Dosen FITK dan Ushuluddin UIN Jakarta Petakan Potensi dan Kebutuhan Pengembangan Pesantren Terpadu Al Musthafawiyah Bogor
Dosen FITK dan Ushuluddin UIN Jakarta Petakan Potensi dan Kebutuhan Pengembangan Pesantren Terpadu Al Musthafawiyah Bogor
Tangerang Selatan, BERITA FITK Online—Tim dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dan Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Pondok Pesantren Terpadu Al Musthafawiyah, Megamendung, Kabupaten Bogor, Sabtu, 8 Agustus 2026. Mengusung tema “Mengembangkan Mutu Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Potensi Alami dan Kompetensi Santri”, kegiatan ini diarahkan sebagai tahap awal pemetaan kebutuhan sekaligus penjajakan program pendampingan berkelanjutan antara FITK dan pesantren.
Berbeda dari kegiatan pengabdian yang langsung menawarkan program pelatihan tertentu, kegiatan kali ini diawali melalui Focus Group Discussion (FGD) untuk mengidentifikasi persoalan, kebutuhan, potensi, dan peluang pengembangan pesantren. Pendekatan tersebut dipilih agar program lanjutan yang dirancang para dosen tidak bersifat asumtif, tetapi benar-benar berangkat dari kebutuhan nyata lembaga mitra. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–16.00 WIB tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Terpadu Al Musthafawiyah, Pasir Muncang, Jalan Cikopo Selatan, Sukakarya, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tim PkM dipimpin oleh Prof. Dr. Ratna Sari Dewi, S.Pd., M.Pd., dan melibatkan dosen lintas program studi di lingkungan FITK, yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), serta Manajemen Pendidikan (MP). Selain Prof. Ratna Sari Dewi, tim terdiri atas Dr. H. Ahmad Dardiri, M.A.; Dra. Mahmudah Fitriyah ZA., M.Pd.; Dr. Erba Rozalina Yulianti, M.Ag.; N. Lalah Alawiyah, M.A.; Dr. Maswani, M.A.; Dr. Iin Kandedes, M.A.; Neneng Sunengsih, S.Pd., M.Pd.; Dr. Ahmad Royani, S.Ag., M.Hum.; Dr. Erta Mahyudin, M.Pd.I., M.Pd.; Dr. Khalilah, M.Pd.; dan Dr. Hj. Yuminah R., M.A.Si. Kehadiran dosen dari sejumlah disiplin tersebut dirancang untuk memungkinkan proses pendampingan dilakukan secara multidimensional. Pengembangan pesantren tidak hanya dilihat dari satu sisi, tetapi mencakup pembelajaran keagamaan, bahasa Arab dan bahasa Inggris, pengembangan literasi, manajemen kelembagaan, hingga strategi penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Tim FITK diterima oleh Mudir Ma’had Pondok Pesantren Terpadu Al Musthafawiyah, Dr. Abdul Wafi Muhaimin, MIRKH., bersama jajaran pengelola pesantren. Pesantren yang didirikan oleh almarhum Buya K.H. Musthafa Husein Harahap tersebut saat ini berada di bawah kepemimpinan yayasan yang diketuai Usth. Anisyah Harahap, dengan pengasuhan santri dikoordinasikan oleh Ust. Asep Saipunawawi.
Kegiatan dibuka oleh Ustadzah Ummi, dilanjutkan dengan sambutan dari ketua tim PkM dan Mudir Ma’had. FGD kemudian difokuskan pada pemetaan kondisi pesantren, identifikasi tantangan kelembagaan, serta pembacaan terhadap sejumlah potensi yang dapat dikembangkan secara lebih optimal. Ketua Tim PkM, Prof. Dr. Ratna Sari Dewi, menegaskan bahwa pesantren merupakan salah satu mitra strategis perguruan tinggi dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab untuk menghadirkan keilmuan yang dimiliki para dosen agar dapat memberikan manfaat langsung kepada lembaga pendidikan di masyarakat. “Pesantren sebagai mitra pendidikan merupakan bagian dari tanggung jawab kita bersama untuk terus dikembangkan. Terlebih pimpinan pesantren juga merupakan bagian dari keluarga besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kami berharap hubungan ini dapat berkembang menjadi kerja sama yang saling menguatkan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam FGD, Mudir Ma’had Dr. Abdul Wafi Muhaimin menggambarkan besarnya amanah pengembangan Pondok Pesantren Terpadu Al Musthafawiyah. Pesantren memiliki sarana, sumber daya manusia, dan kapasitas kelembagaan yang besar, tetapi potensi tersebut masih perlu dikonsolidasikan agar dapat dimanfaatkan secara maksimal. “Ibarat sebuah kapal, pesantren ini sudah menjadi kapal yang sangat besar dan harus terus dibawa berlayar. Guru dan pengurus yang kami miliki cukup banyak, sementara jumlah santri saat ini masih berkisar tiga ratus orang. Padahal, dari sisi kapasitas, pesantren ini memiliki potensi untuk menampung santri dalam jumlah yang jauh lebih besar,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu titik penting diskusi. Para dosen melihat bahwa tantangan yang dihadapi Al Musthafawiyah bukan semata-mata persoalan kekurangan sumber daya. Justru pesantren memiliki modal kelembagaan yang kuat berupa lokasi yang strategis, lingkungan alam yang mendukung, sarana dan prasarana yang relatif lengkap, tenaga pendidik, serta sistem pendidikan terpadu. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikonsolidasikan menjadi kekuatan pengembangan lembaga. Salah satu peserta FGD menilai bahwa Al Musthafawiyah memiliki peluang besar untuk berkembang. “Pesantren ini memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi lebih maju. Sarana-prasarana yang tersedia serta lokasi yang strategis merupakan modal yang nilainya sangat besar jika dikembangkan secara terarah,” ujarnya.
Diskusi selanjutnya membahas beberapa alternatif program yang dapat dilaksanakan pada tahap berikutnya. Di antara kebutuhan yang mengemuka adalah peningkatan kualitas pengelolaan pesantren, penguatan kompetensi pedagogis guru, peningkatan mutu pembelajaran keagamaan, pengembangan kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggris santri, penguatan publikasi dan sosialisasi lembaga, serta pendampingan penyusunan rencana pengembangan pesantren. Perhatian khusus diberikan pada pengembangan bahasa asing. Pesantren diharapkan dapat mengembangkan lingkungan yang memungkinkan bahasa Arab dan bahasa Inggris tidak hanya dipelajari sebagai mata pelajaran, tetapi digunakan secara lebih aktif dalam kehidupan sehari-hari santri. Dalam pembelajaran bahasa Arab, tim dan pihak pesantren juga mendiskusikan peluang pengembangan model yang berangkat dari tradisi keilmuan pesantren. Program lanjutan direncanakan antara lain menyentuh penguatan pembelajaran bahasa Arab berbasis kajian tradisional, termasuk pemanfaatan pendekatan Qira’ati dalam penguatan kemampuan membaca Al-Qur’an dan Al-Miftah dalam pengembangan kemampuan membaca kitab kuning. Pembicaraan tersebut menjadi penting karena pengembangan pesantren tidak diarahkan untuk menggantikan tradisi pendidikan yang telah dimiliki, melainkan memperkuatnya dengan pendekatan pedagogis, linguistik, dan manajerial yang lebih sistematis.
Setelah FGD, tim dosen melakukan peninjauan lingkungan pesantren serta mengamati kondisi pembelajaran dan kehidupan santri dan santriwati. Peninjauan ini memberikan gambaran lebih konkret mengenai sumber daya, fasilitas, dan lingkungan yang dapat menjadi basis pengembangan program selanjutnya.
Kegiatan menghasilkan sejumlah kesepakatan awal. Pertama, akan dibentuk pola pendampingan berdasarkan bidang keahlian dan program studi para dosen. Kedua, FITK dan Pondok Pesantren Terpadu Al Musthafawiyah akan menjajaki kerja sama kelembagaan yang lebih formal. Ketiga, akan disusun program aksi secara bertahap berdasarkan prioritas kebutuhan yang telah dipetakan. Pendampingan selanjutnya direncanakan tidak hanya berbentuk pelatihan, tetapi juga pengembangan program, kajian akademik, penelitian, dan PkM lanjutan. Salah satu fokus yang dipertimbangkan adalah kajian mengenai strategi pengembangan Al Musthafawiyah menjadi pesantren dengan jangkauan lebih luas, serta pengembangan kemampuan santri berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Arab.

Pihak pesantren menyambut positif rencana tersebut dan menyatakan optimisme terhadap peluang pengembangan lembaga melalui kerja sama dengan para akademisi FITK. “Kami sangat optimistis pesantren ini dapat berkembang lebih maju dengan dukungan dan pendampingan para dosen FITK,” demikian harapan yang mengemuka dalam forum.
Kegiatan ditutup dengan pertukaran cenderamata dan doa bersama. Meski berlangsung dalam satu hari, FGD tersebut dirancang bukan sebagai akhir sebuah kegiatan, melainkan sebagai tahap awal program pengabdian yang akan dikembangkan dalam beberapa fase. Melalui kegiatan ini, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan menghadirkan kompetensi akademik dosen secara langsung di tengah masyarakat. Kolaborasi dengan pesantren diharapkan dapat memperkuat hubungan antara kampus dan lembaga pendidikan Islam sekaligus membuka ruang penerapan hasil penelitian dan pengembangan keilmuan dosen untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Bagi FITK, pesantren bukan hanya lokasi pelaksanaan pengabdian, tetapi mitra akademik dan sosial yang memiliki potensi besar untuk bersama-sama mengembangkan model pendidikan Islam yang tetap berakar pada tradisi, sekaligus mampu merespons kebutuhan pendidikan masa kini. (red. EM)