Dua Mahasiswa FITK UIN Jakarta Dilepas Menjadi Guru Bantu di Canberra, Australia
Dua Mahasiswa FITK UIN Jakarta Dilepas Menjadi Guru Bantu di Canberra, Australia
Gedung FITK, BERITA FITK Online—Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung internasionalisasi pendidikan melalui pelepasan dua mahasiswa yang akan menjalankan program Guru Bantu Sekolah di Canberra, Australia. Program tersebut akan berlangsung selama tiga bulan, mulai 15 Juli hingga 15 Oktober 2026.

Acara pelepasan dilaksanakan pada Senin (13/7) di lingkungan FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dipimpin langsung oleh Dekan FITK, Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D., didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Salamah Agung, Ph.D., Kepala Bagian Tata Usaha FITK, serta Bendahara BPP FITK.
Dua mahasiswa yang mendapatkan kesempatan mengikuti program internasional tersebut adalah Fahma Aisyah Putri A dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Abdiel Muhammad Arkananta dari Program Studi Pendidikan Agama Islam. Selama mengikuti program, keduanya akan bertugas sebagai guru bantu di dua sekolah mitra di Canberra, Australia, yaitu Trinity Christian School Canberra dan Islamic School of Canberra. Melalui penugasan tersebut, mahasiswa akan memperoleh pengalaman mengajar dalam lingkungan pendidikan internasional sekaligus memperkenalkan nilai-nilai pendidikan dan budaya Indonesia kepada masyarakat global.
Dalam persiapannya, kedua mahasiswa memperoleh pendampingan akademik dari dosen pembimbing masing-masing. Fahma Aisyah Putri A dibimbing oleh Muhammad Rizal Mahfuzo, M.A., sementara Abdiel Muhammad Arkananta dibimbing oleh Rosida Erowati, M.Hum. Pendampingan tersebut mencakup penguatan kompetensi pedagogik, kemampuan komunikasi lintas budaya, penguasaan bahasa, serta kesiapan beradaptasi dengan sistem pendidikan di Australia.
Dalam sambutannya, Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D. menyampaikan apresiasi atas keberhasilan kedua mahasiswa meraih kesempatan berharga tersebut. Menurutnya, program ini bukan hanya menjadi pengalaman akademik dan profesional bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi bentuk nyata kontribusi FITK dalam menyiapkan calon pendidik yang mampu bersaing di tingkat global.
"Kesempatan ini merupakan amanah sekaligus kebanggaan. Jadilah duta terbaik FITK dan UIN Jakarta dengan menunjukkan profesionalisme, integritas, serta karakter pendidik Indonesia yang unggul. Semoga pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk mengembangkan kompetensi sebagai guru berwawasan global," ujar Dekan FITK.
Sementara itu, Salamah Agung, Ph.D. menegaskan bahwa program internasional seperti ini merupakan bagian dari upaya FITK untuk memperluas pengalaman belajar mahasiswa melalui kolaborasi dengan institusi pendidikan luar negeri.
"Melalui pengalaman mengajar di Trinity Christian School Canberra dan Islamic School of Canberra, mahasiswa tidak hanya belajar memahami sistem pendidikan internasional, tetapi juga mengembangkan kemampuan berkomunikasi lintas budaya, membangun jejaring global, serta menjadi representasi terbaik UIN Jakarta di tingkat internasional," ungkapnya.
Program Guru Bantu di Canberra merupakan salah satu implementasi strategi internasionalisasi FITK dalam memberikan pengalaman belajar lintas negara bagi mahasiswa. Kegiatan ini juga menjadi wujud penguatan kerja sama internasional FITK dengan sekolah-sekolah di Australia dalam bidang pendidikan, pengembangan kompetensi calon guru, serta pertukaran praktik baik pembelajaran.
Melalui keterlibatan langsung di Trinity Christian School Canberra dan Islamic School of Canberra, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi pedagogik, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam lingkungan multikultural, memperluas wawasan global, serta menjadi agen diplomasi pendidikan Indonesia di kancah internasional.
Dengan terselenggaranya program ini, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terus memperkuat komitmennya untuk mencetak calon guru profesional yang tidak hanya unggul di tingkat nasional, tetapi juga memiliki daya saing global serta pengalaman internasional sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21. (SA)
