IKALUIN, Ketua Himpunan Pengembang Kurikulum DKI Jakarta

Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa PPG Daljab Batch 3 Tahun 2022, LPTK UIN Jakarta Gelar Workshop Pembuatan Video Pembelajaran

BERITA FITK Online– Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan (PPG Daljab) Tahun 2022 Batch 3, Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) UIN Jakarta menyelenggarakan Workshop Pembuatan Video Pembelajaran bagi 490 Mahasiswa PPG. Acara tersebut diselenggarakan secara virtual pada Jumat, (25/11/2022) melalui platform Zoom Cloud Meeting.

Mahasiswa PPG yang mengikuti Workshop Pembuatan Video Pembelajaran tersebut terdiri dari para guru PAI bidang keilmuan PAI, al-Quran al-Hadis, Akidah Akhlak, Fiqh, Bahasa Arab, GKMI, GKRA, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).

Diketahui, pada penyelenggaraan PPG Daljab batch 3 ini, mahasiswa dibiayai dari dua sumber, yaitu LPDP dan APBD. Berikut rinciannya:

PAI bersumber dari dua biaya:
1. LPDP: 90 orang, (DKI: 62, Banten: 18, dan Jawa Barat: 10)
2. APBD Kepulauan Babel berjumlah 120 orang
Total peserta PAI berjumlah 210 orang.

Sementara, untuk peserta madrasah skema biaya bersumber dari LPDP dengan rincian sebagai berikut:
DKI 85, Banten 20, Jawa Barat 104, Jawa Tengah 35, Jawa Timur 15, Lampung 8, Bengkulu 5, dan Jambi 8 orang. Total peserta madrasah berjumlah 280 orang.

Pada kegiatan workshop tersebut, mahasiswa PPG dibekali pengetahuan dasar mengenai proses pembuatan video pembelajaran mulai dari aplikasi yang digunakan, cara sederhana pembuatannya, sampai bagaimana membuat video pembalajaran agar dapat menarik dan mudah dipahami peserta didik.

Dalam sambutannya sebagai Kaprodi, Dr. Zaenul Slam, M.Pd., menyampaikan selamat hari guru nasional. Menurutnya, menjadi guru adalah profesi mulia yang patut disyukuri.

“Bapak-ibu, dalam suasana bahagia ini karena bertepatan dengan hari guru nasional, saya ucapkan selamat hari guru nasional. Bapak-ibu menjadi guru harus merasa bangga dan bersyukur karena guru adalah profesi amat mulia,” ucap Zaenul Slam.

“Bapak-ibu yang berbahagia, kami sangat memahami kegiatan PPG ini cukup padat dan menguras energi Bapak-ibu semua, namun kami harap Bapak-ibu tetap semangat karena ini hampir di ujung perjuangan Bapak-ibu semua. Kami berharap tetap semangat belajar dan tetap solid dengan kawan seperjuangan,” harapnya.

“Bapak-ibu, mohon dipahami ini adalah upaya dan tekad kami agar Bapak-ibu lebih mendalam dalam memahami materi, lebih memeperkuat lagi pengetahuan yang didapat selama dalam proses perkuliahan atau lokakarya dan pendalaman materi lainnya. Berbagai upaya kami lakukan ini adalah upaya agar mendapat hasil yang terbaik untuk Bapak-ibu semua,” terang Zaenul Slam.

Dalam kegiatan Workshop Pembuatan Video Pembelajaran ini, LPTK UIN Jakarta menghadirkan Iwan Permana Suwarna, M.Pd., Ketua Prodi Tadris Fisika untuk menjadi mentor sekaligus narasumber tunggal.

Sebagai informasi, selama ini Iwan sapaan akrab pria kelahiran 1978 itu cukup dikenal luas di civitas academica FITK sebagai salah seorang dosen yang menguasai multimedia, animasi, juga termasuk pembuatan video pembelajaran.

Dalam pemaparan materinya, Iwan menjelaskan, sebenarnya semua orang termasuk guru bisa membuat video pembelajaran, masalahnya tidak semua orang memahami caranya sehingga mereka merasa tidak bisa.

“Bapak-ibu, sebenarnya semua orang termasuk guru bisa membuat animasi, termasuk membuat video pembelajaran. Masalahnya tidak semua orang memahami caranya sehingga mereka merasa tidak bisa. Nah, di workshop kali ini, mari bersama-sama kita belajar untuk lebih memahami cara upload video dengan mengggunakan hp atau laptop, menyiapkan konten video pembelajaran dan editing video,” jelas Iwan.

Iwan melanjutkan, menurutnya, mengunggah video melalui handphone maupun PC perlu memperhatikan syarat sebagai berikut.

“Yang perlu diperhatikan saat akan mengunggah video menggunakan hp ataupun PC yaitu memiliki koneksi internet yang baik, memiliki akun gmail, memiliki konten video yang akan diupload, memiliki hp dan PC yang kompatibel, kemudian pilih icon youtube untuk hp dan buka browser untuk PC,” sambungnya.

Menurutnya, durasi video pembelajaran sebaiknya tidak lebih dari 10 menit dan harus memahami konten pembelajaran yang mau ditampilkan dalam video tersebut. Menurutnya, konten pembelajaran yang dibuat harus beresonansi dengan pebelajar, menyusun bahan ajar, siapkan green screen, hindari membaca naskah, suara jelas, buat slide semenarik mungkin, lakukan latihan dan review, dan tambahkan aksesoris. (MusAm)

237 Calon Wisudawan/wati Sarjana ke-126 FITK Ikuti Yudisium dan Pelepasan

Gedung FITK,  BERITA FITK Online– Rabu, (23/11/2022), bertempat di teater Profesor Mahmud Yunus lantai 3, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menggelar Yudisium dan Pelepasan Calon Wisudawan/wati Sarjana ke-126. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara Wisuda Sarjana ke-126 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang akan diselenggarakan pada Jumat dan Sabtu, 25-26 November 2022 mendatang.

Acara yang diikuti 237 lulusan Strata Satu (S1) dan Strata Dua (S2) itu dihadiri Dekan FITK Dr. Sururin M.Ag., Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Kadir, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Dr. Abdul Muin, M.Pd., sejumlah Kaprodi-Sekprodi, dosen dan tenaga kependidikan FITK.

Acara diawali dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) Lulusan Wisuda ke-126 FITK Nomor: B-90/F.1/HM.03.4/11/2022 oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Kadir, M.Pd.

“Jumlah lulusan sarjana S1 berjumlah 203 orang dan magister (S2) sebanyak 34 orang, total 237 lulusan,” ujar bapak alumni S3 UNJ itu.

“Selamat dan sukses untuk saudara semua yang telah menyelesaikan studi, baik program studi sarjana maupun magister. Semoga ilmunya bermanfaat dan memberikan keberkahan dalam kehidupan saudara,” ucap Sururin saat pembekalannya.

Selanjutnya, Sururin mengajak para lulusan untuk senantiasa bersyukur atas prestasi yang telah diraih dan berharap peserta yudisium melanjutkan studi guna menjawab tantangan di masa depan.

“Kita bersama patut bersyukur siang menjelang sore ini merayakan kelulusan, merayakan ketercapaian saudara mahasiswa FITK. Kita patut bersyukur juga atas karunia kesehatan dan alhamdulillah juga kami dapat melaksanakan yudisium secara offline. Kami juga berharap agar saudara melanjutkan studinya ke jenjang magister maupun doktoral. Saudara bisa lanjut S2 di FITK juga bisa lanjut di luar FITK atau di luar UIN Jakarta,” ujar pakar Psikologi Agama itu.

Selanjutnya, Ibu kelahiran Bojonegoro itu menyampaikan beberapa pesan dalam pembekalannya kepada calon wisudawan/wati wisuda sarjana ke-126.

“Pertama, saudara semua sudah dibekali ilmu yang cukup sebagaimana misi kami yaitu unggul, kompetitif, dan profesional. Saudara semua diharapkan mampu menjadi civitas academica yang unggul dalam berbagai hal. Kami ingin menyampaikan bahwa unggul dalam integrasi keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan. Ketika dalam integrasi keilmuan, saudara semua dibekali dengan keilmuan sesuai dengan bidangnya masing-masing dengan berbagai model pendekatan dan strategi yang diharapkan saudara mampu memiliki kompetensi,” harap Sururin.

Selanjutnya, dalam penjabaran visi FITK yaitu unggul, kompetitif, dan profesional, Sururin menyampaikan alumni FITK haruslah menjadi pribadi unggul, kompetitif, dan profesional.

“Unggul tidak hanya nasional tetapi juga internasional karena visi UIN Jakarta sudah mengarah ke internasional. Bagaimana kita bisa berkompetisi dan berbaur dengan masyarakat untuk membangun sebuah peradaban sebagaimana tema saat ini integrasi ilmu sebagai dasar epistemologis peradaban Islam modern di Indonesia,” sambungnya.

Ketua Umum Forum Dekan Tarbiyah dan Keguruan (Fordetak) itu kemudian menyampaikan syarat membangun peradaban baru yang lebih baik. Ia mengutip pernyataan Profesor Azyumardi Azra.

“Menurut almarhum Profesor Azra, minimal 3 syarat dan tambah satu. Pertama, kita harus mempunyai kemampuan yang bagus dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini kita sedang mempersiapkan diri untuk memasuki Indonesia emas pada tahun 2045. 20 tahunan kedepan saatnya saudara menjadi pemimpin di negeri ini, pemimpin di instansi dan pemimpin di mana pun. Kedua, kemajuan ekonomi. Tanamkan kepada diri kita bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Prinsip kita adalah memberi. Dan terakhir adalah stabilitas politk. Pemerintahan yang adil dan berpihak kepada masyarakat adalah paling penting dan itu yang harus kita perjuangkan,” terang Sururin.

Sebagai penutup, Sururin menyampaikan salam hormat untuk orang tua/wali mahasiswa dan mohon maaf jika tidak bisa memeberikan pelayanan yang memuaskan selama menjadi mahsiswa FITK.

“Salam hormat kami sampaikan untuk Bapak-ibu wali mahasiswa dan terimalah permohonan maaf kami jika selama saudara menempuh studi di FITK kurang mendapatkan pelayanan yang terbaik, sekali lagi mohon maaf. Semoga saudara ikhlas dengan segala pelayanan sangat mungkin belum seperti yang saudara harapkan. Tapi inilah yang sudah semaksimal mungkin kami upayakan untuk memeberikan layanan terbaik kepada saudara semua,” pungkas  Ibu alumni Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur itu.

Usai pembekalan dari Dekan, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi yang disampaikan Kepala Pusat Karier UIN Jakarta, Salamah Agung, M.A., Ph.D.

“Pusat karier hadir membantu teman-teman alumni UIN Jakarta untuk merencanakan dan mempersiapkan karier. Selanjutnya, untuk peningkatan skill dan kompetensi teman-teman alumni. Kemudian, konsultasi dengan pakar tentang karier, bertemu perusahaan untuk wawasan yang lebih luas, membuat CV terbaik, mempersiapkan diri menghadapi wawancara, dan membantu teman-teman mendapatkan karier terbaik sesuai dengan keahlian atau yang sesuai dengan  minat. Karena belum tentu prodi kalian sesuai dengan minatnya,” jelas Ibu kelahiran Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon itu.

Berikutnya, acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada lulusan terbaik yang dibacakan oleh Sub. Koordinator Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Saprudin, S.Pd., Penghargaan kepada lulusan terbaik meliputi  kategori lulusan terbaik Prodi dan lulusan terbaik tingkat fakultas, program Sarjana (S-1) dan Program Magister (S-2).

Wisudawan/wati terbaik tingkat fakultas jenjang S1 diraih oleh Jesyicha Rizky  (11180130000019) Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) IPK 3.95 (Cum Laude), sementara wisudawan terbaik tingkat fakultas jenjang Magister (S2) diraih oleh Yokha Latief R. (2120011000016) dari Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam  (MPAI) IPK 4.00 (Cum Laude). (MusAm)

 

Lagi! Sindy Indah Oktavia Mahasiswa PAI Raih Prestasi Internasional

Gedung FITK, BERITA FITK Online– Prestasi kembali ditorehkan oleh Sindy Indah Oktavia mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, kali ini Sindy berhasil menjadi best speaker dalam gelaran International Youth Exchange and Conference yang diselenggarakan (17/10/2022) di International Youth Centre, Malaysia.

Sindy merupakan utusan resmi delegasi UIN Jakarta (sesuai surat tugas yang diberikan Pihak Kemahasiswaan UIN Jakarta). Sebelumnya, ia menjadi juara 1 pada ajang ASEAN Young Climate Leaders Programme bertema “Green Conversations” yang digelar  ASEAN Foundation dan SAP SE (perusahaan perangkat lunak multinasional) pada 22 Mei-5 Juni 2022 yang lalu. Selain itu, Sindy juga aktif dalam kegiatan sosial, di antaranya ia menjadi volunteer pada relawan mengajar dan dalam kegiatan peace-building humanitarian development young leaders.

International Youth Exchange and Conference merupakan konferensi internasional untuk pemuda membahas konsep SDGs atau global goals dengan panelis dari ahli SDgs Malaysia, yaitu Mr. Marzuki (Head of The IYC) dan Ms. Sarifah Nurizah (CEO ASEAN Youth Network Resources). Sementara, peserta asal Indonesia berasal dari, mahasiswa UIN Jakarta, UI, IPB, ITB, UGM, UIN Malang, Dosen LSPR, Polygot 16 Bahasa dan lain-lain.

Diketahui, paper yang dibawakan oleh anak kedua dari tiga bersaudara ini fokus membahas peluang pemanfaatan pangan lokal dari Sumatera Barat, yaitu Dadih atau Dadiah untuk problematika stunting di Indonesia. Sindy juga menggunakan pakaian adat berupa alat penutup kepala khas Minangkabau, sebagai bentuk representatif Indonesia.

“Saya menyukai kegiatan konferensi ilmiah lintas negara, keberagaman perspektif dan pengalaman lokal dari peserta lain membuat sense of wonder dalam diri saya untuk belajar lebih keras lagi,” terang anak kedua dari pasangan Bapak Edy Sungkawa dan ibu Rosdiana Indah itu melalui saluran telepon.

Sementara itu, Sekprodi PAI, Drs. Rusdi Jamil, M.Ag. saat diwawancarai oleh kontributor FITK menyampaikan selamat atas pencapaian prestasi yang telah diraih oleh mahasiswanya,  ia juga berharap prestasi yang diraih mahasiswanya itu menjadi inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa lainnya.

”Saya sebagai Sekprodi PAI mewakili keluarga besar Prodi Pendidikan Agama Islam mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih Sindy Indah Oktavia. Prodi PAI bangga terhadap prestasi yang ke sekian kalinya diraih Sindy. Semoga prestasi dari mahasiswa lainnya untuk tingkal lokal, regional, nasional, bahkan internasional bisa semakin bertambah,” pungkas pria kelahiran Solok, Sumatera Barat itu. (MusAm)